ReviewReviewReviewarticle on heroismSep 13, '06 5:10 AM
for everyone
Category:Other
“Pahlawan itu tidak Trendy!”

Mempelajari sejarah membuat kita berkenalan dengan nama-nama. Yang secara formal diakui dan diabadikan dalam buku pejaran dan monumen peringatan kemudian disebut sebagai pahlawan. Yang harus diingat, sebagaimana sejarah, kisah kepahlawanan juga lebih banyak dikonstruksi oleh mereka yang menang.

Bagi kebanyakan anak-anak muda, pahlawan bukan cuma sosok orang yang berada di pihak yang menang. Bacaan saya, mereka yang biasanya diidolakan, atau menjadi pahlawan untuk anak-anak muda adalah mereka yang menyuarakan “kebenaran”, atau menjadi corong “kemarahan.” Seringkali sosok-sosok yang bergerak menyuarakan kebenaran dan menjadi corong kemarahan ini justru adalah mereka yang kalah (atau dikalahkan), tetapi semangat perjuangan merekalah yang menjadi inspirasi untuk bertindak. Barangkali pula, perjuangan itu tidak selalu menghasilkan kemenangan, tetapi keberanian untuk menggaungkan perlawanan itulah yang dicatat dan dihargai. Iwan Fals dan Suciwati, dua orang yang pernah menjadi Asian Heroes pilihan majalah Times, mungkin tepat untuk ditunjuk sebagai contoh yang nyata dan menarik tentang bagaimana konsep dan definisi tentang pahlawan acapkali bergerak berlawanan dengan arus utama, dan memberikan ruang bagi mereka yang berdiri di pinggiran. Fenomena yang sama bisa kita lihat pula pada besarnya dukungan yang diberikan oleh kaum muda dari kelompok Islam terhadap Abu Bakar Ba’asyir. Meskipun mereka sering dituduh sebagai “musuh negara”, atau “pengumpul massa”, akan tetapi bagi kaum muda, mereka seperti memberikan gambaran tentang bagaimana hukum bisa menelikung serta bagaimana keadilan harus ditegakkan.

Selain mengikuti dan mencari inspirasi tentang proses menjadi seseorang, atau mencoba mencari tahu bagaimana seseorang menjadi besar karena memperjuangkan apa yang diyakininya, pengalaman mengikuti penelitian tentang “Soekarno di mata anak muda” yang dilakukan oleh KUNCI Cultural Studies Center pada 2001 yang lalu, menunjukkan pada saya bahwa anak-anak muda juga banyak tertarik pada sosok-sosok yang tidak biasa—atau, kadang-kadang disebut sebagai “pemberontak”—untuk mereka posisikan sebagai pahlawan. Selain Soekarno, bisa disebut nama-nama lain seperti Ernesto Che Guevara, Subcomandante Marcos, dan sebagainya. Dalam kasus Soekarno, misalnya, di luar penghargaan yang diberikan atas gagasan dan pemikirannya tentang pembentukan bangsa Indonesia, anak-anak muda lebih banyak mengenal Soekarno dari sisi kisah hidupnya yang flamboyan (kisah cintanya yang romantis seringkali lebih popular ketimbang tindakan-tindakannya yang heroik), atau situasi yang terjadi pada dirinya pada kisaran 1960an. Dalam laporan penulisan atas penelitian tersebut, Antariksa, salah seorang anggota tim peneliti menyatakan:

“Generasi yang lahir setelah 1966 (setelah Orde Baru berkuasa) memang mengalami proses pahlawanisasi yang ambigu tentang Soekarno. Mereka ini adalah generasi yang—berbeda dengan orang tua mereka—tidak mengenal Soekarno secara langsung, tidak mengalami langsung hidup di bawah sebuah negara yang dipimpin oleh Soekarno. Mereka ini—lewat orang tuanya, keluarga, sekolah, buku pelajaran, media mass, organisasi kepemudaan dan sebagainya—diwarisi nilai-nilai tentang kehebatan Soekarno. Tetapi oleh Orde Baru sekaligus mereka juga diwarisi nilai-nilai yang melihat Soekarno sebagai simbol kekuatan politik yang berbahaya.”

Paragraf sebagaimana terkutip diatas menegaskan banyaknya ambiguitas yang muncul berkaitan dengan persinggungan anak-anak muda zaman sekarang dengan sosok Soekarno. Tidak bisa tidak, ambiguitas ini muncul karena sumber dan referensi mereka tentang pahlawan yang dijuluki sebagai Bapak Pendiri Bangsa ini merupakan instituasi yang tidak independen dan tidak bebas nilai. Tumbuh dewasa dalam masa ketika rezim kekuasaan terus menerus berusaha menghapuskan memori warganya, dan menawarkan fiksi baru atas sejarah, anak-anak muda ini seolah tak punya kesempatan dan akses untuk menelusuri gagasan Soekarno tentang Indonesia. Buku-buku pelajaran sekolah, tempat dimana apa yang disebut sejarah ini diseleksi dan ditanamkan ke dalam ingatan, nyata-nyata telah menjadi sebuah wilayah dimana negara menanamkan lupa (bukan melawan lupa, sebagaimana yang dikatakan Milan Kundera). Sumber yang lain, media massa, memberikan nada muram yang sama. Sensor ketat yang diberlakukan pada pemerintahan Orde Baru membuat media massa harus jeli memilih berita-berita mana yang bisa membahayakan dan mana yang tidak. Kisah tentang Soekarno, bisa diduga, merupakan satu bahan yang rawan.

Sumber yang relatif tidak dicekam sensor adalah lingkungan keluarga. Dalam ruang yang personal semacam keluarga ini, dari ingatan-ingatan yang dimiliki oleh generasi yang sempat bersinggungan secara langsung dengan Soekarno, anak-anak muda kiranya mempunyai kesempatan untuk mendengar kisah yang sedikit berbeda. Beberapa narasumber dalam penelitian yang tersebut di atas menyatakan bahwa perkenalan mereka dengan Soekarno yang paling mengesankan memang didapatkan dari orang tua atau kakek-nenek mereka. Dalam ruang keluarga, anak-anak muda, terutama yang tumbuh besar di lingkungan keluarga kelas menengah, mempunyai akses untuk membaca buku-buku karya Soekarno, atau buku yang ditulis orang lain tentang Soekarno. Beberapa orang juga beruntung karena keluarganya mempunyai iklim diskusi yang cukup tinggi, sehingga mereka bisa bertukar perspektif tentang gagasan-gagasan Soekarno. Sebut saja Sam, anak muda yang sempat bergelut dalam gerakan mahasiswa pasca 1998. Dalam pengakuannya, “Saya sering terlibat diskusi dengan ayah saya tentang Soekarno. Tetapi saya memandang ayah saya sebagai orang yang cenderung punya fanatisme terhadap Soekarno, jadi seperti tidak bisa menerima sisi-sisi buruk dari Soekarno. Sementara saya tidak ingin seperti itu, sisi-sisi buruk itu harus dipertimbangkan juga, bahkan kita bisa banyak belajar dari sana.”
Jarak waktu yang cukup jauh atas trauma yang terjadi pasca 1966, dan keterlibatan—baik langsung maupun tidak langsung—dalam perubahan politik pada 1988, sepertinya membuat anak-anak muda seperti Sam lebih bisa melihat sosok Soekarno secara proporsional. Sam juga melihat bahwa sekarang ini sosok Soekarno telah dikomodifikasi sedemikian rupa, sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Soekarno, meskipun tidak terlalu populer di kalangan anak-anak muda yang gaul dan trendi sebagaimana Che Guevara, tetap bisa memberikan keuntungan ekonomis bagi para pedagang cinderamata (kaus, poster, pin, dan sebagainya) atau penjual buku-buku yang berkaitan dengan Soekarno. Fenomena ikonisasi Soekarno ini, pada sisi yang lain, bisa menunjukkan terjadinya persilangan antara sesuatu yang selama ini dipandang sebagai hal yang ideologis dengan budaya populer.

Selain sosok anak muda seperti Sam, yang cukup dekat dengan gerakan politik mahasiswa, penelitian yang dilakukan KUNCI Cultural Studies Center itu juga menemukan anak muda seperti Tina, yang pada 2001 itu masih duduk di bangku kelas dua SMA, di sebuah Sekolah Menengah Umum di Bantul, Yogyakarta. Mengomentari banyaknya kaos Soekarno yang dijual di pinggiran jalan, Tina membuat pernyataan: "Iyalah, ngapain juga anak muda pakai kaos Soekarno. Kan nggak jamannya. Yang pakai kaos Soekarno itu kan orang-orang tua. Itupun nggak semua, yang banyak saya lihat itu, tukang-tukang becak. Nggak maulah kita, pakai kaos yang sama dengan tukang becak!"

Dari pernyataan Tina, saya melihat bahwa bagi sebagian besar anak muda masa kini, sosok pahlawan memang sesuatu yang besar, bukan bagian dari hidup sehari-hari, apalagi trendi.

Alia Swastika,
Peneliti lepas
(semua kutipan dari penelitian Soekarno sepenuhnya merupakan milik KUNCI Cultural Studies Center)

Pernah dimuat di Media Indonesia, 11 November 2004



Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help