
Pagi yang muram ini mengantarkan ingatanku padamu
Ketika aku melintasi gedung menjulang
Tempat kita biasa bertukar cerita
Pada sebuah ruang yang kita sebut sebagai "penjara"
Aku teringat pada butir anggur dan segelas wine yang selalu ada di sebuah sudut. Aku suka mengambilnya sembari menceritakan rentetan peristiwa dalam hidupku padamu. Kamu selalu tertawa melihatku ulahku yang kekanakan. Sementara, sebagaimana elektra, aku seperti melihat sosok bapak yang kurindukan pada dirimu.
Dalam waktu-waktu yang berhasil kita curi itu, ada bahagia yang rasanya sulit untuk dikatakan. Aku merasa penuh dan menghayati setiap detiknya. Ah, tapi aku tau, semua ini akan kelak retak dan tak abadi. Tapi, mengapa aku tak boleh lebih lama lagi bersamamu? Sekarang aku percaya bahwa semua yang terasa sedemikian indah memang tak boleh dikekalkan. Cuma mampir jadi kenangan, yang justru terasa lebih indah karena kejujurannya. Aku seperti mencoba melukiskanmu sebagai bidang terbaik dalam hidupku. Kanvasnya tak harus besar, tapi lukisannya bisa jadi sangat indah, karena semua kompleksitas tak sempat mendera kita, sehingga aku masih bisa memegang teguh esensinya.
Langit Houston dan New York akan menjadi horizonmu lagi. Meninggalkan Jakarta yang penuh sesak dan berantakan, yang tak memberimu hidup, sampai katamu, kamu bertemu aku.
Ah, ah, bangunan ini terus menerus membawa kenanganku padamu.