 | Welcome | |
Sometimes you wanna share what you are thinking of to other people, even though you don't know them personally. you just wanna make sure that someone is listening. Hmm... maybe, that's what blogs are for! Welcome!! MITOLOGI BARU INDONESIA UNTUK MASYARAKAT PERANCIS
Tahun 2011 ini ternyata menjelma menjadi tahun seni rupa kontemporer Indonesia di Eropa. Akan ada banyak sekali pameran yang berfokus pada seni rupa Indonesia di beberapa institusi seni penting di Eropa hingga bulan Desember mendatang. Rangkaian pameran itu telah diawali pada 23 Juni 2011 yang lalu, ditandai dengan dibukanya pameran 11 seniman Indonesia di Louis Vuitton Culturel Espace di Paris, Perancis.
Pameran yang dikuratori oleh Herve Mikaeloff ini mengambil fokus pada mitologi-mitologi baru dalam kehidupan masyarakat kontemporer Indonesia. Judulnya “Transfigurations: Indonesian Mythologies”, mencoba menggarisbawahi bagaimana pergeseran kepercayaan terhadap mitos-mitos terepresentasikan pada kenyataan masyarakat masa kini. Transfigurasi juga merujuk pada perubahan yang terjadi berkaitan dengan karakter dan identitas masyarakat Indonesia, terutama pada dua dasawarsa terakhir.
Pameran ini melibatkan nama-nama seniman yang sebagian besar memang sudah memiliki reputasi internasional, selain pula menunjukkan adanya kecenderungan interdisipliner dalam praktik seni di Indonesia. Mulai seniman yang sudah mapan seperti Heri Dono, hingga nama baru seperti Bayu Widodo dan Ariadhitya Pramuhendra, semua bergabung menjadi satu menampilkan wajah baru seni rupa kontemporer Indonesia. Ada pula seniman multidisiplin seperti Garin Nugroho, juga arsitek Eko Prawoto. Nama-nama lainnya adalah Eko Nugroho, Jompet Kuswidananto, Arie Dyanto, Agung Kurniawan, Mella Jaarsma dan Tintin Wulia. Dengan segera, melalui nama-nama yang terlibat dan karya-karya yang ditampilkan, masyarakat Perancis bisa merasakan pergeseran penting dalam proses kreatif seniman Indonesia, termasuk pula pergeseran isu-isu yang direpresentasikan oleh para seniman.
Meskipun ruang pameran tidak terlalu besar, tetapi Louis Vuitton Culturel Espace ini mempunyai reputasi yang sangat baik di kalangan masyarakat seni rupa kontemporer di Paris. Mereka menyelenggarakan pameran skala kecil dan menengah dengan kualitas yang sangat baik, sehingga karya dan gagasan seniman bisa dipresentasikan dengan maksimal. Begitu pula yang dapat dilihat dari pameran “Transfigurations: Indonesian Mythologies” ini, semua karya ditampilkan secara maksimal meskipun karya-karyanya tidak berkesan monumental.
Memasuki ruang pamer, pengunjung disambut oleh karya Ariadhitya Pramuhendra yang merupakan instalasi serupa gereja yang terbakar, yang menjadi provokatif terutama karena lukisan seorang perempuan bertelanjang dada yang berpose seperti penyaliban Kristus. Di sudut ruang yang lain, potret diri seniman dalam pose seperti Pastur menghadap bangku gereja. Karya ini mencoba memprovokasi masyarakat Perancis yang di satu sisi acap didefinisikan sebagai masyarakt yang liberal dan terbuka, tetapi pada sisi yang lain sering menunjukkan sikap-sikap fundamentalis. Pramuhendra membakar piranti-piranti yang menyerupai kursi pengakuan dosa di gereja, menebar abu dan puing kayu sebagai representasi dari memori masa lalu.
Setelah itu, pengunjung menyaksikan instalasi Heri Dono dengan karakter 'malaikat'-nya yang setiap beberapa waktu menebarkan bunyi serupa suara jangkrik. Heri juga menyajikan dua lukisan dalam pameran ini.
Arie Dyanto dan Bayu Widodo mewakili genre 'seni rupa jalanan' dalam pameran kali ini. Keduanya menampilkan drawing dan lukisan yang merepresentasikan situasi-situasi di luar gaya arus utama dalam seni kontemporer Indonesia masa kini, yang tidak dengan mudah ditemui dalam galeri-galeri seni, tetapi lebih diusung oleh ruang-ruang alternatif.
Karya Agung Kurniawan merupakan seri dari drawing yang diolah dengan materi besi, yang secara visual dimunculkan seperti pertunjukan wayang statis. Memanfaatkan pendaran cahaya lampu, karya ini menjadi seperti sebuah gambar surealis yang muram, tetapi juga puitik dan sentimentil. Agung menggambarkan kisah dari pemakaman ayahnya, sesuatu yang terjadi pada masa lalunya, tetapi seperti tak pernah sepenuhnya ia kenang.
Setelah itu adalah instalasi favorit para penonton, berupa jajaran paspor dari Tintin Wulia dari seri karya "Recollection of Togetherness". Pengunjung bisa mengambil undian untuk mencari "kewarganegaraannya", lalu menuliskan namanya di halaman paspor yang sudah diisi dengan cap darah nyamuk. Selain instalasi performatif ini, Tintin juga menyajikan karya baru video yang dibuat sehari sebelumnya di ruang pamer. Banyak sekali pengunjung yang tampak takjub dengan karya Tintin, yang berupaya menggambarkan keberuntungan dan ketidakpastian dalam konsep warga negara. Bagi warga Eropa yang saling terhubung dan makin meniadakan batas, tentu isu yang diusung Tintin menjadi sangat relevan.
Eko Nugroho memenuhi koridor antar ruang dengan muralnya yang banyak membicarakan relasi antar masyarakat di Paris, terutama berkaitan dengan banjir para imigran yang juga meningkatkan kasus kriminalitas dan ketidakamanan sosial. Dengan humor dan model visual yang penuh chaos, Nugroho memenuhi seluruh ruang dengan gambar hitam putihnya yang massif dan meneror persepsi visual kita.
Garin Nugroho, sutradara film yang kini banyak menekuni seni rupa, mempresentasikan instalasi terbarunya yang membahas peran ibu dan dunia peribuan dalam masyarakat Indonesia. Ia menggunakan setrika dan alat tenun untuk merepresentasikan dunia domestik kaum ibu, dan menjuxtaposisikan dengan cuplikan dari film-film yang pernah ia buat yang menggarisbawahi peran ibu. Musik untuk cuplikan film-film ini dikerjakan oleh komposer kenamaan Rahayu Supanggah, memberi nuansa yang makin sakral pada instalasi yang menyerupai sebuah upacara.
Jompet Kuswidananto memutarkan dua video yang membicarakan paradoks modernisme/traditionalisme, sekarang/masa lalu, mesin(isasi)/mistisisme, serta Barat dan Timur. Sementara, di lobi ruang pamer, arsitek Eko Prawoto mendisplay rangkaian bambu-bambu yang menyerupai bangunan permanen, dimana pengunjung bisa masuk ke dalam dan mengamati bambu-bambu itu dari dekat.
Mella Jaarsma mengisi etalase toko di jalan paling ternama di dunia ini dengan instalasi dua orang yang seperti sedang bertengkar. Tubuh keduanya ditutupi jubah yang terbuat dari bordir-bordir kecil yang diambil dari sampul obat kuat yang ditemukan di pasaran bebas. Karya Mella terutama berbicara tentang maskulinitas dan kekuasaan.
Pameran sebelas seniman Indonesia di Perancis ini merupakan langkah awal yang baik untuk menyongsong internasionalisme baru seni rupa. Dengan karya-karya yang jauh dari identifikasi komersial, dan lebih menelisik pada relasi interdisipliner dan inspirasi antropologis dan etnografis pada masyarakat Indonesia, pameran "Transfigurasi: Indonesian Mythologies" ini nampaknya bisa membuka sebuah dialog baru tentang Indonesia masa kini di kalangan masyarakat Paris.
Berada di Venezia bukan sekadar menikmati surga dari cakrawala senja, tetapi sebuah undangan untuk menikmati cara hidup yang lain. Salah satu keunikan Venezia adalah semua orang bergerak dan berpindah dengan berjalan kaki atau menaiki gondola dan boat menyusuri kanal-kanal atau lautan bebas. Bagi orang-orang yang terbiasa dengan mobil atau motor seperti kita di Indonesia, berada di Venezia memang menuntut kita untuk berpikir berbeda tentang cara bermobilisasi.
Hari pertama datang, saya lupa sama sekali tentang ketiadaan kendaraan bermotor ini. Walhasil, saya harus menggotong koper saya dan satu tas lain untuk jarak yang cukup jauh. Ketika melewati jembatan, lumayan juga energinya untuk mengangkat koper naik turun tangga. Dengan cepat, saya mencoba menyesuaikan diri dengan cara pikir ala manusia purba ini. Itu artinya, dalam hari-hari ke depan, saya harus meninggalkan sepatu hak tinggi dan menggantinya dengan sepatu paling nyaman untuk berjalan kaki dalam jarak jauh.
Jika Anda bepergian dengan budget sedikit besar, mungkin sesekali Anda bisa mencoba pergi ke tempat-tempat tertentu dengan memakai boat. Tetapi, jangan salah, sekali jalan, jauh dekat, perjalanan dengan boat akan mengeruk 6,5 euro. Angka yang cukup lumayan untuk turis pas-pasan. Kalau anda cukup pintar dan bisa mengatur perjalanan, tidak selalu perlu menggunakan boat, karena sesungguhnya semua bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak terjauh dari satu sudut ke sudut lain di pulau kira-kira hanya 3 jam berjalan kaki.
Mitos yang paling terkenal tentang Venezia, yaitu gondola, juga sesungguhnya harus dipikir dua kali kalau anda ingin mencoba. Sekarang mereka mematok harga antara 80 hingga 100 euro sekali jalan untuk periode sekitar 20 menit. Well, agak terlalu berlebihan untuk saya. Katanya, ini harga ketika musim turis tiba. Kalau Anda datang pada saat sepi, bisa dapat harga 60 euro dengan proses tawar menawar yang ketat.
Tapi bagi saya, menyenangkan sekali punya pengalaman seminggu tanpa bepergian dengan kendaraan bermotor satu pun! Menyusuri lorong-lorong tua dengan rumah saling berhimpitan, menyeberang jembatan di antara kanal dan sungai, dan menemukan ruang lebar yang selalu disebut sebagai piazza. Terasa pula bahwa bahwa konsep travelling yang semacam ini membuat kita menjadi lebih dekat dengan tanah, mengubah relasi kita dengan bumi dan air. Kita juga bisa lebih cermat melihat semua hal yang dilewati, mulai dari bangunan rumah, restauran, hingga etalase toko yang serba mungil.
Pulau Seribu Gereja Tanpa adanya suara berisik dari lalu lintas kota, kita memang secara tidak langsung mendengar kembali suara-suara yang sehari-harinya sering kita lupakan. Hari-hari saya di Venice seringkali dimulai dari suara burung gagak di pagi hari, dan diakhiri dengan suara dentang bel gereja yang entah mengapa jadi terdengar syahdu. Berbicara tentang gereja, di Venice memang kita menemukan banyak gereja tersebar di seluruh penjuru pulau. Setiap tiga puluh menit, hampir secara bersamaan, seluruh gereja itu membunyikan loncengnya dengan irama yang nyaris seragam, sehingga menciptakan keriuhan yang bagi saya lebih mengingatkan pada apa yang kita sebut upacara. Pada awalnya, bunyi itu terasa mengganggu, tetapi kelamaan, kita menerimanya sebagai bagian dari hidup sehari-hari, barangkali sebagaimana adzan di Indonesia.
Gereja paling terkenal di Venezia tentu saja adalah San Marco. Dari luar, gereja itu terlihat indah sekali. Megah dan kukuh, menyimpan peristiwa ratusan tahun termasuk kisah-kisah kemenangan dan kekalahan. Gereja ini juga menjadi tempat singgah pejalan terkenal milenium pertama, Marco Polo. San Marco dapat dikatakan merupakan pusat dari pulau Venezia. Di depannya terdapat Piazza San Marco, dimana para wisatawan menghabiskan waktu dengan minum kopi di depan kafe-kafe paling terkenal dengan iringan musik klasik yang seperti membawa Anda kembali ke masa lalu.
San Marco juga terkenal karena adanya menara mercu suar tertinggi di Venezia. Karena tak ada bangunan yang setinggi mercu suar ini, gampang sekali mengenalinya. Saya juga terbiasa menjadikan mercu suar San Marco sebagai penunjuk arah. Kalau bingung dan tersesat, saya cari saja pucuk menara, lalu saya akan tahu ke mana saya harus melangkah.
Selain gereja San Marco, banyak gereja kecil di seantero Venezia. Semua sudah berumur setidaknya 500 tahun. Gereja-gereja tua ini menjadi sumber inspirasi utama bagi arsitektur-arsitektur bangunan mediterania pada tahun-tahun setelahnya.
Rumah penduduk dan hotel-hotel untuk pendatang juga mendiami bangunan tua entah bekas kastil atau keluarga saudagar tua. Jangan bayangkan ada hotel modern dengan arsitektur minimalis di Venezia. Tidak ada bangunan tinggi menjulang, yang tertinggi hanya menara lima lantai. Dalam bangunan kecil di lorong gelap itu, para penyuka fashion juga bisa menemukan surga belanja. Mulai dari produk dari desainer lokal hingga butik merek ternama. Ada keasikan sendiri berjalan-jalan di pertokoan tua semacam ini.
Beberapa di antara bangunan bersejarah itu sekarang digunakan sebagai ruang seni, dimana karya-karya penting dari seniman di seluruh dunia. Yang dianggap paling penting dan legendaris adalah Arsenale dan Giardini, dua ruang utama penyelenggaraan Venice Biennale setiap dua tahun. Bahkan salah satu kolektor terpenting dunia, Peggy Gugenheim, sudah membuka museum khusus untuk koleksi-koleksi seninya yang bisa diakses publik. Tahun ini, Prada Foundation, juga membuka museumnya yang menaungi koleksi dari seniman papan atas mulai Damien Hirst, Jeff Koons, Maurizio Cattelan, Subodh Gupta, dan sebagainya. Semuanya menempati bangunan-bangunan tua yang cantik dan punya nilai sejarah.
Kota Pusat Budaya Selain dikenal karena kecantikan panorama alamnya, perpaduan antara cakrawala laut lepas dan kanal-kanal tua, ada banyak hal lain yang bisa digali dari Venezia. Meskipun kota tua, Venezia menyajikan petualangan budaya yang mengasyikkan. Tidak hanya museum dengan koleksi permanen sebagaimana yang sudah saya sebutkan tadi, tetapi juga atraksi penting seperti Venice Biennale yang merupakan pameran seni internasional tertua di dunia.
Setiap dua tahun, kota Venice menyambut pesta terbesar seni rupa global. Giardini, sebuah taman tua yang cantik di pinggir pantai, terutama menaungi pavilion dimana setiap negara menyajikan pencapaian terbaik mereka dalam bidang seni setiap dua tahun. Di Arsenale, sebuah gudang tempat pabrik kapal tertua di Italia, digelar pameran utama yang menampilan semua seniman terbaik yang dipilih oleh kurator pameran. Saya merasa beruntung pernah berkunjung ke pagelaran penting semacam ini, dimana saya melihat bagaimana seni bisa menjadi salah satu representasi identitas budaya sebuah negara.
Selain Venice Biennale, ada pula festival yang sangat penting yang disebut sebagai Venice Carnival. Inilah salah satu atraksi utama sepanjang tahun di Venezia. Ini adalah pesta untuk semua warga dan juga pendatang. Venice Carnival dilangsungkan rutin setiap tahun semenjak 60 tahun yang lalu, terutama untuk merayakan berbagai tradisi Italia untuk pertunjukan-pertunjukan jalanan.
Paolo, salah seorang pemilik restoran pasta tempat saya biasa bersantap, bercerita bahwa Februari atau Maret menjadi saat paling ditunggu bagi warga Venezia karena karnaval itu benar-benar memberi kebahagiaan untuk semua orang. Sepanjang hari, orang-orang dengan berbagai dandanan aneh berlalu lalang, mulai dari kostum prajurit Romawi Kuno hingga perempuan dari luar angkasa. Mereka berpesta, menebar tawa sembari menunggu senja tiba. Wisatawan biasa boleh juga ambil bagian dalam karnaval ini. Saya jadi paham mengapa di seluruh antero Pulau Venice, banyak sekali kita temui toko kecil yang menjual kostum atau aksesoris yang biasa dipakai pada saat karnaval. Yang paling banyak adalah kostum prajurit atau sesuatu yang berbau hantu.
Menurut Paolo, pada saat Venice Carnival, jumlah wisatawan meningkat tiga kali lipat dari musim libur biasa. Pada saat itulah ia akan kebanjiran rezeki. "Yang paling gila adalah turis Rusia. Mereka sebagian besar adalah orang kaya baru yang suka menghamburkan uang untuk anggur mahal atau makanan enak. Mereka juga tidak pernah keberatan dengan harga."
Pada saat karnaval, biasanya gedung opera atau gedung pertunjukan menampilkan pula pertunjukan tari atau musik dari kelompok papan atas dunia. Untuk bisa menonton, kita harus memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Kalau on the spot, pasti kehabisan deh. Nah, kalau tidak berhasil mendapatkan tiket, jangan khawatir, banyak sekali musisi dan performer di sekujur jalan yang ciptaannya tak kalah menghibur. Sebagian merayakan tradisi musik klasik Eropa dengan gubahan sedikit kontemporer di sana sini.
**** Berbicara tentang tradisi, tampaknya Venezia disengaja sebagai pusat pelestarian budaya Italia. Seluruh bangunan, ritual gereja, dijaga sebagai atraksi utama untuk para wisatawan. Bahkan sampai makanan, semuanya memang khas Italia. Hampir setiap hari selama di Italia saya menyantap pasta atau pizza dengan berbagai variannya. Restoran Paolo, yang letaknya dekat dengan San Marco, menjadi andalan karena letaknya strategis dan harga tidak terlalu mahal. Untuk sepiring pasta, di restoran sederhana, minimal anda membayar 10 sampai 18 euro. Untuk pizza margarita, satu loyang besar kira-kira 8 euro.
Memang sulit sekali mencari restoran Cina di Venezia. Teman saya percaya itu adalah bagian dari cara melestarikan budaya Italia. Ada beberapa restauran Asia, tapi jumlahnya mungkin kurang dari lima di seluruh pulau. Sebagian restoran Italia justru dikelola oleh imigran Cina, yang saya rasa agak aneh karena biasanya orang Cina ya membuka restoran Cina di Eropa. Karena merupakan wilayah dekat laut, makanan dengan sentuhan rasa ikan atau seafood merupakan rekomendasi utama jika anda di Italia.
Tradisi italia yang lain yang membuat saya selalu senang adalah minum es krim. Siapa tak kenal istilah gelato yang digunakan untuk menyebut es krim yang dibuat manual? Rasanya enak sekali minum es krim aneka rasa sembari melihat burung-burung camar beterbangan di laut bebas.
Setelah lepas senja, jangan lupa melewatkan waktu di kedai kopi. Tentu saja, tradisi kopi terbaik di dunia dengan mudah bisa Anda temukan di sini. Espresso, capuccino, machiato, semua merupakan kekayaan tradisi Italia yang paling mempengaruhi dunia. Sebagai pecinta kopi, saya memang menemukan Italia seperti surga di bumi. Di semua tempat, kopi rasanya enak sekali. Di Venezia, memang semua terasa penuh kenikmatan hidup: menyeduh kopi, makan pasta terbaik, es krim yang rasanya tak terlupakan, serta pemandangan yang memikat. Ah, seperti saya tak ingin pulang. Camar-camar itu seperti berteriak meminta saya kembali ketika kapal saya bergerak menuju stasiun Santa Lusia. Saya berjanji dalam diri, untuk kembali suatu saat nanti.
Singapore Bienale 2011: Membuka Tanpa Peta
Ruang Rupa, kelompok seniman berbasis di Jakarta, satu-satunya seniman Indonesia yang berpartisipasi dalam Singapore Biennale 2011, kali ini membangun museum kecil tentang Singapura di selasar bawah National Museum of Singapore. Karya yang diberi judul "Singapore Fiction" ini dimaksudkan untuk membangun semacam museum kecil Singapura dalam narasi-narasi subversif, berdasarkan fakta tertentu yang mereka dapatkan dari surat-surat kabar. Berkelana mengelilingi pasar-pasar lawasan di Singapura, mereka mencari dan menemukan artifak-artifak 'sejarah' dan mengonstruksikan makna-makna baru pada benda-benda itu. Buku cerita, perabotan, film dan musik lawas, disusun sedemikian rupa hingga memberi ruang baru dan tafsier baru atas Singapura.
Karya Ruang Rupa termasuk satu di antara beberapa karya yang cukup berhasil membahasakan tema 'Open House' yang dirancang oleh tiga kurator biennale ini: Matthew Ngui (Singapore), Trevor Smith (Australia), dan Russel Storer (Australia). Tema 'Open House' dimaksudkan untuk membaca kembali keterkaitan praktik-praktik kesenian dengan kehidupan keseharian, dan bagaimana lingkup seni bisa 'membuka diri' terhadap silangan-silangan baru dan terhadap kecenderungan kontemporer dalam keseharian. Secara khusus, mereka ingin mengaitkan proses penciptaan dengan relasi-relasi sosial yang riil untuk kasus masyarakat Singapura.
Sebagian seniman diundang secara khusus selama dua atau tiga minggu untuk melakukan observasi atas masyarakat dan lanskap-lanskap fisik dan sosial Singapura, dan melihat kemungkinan untuk mempertemukannya dengan karakter praktik keseniannya sendiri. Karena itulah, beberapa karya terasa terlalu berpretensi untuk berbicara tentang Singapura (termasuk karya dari seniman Singapura sendiri) dan justru seperti masuk dalam jebakan gagasan tentang identitas yang berkesan esensialis. Beberapa seniman memang lepas dari jebakan ini dan menempatkan Singapura lebih sebagai konteks yang berbeda dari proyek seninya yang lain ketimbang menginvestigasi singapura sebagai subjek baru.
Selain Ruang Rupa, projek-projek pertemuan dan konstruksi identitas ini misalnya dilakukan oleh seniman Thailand Arin Runjang. Ia mengundang para pekerja Thailand yang tinggal di Singapura untuk datang membawa sesuatu yang mereka bawa dari kampung halaman di Thailand dan kemudian menukarnya dengan produk dari IKEA, sebuah perusahaan multinasional yang memproduksi perabotan dan alat rumah tangga. Pada ruang pameran, ia membuat semacam 'ruang duduk' yang semua diisi oleh perabotan dari IKEA dimana pengunjung Biennale bisa beristirahat. Runjang ingin berbicara tentang simbol identitas yang diseragamkan, dan dimanipulasi oleh gagasan komodifikasi global.
Ada pula Mark Salvatus (Filipina), “Wrapped Traces”, yang membuat proyek memori tentang benda-benda keseharian. Ia mengundang masyarakat untuk datang ke situs-nya, dan membawa benda-benda personalnya untuk mereka cetak dan gambar di tembok. Sepanjang tiga minggu, Mark memenuhi sketsa yang dibuat oleh masyarakat itu dengan pola tertentu yang ia desain.
Projek berbau Singapura lain dibuat oleh Rosiham Ismail aka ISE, “Secret Affair”, yang bercerita tentang makanan dan pola konsumsi manusia yang mengundang enam keluarga Singapura untuk mengisi kulkas dengan makanan-makanan seharga 200 dollars. Dari apa yang mereka beli, kita bisa memetakan bagaimana setiap keluarga mempunyai pola konsumsi makanan yang berbeda berdasarkan latar belakang budaya dan sejarah keluarga yang berbeda.
Yang cukup spektakuler adalah karya “Frequency and Volume” dari seniman Meksiko Rafael Lozano-Hemmer, yang membuat karya berkaitan dengan sejarah situs Bandara Kallang dan menggabungkannya dengan teknologi imaji digital dan sensor, sehingga pengunjung bisa bermain dengan bayangannya untuk menghasilkan efek audio visual.
Diikuti oleh 63 orang seniman dari berbagai negara, Singapore Biennale yang ketiga ini memang terasa lebih kecil lingkupnya dari dua biennale sebelumnya. Diorganisir oleh Singapore Art Museum, Biennale ini mengambil ruang di lima lokasi yang berbeda yakni di bangunan utama Singapore Art Museum itu sendiri, 8Q Singapore Art Museum, National Museum of Singapore, Old Airport Kallang dan ruang terbuka di dekat Patung Merlion. Selain Airport Kallang, keempat lokasi lain lokasinya cukup dekat sehingga memungkinkan pengunjung untuk berjalan kaki dan menyelesaikan biennale ini dalam waktu satu hari.
Selain projek-projek yang berbau Singapura, beberapa karya lain lebih terlacak sebagai turunan mutakhir dari genre-genre mutakhir di seni rupa kontemporer global. Sebagaimana biasa, karya-karya media baru selalu mendominasi ajang seperti Biennale. Dalam Singapore Biennale kali ini, kita bisa menyaksikan karya kelompok Denmark, Superflex, yang belakangan ini merajai berbagai ajang biennale dan triennale di seluruh dunia. Kali ini mereka memutar karya video Floating McDonnald. Cukup menarik, tetapi terlalu verbal dan kurang radikal seperti karya-karya mereka lainnya. Ada pula karya seniman Jill Sandman dari irlandia yang memanfaatkan teknologi CCTV untuk berbicara tentang akses orang biasa terhadap rekaman-rekaman gambar yang dibuat terutama di ruang-ruang publik.
Karya Min Wong, “Devo.Partire.Domani/I must go.tomorrow.”, seniman Singapura yang dua tahun lalu meraih penghargaan di Venice Biennale, bagi saya termasuk yang paling menarik dan paling artikulatif. Mempertahankan konsepnya tentang imaji visual dalam film dan konteks-konteks sosial politik yang mempengaruhi semua elemennya. Kali ini Min Wong menabrakkan konteks Italia dalam imaji film-film mafia dengan gestur dan bahasa Singapura dan mempertontonkannya secara simultan dalam 5 layar besar dengan posisi yang memungkinkan kita melihat semua gambar secara bersamaan.
Karya yang cukup naratif dan lebih bersifat dokumenter tetapi menyajikan cara pandang yang sangat menarik misalnya dari Candice Breitz (Canada) yang menampilkan 7 layar video berisi wawancara dengan para kembar, tentang orientasi seksual, pandangan politik, gaya hidup, dan sebagainya yang secara menarik menunjukkan relasi-relasi genetis dan psikologis dengan pandangan dunia seorang individu.
Di Singapore Biennale kali ini kita juga dapat menikmati karya seniman Amerika Martha Rosler, yang dikenal dengan kecenderungan politisnya terutama berkaitan dengan kepemilikan ruang dan tanah, serta akses publik terhadap ruang terbuka dan isu perumahan kota. Di Singapura, Martha membuat plang-plang bangunan yang memberikan indikasi terhadap semakin tergerusnya ruang public untuk proyek-proyek pembangunan, termasuk didalamnnya pembangunan monument-monumen kebudayaan demi kepentingan identitas nasional.
Meskipun cukup menikmati karya-karya seniman secara terpisah, tetapi saya cukup kepayahan untuk menggabungkan sedemikian banyak karya ini dalam satu gambaran besar yang bisa memandu saya untuk melihat relasi-relasi gagasan yang berserak di sana. Sebagaimana yang sempat saya singgung, ada kecenderungan kurator untuk meminta seniman melakukan interaksi langsung dengan Singapura, baik masyarakatnya maupun Singapura sebagai sebuah entitas, maupun sebagai lanskap dan ruang geo-politik. Karya lain berusaha membuka diri agar proses dan praktik kesenian bisa dibaca dan dilihat orang masyarakat banyak. Tetapi banyak pula karya-karya yang keluar dari dua jalur utama ini, baik dalam hal tema maupun pendekatan artistik.
Di luar itu, beberapa ulasan pameran menyebutkan bahwa dibandingkan dua Biennale yang sebelumnya terasa bahwa Biennale kali ini terasa lebih konseptual. Tentu saja, seni konseptual masih menjadi genre penting dalam peta seni rupa dunia. Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa definisi tentang seni konseptual sendiri selama ini terlalu dipaksakan pada sejarah seni Barat yang tentu sangat berbeda dengan konteks Asia, misalnya. Satu dekade terakhir mencatat bagaimana Asia mempunyai pendekatan sendiri terhadap seni konseptual, yang menurut saya lebih bisa bertaut dengan audiens-nya, masyarakatnya, terutama karena kedekatan habitus dan latar belakang budaya. Karya Robert Macpherson (Australia), Stuart Ringholt (Australia) dan Leonor Antunes, misalnya, bagi saya lebih cocok sebagai karya yang dipajang di ruang alternatif atau pameran museum ketimbang karya dalam sebuah biennale.
Menghabiskan dana publik yang besar (saya mendapat bocoran, kurang lebih 6 juta dollar singapura), saya berpikir bagaimanapun harus ada kepentingan audiens yang bertaut dengan selera estetika kurator. Banyak di antara karya-karya seniman, terutama mereka yang berasal dari sejarah seni “Barat”, berbicara tentang konflik dalam seni itu sendiri, atau upaya mendekonstruksi makna seni, dengan bahasa-bahasa visual yang hanya dipahami oleh lingkup seni sendiri. Beberapa karya juga terlalu berjarak dengan realitas audiens. Pameran kaliber Biennale dan Triennale, saya kira harus lebih memikirkan kembali soal jarak dan ketertautan ini, terutama menimbang bahwa peran public dalam memberikan kontribusi pendanaan di dalamnya.
Ketika berkunjung ke India beberapa waktu lalu, selain terkejut oleh dinamika seni kontemporernya yang sedemikian pesat, saya juga mengagumi betapa banyaknya perempuan yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan seni kontemporer di India, baik itu seniman, curator, penulis, juga para pemilik galeri. Jika di banyak tempat seni selalu dilihat sebagai sebuah medan sosial yang maskulin, maka kenyataan di India menunjukkan bahwa melalui kualitas-kualitasnya yang barangkali lebih terasa feminin, para pelaku seni di India ini justru menunjukkan bahwa mereka bisa memberikan perspektif dan cara bertindak yang lain yang barangkali lebih efektif dan kreatif!
Hari pertama tiba di Mumbay, salah satu kota terpadat di dunia itu, saya dan Mella Jaarsma mesti melalui petualangan seru di atas bajaj yang membawa kami ke arah Bandra. Konon, Bandra ini seperti kompleks tinggal para seniman yang berdiam di kota Mumbay. Meskipun disebut sebagai daerah yang baru berkembang, tetapi di Bandra kita bisa menemui bangunan-bangunan tua peninggalan Inggris yang terasa cantik dan terasa menyimpan banyak sejarah.
Bajaj kami berhenti di depan sebuah bangunan yang dari luar tampak berantakan. Sebenarnya saya tak percaya bahwa teman kami, seniman terkenal India, Shilpa Gupta, tinggal di tempat seperti itu. Tapi karena alamatnya sudah benar, kami masuk saja mengikuti petunjuk. Wah, ketika sudah di dalam, terasa bahwa studio Shilpa terasa sangat tertata. Kami pun mulai berbincang tentang projek-projek Shilpa yang diciptakannya dalam kurun waktu lima tahun terakhir, semenjak pertama saya melihat videonya dalam Asia Contemporary Art Week di New York, 2006. Shilpa sejak lama telah tertarik melihat isu militerisme, yang kemudian dikembangkannya menjadi beberapa isu turunan seperti kekerasan, pendisiplinan, konflik sosial horizontal, dan sebagainya. Karya-karyanya selalu mengandung dimensi kedalaman, meskipun dalam pilihan strategi artistik yang terkesan sederhana.
Lahir tahun 1977, yang berarti usianya masih 34 tahun, Shilpa sudah melanglang buana dan menjadi salah satu seniman muda di India yang paling aktif diundang dalam pameran-pameran internasional paling bergengsi. Ketika kami berkunjung, ia sedang bersiap untuk bergabung dalam pameran seniman India di Museum Pompidou, Paris, Perancis. Belum lagi undangan-undangan untuk pameran di Moskow Biennale, dan pameran tunggalnya di Linz, Australia. Saya kira, Shilpa adalah salah satu seniman Asia dengan prestasi yang paling mengesankan di generasinya.
Shilpa berkarya dengan berbagai medium berbeda. Selain berfokus pada seni media baru, dimana ia banyak menggunakan piranti elektronik dan alat perekam digital, Shilpa juga senang mengulik teknologi-teknologi sederhana yang ia temukan dari aplikasi hidup sehari-hari. Ini semua berhubungan dengan isu-isu sehari-hari yang ia paparkan dengan cara puitis dalam karya-karyanya.
Setelah bertemu Shilpa, kami menemui Shireen Gandhi. Saya mendengar namanya sebagai seorang legenda dalam seni rupa India. Shireen mewarisi galeri dari sang ayah, yang pada saat itu lebih banyak mempromosikan karya-karya modernist. Kemudian, sekitaran akhir 1980an, Shireen mengambil alih bisnis keluarga ini dan membuat haluan baru dengan memasuki era seni kontemporer di galeri-galeri komersil di India. Menempati sebuah ruang di Jehangir Art Center, sebuah ruang seni paling penting di Mumbay, Shireen mulai bekerja bersama generasi seniman baru di India yang sekarang menjadi pejuang-pejuang garda depan seperti Hema Upadhay, Anant Joshi, Atul Dodiya, dan sebagainya.
Setelah lima belas tahun bekerja dalam ruang yang kecil tetapi sangat menantang dan bersejarah, Shireen memutuskan untuk membangun ruangnya sendiri di daerah Collaba, dengan desain baru yang cocok dengan visi baru seni kontemporer India. Sekarang ini, setidaknya Shireen bekerja sama dengan 20 seniman paling berpengaruh di India, dan juga berupaya untuk terus menemukan bakat-bakat baru yang akan menjadi benih bagi seni rupa India di masa depan. Chelmond Gallery selalu menampilkan seni-seni garda depan yang memberi dan menghamparkan wacana baru, khususnya untuk pelaku seni di Mumbay.
Selain aktif menyelenggarakan pameran, Shireen juga secara rutin mengikuti art fair-art fair terkemuka di seluruh belahan dunia, misalnya Scope Miami (Amerika), Art HK (Hong Kong), Fiac (Perancis), Frieze (Inggris), Art Bassel (Swiss) dan sebagainya. Shireen memang gigih mempromosikan seni India di kancah internasional sekaligus memperluas jejaring dengan museum dan lembaga budaya yang berpengaruh di dunia. Ia terlibat dalam pengorganisasian pameran-pameran penting seniman India di museum-museum internasional.
Selagi masih mengagumi Shireen, sepintas saya juga bertemu dengan Nancy Adjania dan Arhshia yang belakangan mencuat karirnya sebagai kurator. Nancy menulis banyak ulasan mengenai karya-karya seniman mapan seperti Atul Dodiya, Shilpa Gupta, Barti Kher, dan nama-nama lain untuk penerbitan internasional. Bersama suaminya, Ranjit Hoskote, yang merupakan pemain kunci dalam seni rupa India dalam kancah dunia sekarang ini, Nancy banyak terlibat menjadi konsultan untuk pameran internasional. Tahun ini, ia menjalani program residensi setengah tahun di museum Utrecht. Ia tertarik pada isu-isu gender dalam kerangka filsafat seni dan konteks sosial politik masyarakat India kontemporer.
Sementara Arshsia, yang lulus sejarah seni dari Cornell University, New York, menjadi figur penting yang menjembatani galeri dan institusi komersial dengan inisiatif-inisiatif yang lebih mengarah pada soal wacana. Ketika kami berada di sana, ia sedang menggelar pameran cukup besar yang melibatkan kurang lebih 25 seniman India, di hall Jehangir Art Center, Mumbay. Ia mencoba membaca kembali tiga ikon identitas nasional India: Dewa (Agama), Cricket dan SATU LAGI. Praktik kuratorial yang cukup menarik meskipun saya merasakan adanya banyak keterbatasan berkaitan dengan pengaturan ruang dan pemajangan karya.
Dua orang kurator lain yang sempat kami temui di India adalah Suman Gopinath dan Annapurna. Mereka berdua berbasis di Bangalore, sebuah pusat budaya lain di provinsi Karnataka. Suman banyak bekerja dengan institusi museum di Swiss dan sempat mengorganisir sebuah pameran besar berjudul "Horn Please" yang melibatkan hampir 50 seniman India dan menghasilkan satu publikasi yang saya kira penting untuk mempelajari sejarah seni kontemporer India. Pada 2007, Suman sempat belajar kuratorial selama enam bulan di Goldsmith College di London yang menguatkan jaringan kerja Eropanya.
Sementara Annapurna, yang belajar selama 18 tahun di Amerika, lulus dari jurusan arkeologi dan sejarah seni di Columbia University, New York. Selain melakukan kerja kuratorial, Annapurna juga mengelola sebuah lembaga riset skala kecil yang ia harapkan dapat menjadi benih bagi pusat arsip seni India. Lingkupnya tidak hanya seni rupa, tetapi juga musik, sastra, film, seni pertunjukan dan bidang-bidang lain yang terkait.
Sebagai seorang kurator, saya sendiri merefleksikan pertemuan saya dengan mereka dalam pandangan dan perspektif yang sangat inspiratif. Saya merasa dipacu untuk mengembangkan jaringan-jaringan internasional yang jika dibandingkan dengan India kita memang terasa masih sangat jauh. Saya melihat bahwa jaringan persaudaraan perempuan (sisterhood) yang terasa sangat kuat di India membuat atmosfer yang berbeda, yang jauh dari intrik dan konflik berkaitan dengan arogansi.
Kembali pada seniman-seniman perempuan India, selain Shipta, kami sempat mengamati pula seniman dari generasi yang berbeda. Kami beruntung sempat menonton pameran tunggal dari salah satu seniman perempuan paling terkemuka, Bharti Kher, di Galeri Sky, Bangalore. Ruang galeri yang cantik itu diisi dengan instalasi-instalasi Kher yang terasa domestik tapi juga puitik. Selama ini, Bharti Kher dikenal dengan karya-karyanya yang banyak berbicara tentang posisi perempuan India dalam ketegangan antara tradisi dan modernitas. Sekarang ini, Kher selalu dianggap sebagai salah satu seniman India paling berhasil, bersama dengan suaminya, Subodh Gupta yang merupakan ikon India baru.
Seniman lain yang menarik adalah Anita Dubai, yang sempat membuat kuliah umum yang sangat menarik mengenai pengaruh marxisme dan sosialisme dalam seni kontemporer India. Pada awal 1990an, bersama Nalini Malani, Dubai menjadi generasi awal seniman-seniman perempuan India yang terlibat dalam peristiwa seni internasional seperti Asia Pacific Triennale, Fukuoka Triennale, Venice Biennale, dan masih banyak lagi pameran di museum seni internasional.
Dari kelompok yang lebih muda, bisa disebut Shaina Anant, yang sebagaimana Shilpa banyak bekerja dengan teknologi multimedia dan imaji digital. Shaina tahun 2009 yang lalu berpartisipasi dalam Sharjah Biennale dengan membuat proyek kontroversial mengenai akses masyarakat biasa terhadap rekaman-rekaman dari CCTV yang dipasang di ruang-ruang publik. Tahun ini ia kembali ke Sharjah untuk mempresentasikan proses dan penemuannya dalam proyek dua tahun silam itu.
Selain mereka, kita masih bisa menyebut daftar panjang nama-nama seniman India. Anju Dodiya, misalnya, sekarang ini juga masuk daftar seniman yang paling sukses di daftar penjualan dan grafik harga lelang di kalangan seniman Asia. Nalini Malini hingga sekarang terus menyelenggarakan pameran tunggalnya di lembaga-lembaga seni yang penting.
Saya merasakan bahwa atmosfer seni yang lebih berimbang, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas, di antara seniman laki-laki dan seniman perempuan, membuat suasana berkesenian terasa tidak didominasi oleh satu kelompok mayoritas. Para seniman perempuan sendiri juga mendapatkan akses-akses yang sama tanpa harus lekat dengan identitas gendernya. Dalam hal ini, tampaknya kita harus sungguh-sungguh belajar banyak dari India.
Siapa yang menyangkal jika banyak orang menyatakan betapa sekarang ini Singapura, negara terdekat kita yang sedemikian kecil itu, sedang melakukan usaha ekstra keras untuk menjadi pusat bagi infrastruktur seni di Asia Tenggara? Selain kehadiran museum dan event pameran sekelas Biennale, belakangan dilakukan pula upaya untuk menumbuhkan market seni melalui beragam jenis Art Fair.
Yang baru saja dilangsungkan dan mendapatkan sambutan yang cukup baik dari dunia seni internasional adalah Art Stage Singapore 2011 pada 12 hingga 16 Januari yang lalu . Mengambil tempat di Marina Bay Sands, convention center, sebuah kompleks hiburan paling mutakhir di Singapura, Art Stage menjanjikan ajang seni yang dikelola profesional. Art Stage ini diprakarsai oleh enterpreneur seni kelas kakap Lorenzo Rudolf yang sudah dikenal sukses dalam penyelenggaraan Art Bassel, Sh Contemporary, Art Paris, dan berbagai peristiwa seni lain yang berhasil mencatatkan dirinya dalam peta seni kontemporer dunia.
Diikuti oleh hampir 150 galeri seni terbaik, terutama dari kawasan Asia, saya melihat Art Stage ingin menunjukkan diri sebagai ajang temu bagi pelaku seni Asia. Tentu saja, sebagian besar juga mencoba membandingkan Art Stage dengan Art HK, ajang serupa yang telah terlaksana 3 kali di Hong Kong semenjak 2008. Art HK memang dinilai sangat sukses dan bahkan belakangan disebut-sebut sebagai barometer bagi galeri seni di Asia. Bagi saya, setelah berpartisipasi dalam dua ajang ini, saya melihat bahwa ada scope berbeda yang bisa saling mengisi di antara keduanya. Art HK memang sukses menjadi ajang internasional besar yang membawa Asia dalam peta dunia. Sementara Art Stage pada akhirnya lebih menjadi ajang temu bagi pelaku industri seni di Asia. Dan, saya kira, tanpa memosisikannya sebagai subordinat, saya melihat bahwa dengan menempatkannya dalam posisi ini, Art Stage akan lebih punya fokus di masa mendatang.
Sebagai salah satu pemain besar dalam seni rupa Asia, tentu saja kehadiran galeri Indonesia memberikan kontribusi dinamika yang cukup penting dalam ajang ini. Ada 9 galeri yang turut serta dalam ajang ini: Ark Galerie, Gallery Canna, Edwin's Gallery, Langgeng Gallery, Linda Gallery, Nadi Gallery, Gallery Semarang, Umah Seni, Vanessa Art Link. Sementara Platform 3 dan Vivi Yip Artroom membuka booth di special project section yang dikhususkan untuk mempromosikan seniman-seniman muda. Jumlah yang cukup banyak ini membuat galeri-galeri Indonesia cukup bisa diposisikan sebagai entitas penting dalam pergerakan seni rupa Asia. Selain Indonesia, tentu saja kita masih bisa menyebut Cina dan India sebagai negara yang banyak mewakilkan galeri dan senimannya. Selain itu, bisa disebut beberapa galeri dari Malaysia (seperti Valentine Willie Fine Arts dan Richard Koh Fine Arts), Filipina (the Drawings Room), Thailand (100 Tonson), Hongkong (Osage Gallery) atau Taiwan (Eslite Gallery, Project Fulfill) juga menampilkan keragaman dinamika seni Asia. Hampir semua seniman papan atas Indonesia seperti Nyoman Masriadi, Agus Suwage, Mella Jaarsma, Heridono, Eko Nugroho, hingga seniman dari generasi yang lebih muda seperti Wiyoga, Wimo Ambala Bayang, Agan Harahap, dan sebagainya. Meskipun tak banyak jumlahnya, kehadiran-kehadiran galeri besar dari Eropa dan Amerika seperti Marlborough Gallery dari New York dan Emmanuel Perotin dari Paris, atau Primo Marella dari Milan, memberikan bobot yang cukup berarti pada penyelenggaraan Art Stage yang pertama ini. Apalagi keragaman medium yang ditampilkan juga membuat Art fair ini terasa sebagai toko serba ada yang menuntut pengunjung energi yang cukup untuk mengitari area hampir seluas 3000 meter persegi ini.
Penyelenggara tampaknya cukup peka dengan mengadopsi kecenderungan-kecenderungan peta seni kontemporer yang melihat art fair tidak melulu sebagai ajang jual beli, melainkan pula sebagai ajang yang 'terkurasi', serta menjadi ruang bagi pertukaran gagasan-gagasan seni terkini. Tak hanya menampilkan pameran-pameran dari galeri partisipan, dalam Art Stage pengunjung juga dapat menyaksikan projek khusus yang cukup spektakuler seperti karya Ai Wei Wei atau pameran khusus bertajuk "Remaking the Everyday Life" yang dikuratori oleh kurator terkemuka Singapura, Eugene Tan. Ini memang membuat sebagian pendapat, misalnya seperti yang disampaikan Charles Esche kurator dari Van Abbe Museum dalam kuliah umumnya di Yogyakarta awal Januari lalu, menjadi seperti sulit terbantahkan: bahwa sekarang ini, ada tumpang tindih dan saling koneksi antara peristiwa-peristiwa seni macam art fair yang dulunya dituding hanya sebatas komersial dengan peristiwa lain seperti Biennale Triennale yang dulu merepresentasikan dunia wacana. Apalagi, sepanjang dilangsungkannya Art fair ini, hampir setiap hari panitia juga menyelenggarakan forum diskusi yang membahas berbagai kecenderungan dan tren seni rupa global dengan pembicara yang cukup punya reputasi. Jadi, bayangan tentang art fair yang seperti bazaar rasanya kini sudah sedemikian berubah.
Karya Ai Wei Wei: Underconstruction, memang menjadi salah satu karya yang paling mencuri perhatian. Konstruksi-konstruksi kayu yang cukup massif, ditopang oleh meja-meja antik, sebuah pendekatan yang belakangan menjadi salah satu ciri khas Wei Wei, dengan segera membuat orang terpukau, terutama karena gagasannya untuk melihat seni dalam perspektif arsitektur dan ruang. Selain karya Wei wei yang cukup massif, saya juga menikmati perjalanan menyaksikan karya-karya dalam skala yang lebih sederhana. Salah satu favorit saya adalah karya seniman muda Taiwan, Wu Chi Tsung, yang membuat instalasi berbahan kotak plastik bekas kemasan, disusun-susun menyerupai kota dan dikombinasikan dengan teknik sederhana tentang cahaya dan bayangan, sehingga karyanya punya dimensi new media, walaupun ia tidak menggunakan teknologi canggih seperti proyektor.
Seniman Indonesia, Melati Suryodarmo juga menyajikan presentasi karya yang menarik dengan dokumen-dokumen foto dan video dari aksi performans yang dia lakukan. Booth kecil ini hampir penuh dengan foto-foto berukuran A4 yang diframe putih bersih, yang terutama merupakan dokumentasi gambar diam dari karya Melati. Hampir di seluruh gambar yang terpajang, kita bisa menyaksikan bagaimana Melati secara terus menerus, hampir dengan keras kepala, mempersoalkan konsep dan pemahaman atas tubuh. Sebagian dari foto itu memperlihatkan bagaimana tubuh diperlakukan secara ekstrem, dikeluarkan dari kenyataan sehari-harinya yang dianggap normal.
Karya seniman Indonesia lain, Wiyoga Muhardanto, juga menjadi magnet menarik. Sudah beberapa tahun ini Wiyoga bekerja dengan pendekatan mempermainkan konsep-konsep tentang apa yang asli dan apa yang tiruan, dan bagaimana kita acapkali menerima kenyataan visual sebagai sesuatu yang terberi. Karyanya untuk Platform pada Art Stage 2011 ini menampilkan kesegaran pada tema terutama karena kenakalannya untuk membuat benda-benda tiruan dari seluruh properti yang biasa ditemukan pada saat persiapan Art Fair.
Tak kalah menarik adalah karya seniman Jepang Takashi Kuribayashi yang menciptkan ruang dengan hutan buatan. Pengunjung harus berjalan menunduk dan memasukkan kepalanya ke sebuah lubang untuk bisa mengintip dan pada akhirnya menemukan kenyataan visual yang berbeda di atasnya.
Bagi saya, di luar situasi-situasi market yang lesu dan cenderung melemah beberapa bulan terakhir ini, Art Stage memberikan potensi menarik yang memungkinkan seniman untuk mencari referensi baru dan melihat trend terbaru berkaitan dengan pendekatan artistik, tema dan projek-projek seni terutama dari kawasan Asia. Ternyata, di luar dugaan, banyak juga seniman top seperti Takashi Murakami, David Lachapelle, Yoshitomo Nara, Ronald Ventura, yang datang ke acara tersebut. Boleh dibilang, dalam skala Asia, Art Stage berhasil menjadi ajang reuni yang mempertemukan banyak pelaku seni Asia dalam suasana yang cukup intensif.
Bagaimanapun, jika kita berbicara Art Fair, pada akhirnya kita bicara pula tentang market yang riil. Sebagian besar peserta dari Indonesia mengaku puas dengan hasil penjualan di Art Stage. Tampaknya tidak ada galeri yang pulang dengan tangan hampa. Misi memperkenalkan seniman Indonesia ke lingkup yang lebih luas di Asia pun sebagian bisa tercapai terutama karena jumlah pengunjung yang di luar dugaan cukup memenuhi target. Apalagi beberapa galeri tampaknya juga berhasil menginisiasi kerjasama-kerjasama yang lebih panjang dengan galeri di luar negeri terutama dengan tujuan memberikan eksposure yang makin luas untuk seniman. Saya kira, dengan kondisi geografis Indonesia yang sedemikian dekat dengan Singapura, ajang semacam ini harus diakui punya manfaat cukup besar untuk meletakkan Indonesia dalam posisi lebih penting di peta seni dunia. Dengan ambisi Singapura menjadi, hub, atau pusat, tampaknya kita bisa berupaya mengambil keuntungan juga dengan posisi sebagai tetangga.
Sopir taksi selalu memberi cerita menarik buat saya. kadang mereka tampil sebagai pahlawan penyelamat, kadang-kadang sedemikian menyebalkan. Nah, selepas Khan, sebagian besar saya bertemu dengan tukang-tukang taksi yang tak bisa berbahasa Inggris dan suka dengan seenaknya menurunkan kami di sembarang tempat karena mereka tak tahu jalan.
Ketika tiba di bandara Bangalore, kami menumpang taksi yang lebih lumayan ketimbanng tqksi di mumbay. karena saya sangat mengantuk, akhirnya saya tidur di sepanjang perjalanan yang lumayan jauh dan macet. alhasil, bangun-bangun saya sudah masuk pusat kota bangalore.
Saya tidak pernah berpikir tentang kriket dan posisinya yang demikian penting dalam masyarakat india sampai akhirnya saya mendengar cerita supir taksi kami. Saat itu, kebetulan pula, di India sedang berlangsung kejuaraan dunia cricket di Bangalore. Sopir taksi kami bercerita bahwa sehari sebelum kami tiba, mereka mulai menjual tiket pertandingan, dan hampir semua orang berdesak-desakan untuk menonton pertandingan cricket itu. Bahkan, ada dua korban jiwa tewas selama antri tiket itu.
wah sumpah deh, selama dia bercerita, saya sendiri tidak terbayang pertunjukan macam apa kriket ini sebenarnya. Apakah semacam softball, basebal, atau apa? Rasanya kok malah terdengar mirip badminton. :-P
Kami melewati stadion kriket yang megah di Bangalore, tempat kejuaraan dunia nanti akan berlangsung. Saya kira, dari penjelasan sopir taksi tadi, stadion ini telah jadi semacam tempat ibadah masyarakat india. Dan saya kemudian berkesempatan menyaksikan ritual-ritualnya: ketika musim pertandingan, hampir suasana jalanan terasa sepi, karena semua orang ada di depan televisi. Mereka sedemikian rajin menyimak pertunjukan, termasuk mengikuti gosip-gosip tentang pemain kriket yang sekaligus jadi selebritis papan atasnya. yah, semacam orang-orang Indonesia membicarakan irfan bahdim lah.
Sehari-harinya, dimana-mana kita juga melihat orang-orang bermain kriket di lapangan kota, atau dimanapun ada tanah kosong. Ini memang seperti sesuatu yang dirayakan betul menjadi identitas nasional. Tentu ini merupakan bagian dari kenyataan bahwa mereka dulu bekas jajahan inggris, dan kriket memang sangat populer di negara-negara bekas jajahan inggris.
Setidaknya, pulang dari India saya melihat bahwa selalu ada hal-hal semacam ini yang menyatukan orang di setiap negara dan di setiap kebudayaan. di luar institusi dan birokrasi formil yang menyatakan bahwa mereka adalah orang india, kecintaan mereka terhadap kriket adalah salah satu penanda lain bagi mereka untuk menunjuk diri sebagai anggota sebuah bangsa.
Hmmm.... sekarang ini, apa yang kita punya untuk menunjuk kita sama ya? "My name is Khan."
Rasanya semacam kalimat perkenalan untuk menjadi quote paling menarik sepanjang perjalanan pendek saya ke India kemarin. Tukang taksi perlente itu seperti menjadi penyelamat untuk hari kedua kami yang penuh jadual. Saya tidak menyangka bahwa kesan pertama saya akan negara berpenduduk terbanyak kedua di India itu betul-betul merujuk pada Bolywood.
Sebelum bertemu Irman Khan, si sopir taksi gelap, saya dan Mella sudah berpetualang dengan taksi dan bajaj resmi ala Mumbay yang membuat kami nyaris putus asa. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di bandara Chavapatti Mumbay, saya sudah agak shock dengan soal-soal birokrasi dan komunikasi dengan orang-orang di sana. Karena saya ingin mencoba menggunakan jsa visa on arrival yang baru diluncurkan bulan lalu, saya dengan santainya melenggang tanpa visa ke arah imigrasi. Alamaaaak, ternyata visa on arrival ini baru selesai nyaris 3 jam lamanya. Saya nyaris tak sabar dibuatnya. Tahu begitu lebih baik mengurus visa di Jakarta saja!
Mengendarai taksi tanpa pendingin udara, dengan model mobil yang ketinggalan zaman, dimulailah petualangan kami. Saya sulit menuliskan perasaan saya tentang bagaimana saya berupaya untuk menghalau stereotip-stereotipe yang saya punya. Lalu lintas yang kacau balau, kamar hotel yang busuk, lanscape yang kotor tak terbayangkan, adalah suguhan sehari-hari yang menemani tiga hari saya di Mumbay.
Sebagian besar pengendara bajaj dan sopir taksi tidak bisa berbahasa Inggris dan tidak tahu arah. Biasanya teman-teman kami membantu dengan memberikan arah, tetapi lebih sering kami tersesat tanpa bisa berkomunikasi dengan orang-orang. Waktu banyak terbuang percuma karena hal ini. Apalagi, sebagai kota besar dengan jumlah penduduk 27 juta orang, Mumbay terbentang di sepanjang pantai, dimana sudut kota satu dengan lain terasa sangat jauh. Jadilah kami menembus kota, dari ujung utara ke ujung selatan, dari barat ke tenggara.
Di dalam bajaj yang terbuka, kami mendengar betapa riuhnya jalanan kota ini. Semua orang seenaknya saja memencet klakson. hampir di semua bak truk ada tulisan, "Horn Please! OK?" hahahaha. Lucu deh. Dan jangan salah, yang namanya highway di sini, yang biasanya bebas hambatan itu, tetap saja penuh dengan motor dan bajaj. Kacau balau.
Dan mitos tentang sapi itu memang nyata. Di tengah lalu lintas yang sibuk dan riuh, kadang-kadang kita bisa menemukan sapi melenggang dengan tenang. Mereka juga sering tidur di trotoar menunggu matahari sedikit redup.
demi alasan kenyamanan, selama beberapa jam kami menyewa taksi sedikit mewah yang dikendarai Khan. Dari dalam sedan ber-AC itu, kami menyaksikan kampung-kampung kumuh di pinggiran India. Ah, di tengah gerutu yang hampir tak habis tentang Jakarta, saya merasa ternyata kita sedikit lebih baik. Setidaknya kita lebih pandai berdandan dan berpura-pura, menyembunyikan borok-borok kota.
 Two Opposite Scopes
The enormous burden borne by the contemporary art these days, I think, lies in its tendency to be conceptual. Ever since the idea about conceptual art becomes dominant in art discourses, international art events have used concepts as their bases, and often the portion assigned for the concept is greater than the form itself. Within the last ten years, art events such as biennales and triennials invariably present the latest achievements in terms of the concept, indicating the latest development in global art. I think it is such tendency that makes biennales and triennials often become events that are welcomed and celebrated only by their own audience, and only rarely does the general public truly enjoy such events. Apparently, many curators today have become aware of this situation and designed new biennale concepts with which the general public can better relate.
My trip to Taipei in the beginning of last October provided me with the opportunity to compare two different “kinds” of biennales. The first was Taipei Biennale, held at the Taipei Fine Arts Museum September 17th to November 2010, and the second was the Kuandu Biennale, held at the Kuandu Museum of Contemporary Arts, Taipei National University of Arts, October 8th to December 27th 2010. Compared with the Taipei Biennale, the Kuandu Biennale is indeed still very young, as this was only their second biennale.
My involvement with Kuandu Biennale has been made possible due to their idea to open a space for dialogues between the artists, critics, curators, and other actors in the art world in Asia. I came along with Agustinus Kuswidananto a.k.a Jompet, who was invited as a participating artist. Interestingly, every artist would be able to choose his or her own curator and develop the concept for a solo exhibition in the provided space. This is possible because the number of participating artists at the Kuandu Biennale ranges from ten to fifteen participants each time the biennale is held. That is why I believe that the event has been designed as a “boutique” biennale.
In 2010, along with Jompet from Indonesia, there were other artists with increasing stature in the Asian region, such as Song Dong (China); Tomoko Yoneda (Japan); Vertical Submarine (Singapore); Tu Pei-Shih (Taiwan); Yuree Kenzaku (Thailand); Nguyen Trinh Thi, Nguyen Minh Phuoc, and the Propeller Group (Vietnam); Lee Kwang-Kee (Korea); Chiu Chao-Tsai (Taiwan). There were also curators such as Mami Kataoka from Mori Art Museum, Tokyo, who mostly took part in the discussions about the new tendencies that we saw dominant in the exhibition.
With most of the Biennale participants around 25 to 35 years old, we could strongly sense how they use fresh approaches, whether in terms of their themes or their aesthetic approaches. With the chosen theme of “Memory and Beyond”, almost all the works in the biennale were able to present the issue of memory laden with historical complexities and the respective context that had been the basis of their creative space, whether in terms of their cultural, historical, personal memories, and other spatial possibilities.
Their small number enabled them to optimally use the available space, while keeping the whole exhibition airy. Every artist occupies a quite large room of their own, so they can present more than one works. With such a strategy, visitors to the exhibition had ample space and time to enjoy and comprehend the works. I myself feel that such spaciousness enabled me to have more time to observe the details of the works, and thus become more involved with the narratives contained in the works.
The work by Tomoko Yoneda, a Japanese photography artist residing in London, for example, felt quaint yet poetic. It reveals how memories are represented through architecture and through the living room of a family residence. The series is intended to present three Japanese-style architectures constructed during the Japanese colonial period: the residence of General Wang Shu-ming, the Chief of Staff under Chiang Kai-Shek’s regime; the house of the Japanese Governor-General’s daughter constructed during the Japanese colonial period; and a Japanese-style architecture located in Beitou, once called the Hakone of Taiwan and well-known for its hot springs. Despite its quaintness, one can sense that each and every object in the work speaks in a distinct language about memories of the Japanese occupation within the contemporary Taiwanese society. The work by Yuree Kenzaku also speaks of memories in a more personal point of view, and related with family history. The work by Song Dong, interestingly represents personal memories about the histories of objects, using a manual recorded video projected on four large screens. Each of them tells small history of human relation with everyday objects.
Meanwhile, the works by Tu Pei Shih (Taipei), Jompet Kuswidananto (Indonesia), Nguyen Trinh Thi, and Nguyen Minh Phuoc (both from Vietnam) speak of the overlaps of personal memories and how each individual in the society contributes to grand narratives and the unfolding of history. The War of Ghost by Jompet forms part of a series in tracking down the syncretic Javanese identity. There are 15 figures wear royal soldier costume, that strongly shows the influence of Dutch (European) culture by the form of the hat, trousers and boots combines with Javanese traditional motif of fabric used as the top. Jompet also presents drumband which is from West, playing Javanese pattern of sounds.
In this exhibition, the work is presented along with the series of video works, Third Bodies, showing the life of a contemporary Javanese family, a product of the syncretic heritage. In their works, we are able to see how significant climate and cultural changes creep in and affect the live of commoners.
Nguyen Thrinh Thi (Vietnam) recorded the funeral ceremony of a very wellknown poet in Vietnam, but shoot only the faces of people who attended the ceremony. By looking at their expression intensively, we slowly realise how important is a hero's position amongst common people since the carry the hope of people.
This personal yet political kind of works shows the interest of artists to explore history from the point of view of a commoner, avoiding all the “ism” concepts or phenomena whose monikers begin with upper cases.
I enjoyed this small-scale biennale, which was far from being a grandiose event. The intense encounter with the works on display gave rise to a sense of being able to read what is happening in the Asian societies these days and how the society provides a space for the issue of memory. This was very different from another biennale held in Taipei, which precisely seemed to create a definite distance with the audience. Hongjohn Lin and Tirdad Zolghadr served as the curators of the Taipei Biennale 2010. In their curatorial introduction, they explained that the Taipei Biennale this year was held with the awareness to revisit the position of biennales in general, in the context of the development of art discourses. They used as their point of departure such fundamental questions as: What are the conditions of production a biennale creates; What can you do with a biennale that you cannot do with anything else; Is there a way to use the biennale more precisely, more effectively?
The curators then fine-tuned the theme to talk about the politic of arts. The invited artists were asked to submit shrewd opinions about the issues of contemporary art, especially in relation to radical breakthroughs with the medium, concept, and structure in the creation of art, or to the system of art that has become so dynamic within the last decade. To make the exhibition more specific, the curators invited artists who had been involved in the previous Taipei Biennale. In total, there were 24 artists with 38 presented works. Interestingly, the work of each individual artist had indirect relation with those of other artists.
Upon entering the Taipei Fine Arts Museum, visitors found themselves face to face with a work of installation by a rising Denmark group: Superflex. They arranged a huge number of bottle crates, from which bottles of beer were distributed during the opening and when an “art lecture” was held at the Google Office space. The project, initially developed by the artist group and students at Copenhagen IT University, applies open source methods to beer. The recipe and branding elements are published under a Creative Commons license (Attribution-ShareAlike 2.5), which means anyone can use the recipe to brew their own or create a derivative. And, surprisingly, all those bottles of beer then being on display during the Biennale.
Meanwhile, the Google Office itself is a work by Michael Portnoy (USA). He created a space of almost 300 m2, resembling the office of Google that is famous for its coziness, complete with a lecture space, rest area, work area, play area, kitchen, and a luxurious lobby, enabling the visitors to embark on many different activities while watching the works by other artists.
Another work that is based on the idea of space and conceptual art is presented by the artist from Taipei, Shi Jin-hua. He auctioned the space that he acquired in the biennale to galleries or museums. He put advertisements in soma magazines so other art space knew about this action. On the due date, the artist called all the bidder to do silent auction. The entire process of the auction, along with other documents, was presented in the biennale as the work itself. Other spaces were used by the winners of the auction (i.e. three galleries), who displayed modernist-style paintings and several classical drawing works.
Most of the works presented on the Taipei Biennale 2010 appear to be a bit taxing for the visitors. It would be quite difficult to understand the artists’ ideas if the visitor did not have sufficient background knowledge about the contemporary art. Some of the works were a bit easier to understand especially because of the media that the artists used or because the approaches were quite narrative. An example of this is the work by Christian Jankowski, who humorously employs the style of a fortune teller reciting predictions about the future to artists. The video was made to resemble the TV advertisement for fortune telling. There was also a work by Jao Chia-en, titled Statement, presenting statements of artists that had been recorded and subsequently re-conveyed by others, using the analogy that the artist had used when examining the role of artists in the society. In the work, the artists are presented as students, laboratory workers, policemen, civil servants, etc.
***
As the two events were held simultaneously, I was forced to compare these two biennales, which had actually been designed with opposite concepts. I see that both events tried to make the biennale a space for nurturing ideas, by inviting smaller numbers of artists, enabling more profound exchanges and discourses. In the case of the Kuandu Biennale, with such intense involvement between the artists and the curators, the dialogues took place well and were productive. It is possible, however, that this is quite a subjective observation, considering the fact that I myself was involved in the biennale as participant, while at the Taipei Biennale I positioned myself as a mere visitor.
Strong art events or artwork, I think, invariably try to engage with the audience in an exchange of ideas, although it might only happen on a certain level. I felt that the Taipei Biennale was a bit lacking in opening such spaces of dialogues, as the discourse presented was quite elitist in nature and most people would not understand it. Held in a museum where the lay the audience would come in quite a large number, the choice of theme and approach were not quite spot-on. The works, and the issues conveyed, would be better suited to alternative art spaces.
photo: Agustinus Kuswidananto, Long March to Java #6, mixed media installation, 2010
 Dalam sebuah makan malam kecil di hari pertama 2011, saya dan teman saya, seorang kurator Inggris/Australia yang sekarang bermukim di Singapura, memetakan sedikit perjalanan kami di tahun 2010. Hari itu saya dengan penuh semangat memasak kari ayam dan tumis tempe tahu kacang panjang untuknya. Wah, saya tidak menyangka dia lahap sekali makan sampai nambah dua kali. hahaha. Sembari makan kami berbincang tentang rencana di 2011, dan saya bilang padanya bahwa saya akan mengunjungi London untuk pertama kalinya bulan Maret nanti. Dia bilang, kenapa saya ingin ke London. Saya bilang, tentu saja, karena itu kan salah satu pusat seni dan saya ingin melihat apa yang terjadi di sana. Dia bilang, London sekarang terlalu kelabu dan tidak banyak hal penting yang terjadi. Di Asia, menurutnya, justru sekarang berlangsung banyak perubahan penting dalam peta seni yang seharusnya lebih saya perhatikan. Saya bilang, karena saya tinggal di Asia hampir di seluruh hidup saya, dan tidak terlalu sering juga pergi ke 'Barat' maka perjalanan2 kecil itu masih saya perlukan untuk membuka peta. Apalagi, setelah saya refleksikan, saya menghabiskan waktu saya keliling Asia di tahun 2010. Saya sama sekali TIDAK pergi ke Amerika atau Eropa sepanjang tahun. Dan yah, bagi saya Asia memang masih terus menarik untuk diamati. Ketika magang di New York dulu, saya memilih di Asia Society karena saya ingin melihat bagaimana Asia dibaca oleh orang-orang diluarnya. Dan saya mendapat pelajaran cukup banyak dari sana. Berbekal pengalaman dan pengetahuan dari Barat itu, saya membaca Asia. Ini sangat berbeda sebelum saya pergi ke Eropa/Amerika. Dulu, spektrum saya tentang Asia lebih sempit dan bersifat regional, sekarang saya melihat Asia sebagai bagian dari dunia. Saya pergi ke Lima Biennale di Asia sepanjang 2010. Gwangju Biennale, Media City Biennale, Busan Biennale, Kuandu Biennale, Taipei Biennale. Ini sendiri merupakan perjalanan yang melelahkan dan memancing banyak pemikiran untuk saya. Saya menemukan betapa karya-karya seniman Asia, sekarang ini cenderung jauh kompleks dan berpaut dengan isu-isu yang dengan mudah mengundang empati dan keterlibatan penonton. Bagi saya ini selalu menjadi elemen penting dalam karya kontemporer. Di antara kelima biennale itu, hanya 2 yang dikuratori oleh Kurator Asia sendiri, yaitu Kuandu Biennale dan Media City Biennale. Saya juga berkunjung ke HK Art Fair, Korean Art Fair, Singapore Art Fair. Kedua, saya juga memperkuat jejaring di kawasan Asia sendiri. Saya membuat pameran di Malaysia, Taipei, Singapura dan Hong Kong sepanjang 2010 ini. Dulu, kesempatan berkunjung ke sesama negara Asia tidaklah sebesar sekarang. Sebagian besar funding datang dari Amerika ataupun Eropa, sehingga kami lebih sering bertemu di luar benua. Tiga tahun terakhir, saya merasa dinamika Asia semakin cepat dan pertemuan-pertemuan regional makin sering terjadi. Bertemu dengan banyak seniman Asia, yang muda maupun yang senior, dan melihat bagaimana peta serta proses kerja mereka, saya masih yakin bahwa Asia akan menjadi pemain utama dalam lingkup seni lima tahun mendatang. Kurator-kurator Asia, terutama yang mengenyam pendidikan Barat (baca: New York dan London), sekarang ini juga semakin banyak jumlahnya. Saya bertemu generasi baru kurator yang sebagian besar satu generasi dengan saya, dan kami bertukar pengalaman dan praksis sebagai pelaku budaya di Asia. Yang saya rasakan, membaca sendiri Asia, kami selalu punya perspektif yang sangat berbeda dengan Barat. Kadang-kadang, terasa memang bahwa kurator-kurator bule itu sulit sekali berjarak dengan eksotisisme. Eksotisisme di sini tidak saja berkait dengan bentuk dan pendekatan estetika, tetapi juga pilihan politis seniman. Karena menjadi bagian dari dinamika sosial politik itu sendiri, kami memahami Asia tidak dengan harapan atas dunia yang lain. Bagi kami, Asia adalah realita. Saya sendiri merasa, perjalanan-perjalanan saya ke Asia biasanya lebih sulit ketimbang perjlanan ke Barat. Mungkin, di satu sisi, Barat itu saya definisikan lebih homogen, terutama karena pengaruh Amerikanisasi, sementara Asia lebih banyak variasinya, terutama karena tradisi-tradisi yang masih hidup dan dipercaya. Di Vietnam, dua minggu yang lalu, saya merasa bahwa sering kali saya beradaptasi lebih banyak di Asia ketimbang di Barat. Entah dengan makanannya, dengan bahasanya, dengan budaya dan orang-orangnya, dengan cara pandangnya. Saya tidak bisa memilih mana yang lebih saya suka. Keduanya berbeda. Saya lebih suka berada di tengahnya, dan pada saat yang sama melakukan perjalanan ulang alik menyambangi keduanya. Menutup makan malam kami, sembari menonton pertandingan Roger Federer di televisinya, saya dan Charles menikmati anggur merah yang terasa enak betul untuk lidah saya. Nah kan, betapa hidup saya sendiri ada di tengah kari ayam dan anggur merah. Apa yang lebih menarik ketimbang perpaduan-perpaduan unik semacam itu? WHEN PLAYING IS NOT ONLY A GAME
Not many people paid serious attention to concepts about playing. Playing is always considered to be related to hobby and have no significant value for life practices, only that it gives pleasure. Thus, playing is always related to pastimes, or leisure culture. Recent development had showed the shifting of role of playing as significant element in the creative industry, since this particular field always demands the new-ness, something fresh yet interesting. Younger generation of people has develop their passion on playing and hobby then encourage themselves to use the idea of playing as their main resource or artistic foundation.
Plays: Globality and Locality Observing the artworks of the artists group Tromarama, I am inevitably impressed by how they play. There’s a new proposal on the concept and definition of the game itself. With fresh, humorous approaches that still challenges the imagination at the same time, I see Tromarama is representing a new and more personal approach to art, closer to the subject’s daily character.
The playful artworks of Tromarama enables for an intensive interaction with the audience. Working with three persons behind the screen, they are exploring on things close to their daily lives, with an imaginative approach and demonstrating high skills on technique and media all at once. Several artworks display a deep observation on daily objects with examples shown in Zsa Zsa Zsu that explored on buttons, or Ting* that explored on ceramic cups. A nearly balanced combination between manual hand-works in creating and playing with objects also the skill of processing the images with moving images, making Tromarama video works far from boring or exaggerating.
The ability of Tromarama to choose their approaches, including their seriousness in playing, seemed to be rarely found in other young artists of the same generation. A few times I observed, the artworks of many young artists, especially those who worked after mid-year 2000, what is called as non-political valued produced more arbitrary and incomprehensible artworks. Compared to the previous generation of artists who seriously processed social-political issues and making it a part of alignment and involvement attitude, younger contemporary artists tend to explore personal themes, related to their personal life experiences or reflecting what they see in their surroundings. Some of them successfully display their interpretation of the slogan “The personal is political”. While in term of the forms, they tend to adopt various visual tendencies that easily be found in other parts of the world. Because of the vastness of possibilities being “same and similar”, issues of “multiplied identity” becomes something that accompanies the exploration of the young contemporary artists today.
Now, in my point of view, Tromarama’s artworks seem to summarize the all-complicated demands into one proper and adequate form. Even though most of their works are not talking “the big narrations”, we could see that their works based on concept that is clearly articulated in their artistic practices. What is also important to be noted, working with a medium where globalism and internationalism is something nearly certain, with specific manner Tromarama managed to create an identity with their own way. If most artists are referring to identity as something local, where something local occasionally or simply refers to traditionalism, Tromarama is infact spared from this type of stigma. What so called ‘locality’ thus being reflected from the ideas, background or the narrations they built, not merely in the forms and aesthetic choices. On the choice of medium and narration, we could see in Tromarama’s works, we do not feel a sense of uniformity tendency that recently easily found in the works of young generation of artists. Their visual sensibilities clearly reflect their total involvement in the global youth movement, marked with the do-it-yourself spirit or the fantastic cross between the rebellious and the mainstream, the high art and popular forms.
***** Tromarama’s quick rise in the Indonesian contemporary visual art does feel like giving a new energy for artists of the current generation, especially after they succeeded participating in many exhibitions of the international biennales, submitting their artworks in exhibitions in prominent contemporary art museums in several countries. Recently, they were the first Indonesians exhibiting in the Mori Art Museum Tokyo, Japan. I think their energy and creativity had given a quite important contribution in our contemporary art for the last decade, especially when we’re talking about new media art.
In the development of the market dominated Indonesian art, the absence of an authoritative institution related to the variety of medium and discourses, new media art tends to be seen as a marginal since its beginning until today. Although new media art had proven itself as a footpath to a global art, yet in reality public rarely seen a media art exhibition being organized with adequate quality, and presenting the important position of these medium is related to discourses and the aesthetics.
Their solo exhibition, KIDULT, presented in Tembi Contemporary this time is their first solo exhibition in Indonesia, which I think will be refreshing experience for Yogyakarta audiens because their display models are always interesting, creative and imaginative. In the midst of the bustles of preparing for insistent exhibition invitations, they return with a characteristic humorous irony: since the beginning, we can find from the title they chose. Kidult is a mix of two words; kid and adult, two categories that had always been seen as a binary opposition, standing apart from each other. Yet, in this exhibition Tromarama showed how both are complementary and intersecting categories.
They are recollecting the visual creation techniques learned as kids, as part of school lessons, which was more like a game. After an After, for instance, are created from a series of images worked on with a simple stencil technique, like the one taught at elementary school. Although this artwork speaks about something ‘spiritual’, an image of life after death, yet it was done in a light imagery with many spaces for interpretation. To create this artwork they dig for references from narrations developed in religions, or the scientific approach in science. With a minimalistic inclined visual model, this video shows the skilful handworks of the makers. Life after death is depicted more as imagined fragments, shreds of an event the audience must put together.
The same technique and approach are found in the work Borderless, made with embroidery technique turned into an animation. In this work we are taken in an adventure into the world of imagination that breaks our common order of logics. The concept of time and space is manipulated and played at, so we’re free in deciding how we’re moving and manifest ourselves in a space.
Another video, Wattt?!, utilizes a model of photograph moved using a stop motion animation technique. This video makes use of the daily items in their rented house, by taking the desk lamp as the main character. The nearly six minutes video is exploring elements of lights in our daily live, underlining the contradiction between dark and light, between the game and function.
The adult and the kid, these are juxtaposed not in theme alone, also in approaches. Like they had stated: It turned out from the discussion and experiments, we have deep interests in things that are childish or coming from the world of children. All the childhood memories are coming back in our age which had gone over half a decade.
We miss things that are pure, honest, the feeling of not scared being wrong. Choosing to see something and then mix it with imagination instead of considering and matching it with the already formalized knowledge in mind like adults do.
(e-mail conversation with TROMARAMA)
***** This exhibition underlines the exploration of Tromarama in new media arts, especially related to various visual techniques and possibilities. When most video artists are concentrating on using the camera to record the reality, their effort to keep working with hands is a form of dialectic with technology. Technology is not accepted as something given, but reinterpreted, redisplayed with a new approach. I am thinking, in the midst of the simple narration they develop, I feel this might be a space of rebellion they’re offering. Is technology had created a distance between us and the memory of the past?
Semua orang sepertinya sudah menuliskan refleksi dan pencapaian mereka di tahun 2010. Memang, tahun baru seperti saat paling tepat untuk berpikir panjang tentang rencana dan hal-hal baru yang ingin direngkuh. Saya sendiri masih tergoda untuk membuat list sebagaimana yang biasa saya lakukan. Tapi rasanya masih malas untuk membuat satu list yang sangat serius karena dengan begitu saya harus mengerahkan seluruh kemampuan mengingat yang saya punya.
Tapi saya menandai satu hal penting sepanjang 2010 ini. Saya senang karena saya seperti bisa mengatasi gairah saya untuk berbelanja. Bagi saya, ini pencapaian. Saya memang bukan orang yang termasuk gila belanja sebenarnya, tidak pernah benar2 gila maksudnya. Tetapi, dulu saya suka membeli hal-hal yang pada akhirnya sering saya sesali.
Tinggal di jakarta selama tiga tahun, dengan keberadaan mall di mana-mana, saya sering kali tergoda untuk iseng jalan-jalan, tanpa tujuan membeli suatu apa. Lalu tiba-tiba, atas nama cuci mata, saya pulang membawa dua pasang sepatu, baju atau pernak-pernik kecil yang sebenarnya gampang sekali hilang. Memang, saya lumayan rajin juga menabung, juga tidak langsung stress melihat barang bagus, pada banyak kasus, saya masih bisa berpikir rasional. tetapi tetap saja, saya sering merasa pada akhirnya saya acap menumpuk sampah.
Tahun 2010 ini saya boleh dibilang hidup dalam perjalanan. dalam sebulan, saya bisa dua kali bolak balik jakarta, dan belum menghitung perjalanan ke luar negeri. Saya check paspor, ada 10 cap negara singapura di lembar pasport saya. gilaaa.... Bisa bayangkan, betapa seringnya saya mengunjungi tempat yang sering dibilang surga belanja ini. Memang sih, kadang-kadang saya sulit menahan diri melihat barang murah dengan desain keren di seantero mall singapore. masih saja merogoh receh untuk tas, tank top atau kalung-kalung lucu. Tapi, saya merasa saya sudah bisa berjarak dengan godaan visual yang menerpa mata saya itu.
Pernah saya melakukan perjalanan maraton Hong Kong, Korea dan Taiwan. Hampir semua teman seperjalanan penuh semangat berbelanja. Saya sih santai-santai saja, meski sedikit tergoda. Dan saya sukses, saya tidak membeli apa2 yang mahal kecuali sebuah kaca mata hitam di bandara Changi. hahahaha. Saya juga berhasil menahan diri tidak mencicil membeli Ipad, atau iphone. Barang sudah ditangan, dan saya bisa membayarnya dengan cicilan. tetapi kemudian saya berpikir lagi. Ipad ini semacam ipod touch dengan ukuran diperbesar, untuk apa kalau saya sudah punya ipod yang lebih mobile dan bisa menghibur saya dengan playlist luar biasa banyak itu? Barang akhirnya saya kembalikan.
Setiap kali menolak sesuatu untuk saya konsumsi, secara psikologis saya merasakan kepuasan karena saya bisa mengontrol diri saya. I am not lost. Saya berpijak pada kesadaran tentang apa yang membuat saya ada. Bukankah mereka sering berkata 'saya berbelanja maka saya ada'? Saya tidak ingin seperti itu. Saya tidak ingin aktivitas belanja menyiksa dan mengontrol saya. Sekarang, dengan sedikit terapi menghindari mal, saya bisa menempatkan belanja sebagai sebuah aktivitas yang benar-benar menyenangkan.
Sekarang ini saya selalu membuat prioritas apa yang paling saya butuhkan. Tentu saja, dalam daftar kebutuhan itu masih ada hal-hal semacam: wedges hitam, syal biru, ikat pinggang kulit atau stocking. tetapi saya merasa saya memang membutuhkan juga hal-hal yang berbau fesyen itu, apalagi mengingat pekerjaan saya yang sering tampil di acara publik.
Diam-diam saya sudah membuat list apa yang ingin saya beli untuk 2011! hehehe.... di awal tahun, mumpung masih di singapore, saya bisa mendapatkan perlengkapan rumah yang murah dan menarik. itu yang utama!
Pagi ini, untuk kepentingan pameran yang makin mendesak, saya menempuh perjalanan cukup jauh ke luar kota Singapura. Pagi yang sedikit berkabut, dingin dan kelam. Dengan menumpang bus kota nomor 67, saya menembus lingkar luar Bukit Timah. Ditemani lagu-lagu favorit di playlist ipod saya. Saya selalu suka perjalanan yang macam ini: tenang, jauh, dan membawa saya ke sebuah situasi tak terburu.
Sepanjang jalan, selain melihat keruwetan karena proses pembangunan line subway yang baru, saya senang melihat rumah-rumah suburban di singapura ini. Bentuk rumahnya cantik. Bukan mewah dan berlebihan sebagaimana yang acap kita temukan di Pondok Indah atau seputaran Kedoya, Jakarta. Sebagian rumah-rumah itu masih punya ciri-ciri khas peranakan, yang ditata dan didesain ulang dengan sensibilitas sekarang. Selain itu, saya juga senang melihat kondominium-kondominium di tengah hutan buatan yang hijau.
Memang, di sebagian kota besar, yang disebut sebagai daerah suburban selalu sebenarnya identik dengan kelas menengah. Ini terutama karena daerah suburban dikategorikan sebagai zona hunian, terutama untuk mereka yang ingin membeli tanah dan membangun rumah sedikit mewah. Namanya tanah, di negara-negara sangat maha;, jadi orang-orang yang benar2 kaya saja yang bisa menikmatinya. Juga, karena ada di lingkar luar kota, maka untuk melakukan mobilisasi, orang-orang daerah suburban sangat tergantung dengan kendaraan pribadi (baca: mobil). Dengan harga bensin, ongkos parkir dan pajak yang tinggi, memang tidak sembarang orang memilih punya mobil. Orang-orang yang hidup di dalam kota, biasanya diberikan akses yang lebih mudah untuk menggunakan fasilitas publik.
Kota-kota di Indonesia justru seperti berbalik. Semua daerah di dekat kota selalu mahal, sehingga kelas menengah bawah terdepak ke daerah suburban, yang sebenarnya membuat ongkos hidup makin mahal. Transportasi yang tidak murah, akses ke fasilitas umum yang makin jauh, sehingga cukup menyulitkan.
Sepanjang perjalanan pagi ini, saya menikmati betul menjadi bagian dari kelas menengah kota yang hidup di ruang yang nyaman. tidak ada mobil-mobil bising atau kerumunan yang berlebihan.
Semuanya tentang diri saya, langit biru dan senandung lirih dari lagu-lagu yang saya dengarkan.
Beberapa hari yang lalu, diminta jawaban wawancara sama seorang penulis penting di seni rupa. pertanyaannya cukup menyulitkan saya dan membuat saya berpikir tentang soal-soal yang selama ini mungkin cenderung saya hindari. bagus juga pertanyaan ini datang menjelang akhir tahun. saya punya bahan renungan untuk target di tahun 2011.
ini pertanyaannya: You are some of the younger people working as curators or critics in this region, that is to say the bottom half of South East Asia - Indonesia, Malaysia,Philipinnes, Singapore - the area Sukarno saw as being a greater Indonesia or Malay world. What I want us to talk about is the state of art in they region. What is changing in this area for art? What does the future hold? One thing that struck me when I moved here from London two years ago was the paucity of state support, the dominance of the market and the prevalence of speculation in that market. Working as you do as curators or critics in this context how do you avoid being compromised? Can we begin by addressing this question?I ni jawaban saya:For me, the question is being very though since, as Tony mentioned, I work as curator in commercial galleries. I am feeling like even for me, i have to define the notion of what so called 'compromised' for myself. Calling my self as independent curator, then, in the case of Indonesia, it is very difficult to be independent from market pressure. One of the best practices I can do is to select the gallery, and at the same time, to help them to develop market that is more supportive to be part of art system. Developing market here refers to build circle of collectors who will spend money also to non-commercial projects, as they are the real people who put money to build art infrastructure since the lack support of government and private funding. While what so called support not only about money funding, but also policy and education, I believe that being curator in Indonesia is such big job. The fact that there is no art history department or art management course, We are mostly positioned as part of the source of references, so that we, at least from my experience also, 'educate' and share experiences and knowledge with gallery owners, even collectors. For me, being compromised had begun since I started to be involved and to be part of this 'market' circle. Before, I used to work in a non-commercial art space (Cemeti Art House), where the pressure of market were never be a problem. Taking another step has encouraged me to develop new strategy to arrange gallery programs, to support more young artists and introduce them to art market without pushing them to follow the market's taste, and to introduce established artists mostly in non-commercial projects to new collectors, so they can also survive and produce new works. This is some of a bit scattered thoughts. Will get back if I have more ideas.
Ah, sepertinya jawaban saya masih terlalu naif dan butuh jalan panjang untuk membuatnya jadi lebih terasa efeknya. Tapi sejauh ini, ini jalan yang paling masuk akal buat saya. semoga tahun depan ada jalan2 lain terbuka, dan membuat gagasan ini tidak melulu tampak sebagai jalan berkompromi.
On Camera
by Alia Swastika
In the past five years, photography has gone through a significant development, importantly relating to its role and position in the global visual art. Photography is not only considered in the same position as other mediums, such as painting, sculpture or installation, but more than that, it has transcended to become a main subject of many art scenes in various authoritative institutions in the art world like museums and Biennale/Triennale. The most recent subjects in the art world, in my view, it is also strengthen by the ability of photography to impart meaning and new understanding relating to social reality and visual reality that transpire in our lives.
In the history of the photography development in Indonesia, along with the social political course in the country, photography bears a significant role in its part in political propaganda (utilized by both the ruling government and the status quo, and by the opposition group) for almost half a century, especially through journalism photography. In the last two decades, as the consumptive culture became more cultivated, photography has also a distinguish role in bombarding the society through its visual terror. Gradually, at the same time, as the ethics in the urban society became more matured, photography has also become an actual sign of expressions of individualism and freedom. Photography became a prominent subject in the studies of the socio-cultural field, particularly since the likes of intellectuals as such Roland Barhes, Susan Sontag highlighted the importance of photography as a representation of the cultural context and ‘language’ game in a different form.
The intersection of photography and art (fine art) are mainly influenced by the shifting and crisscrossing of some of those roles. This condition affected the practitioners in photography to rediscover and re-evaluate their true ideological motivation. The more image retouching photography and pure photography become intertwine, I think it is also the more it becomes challenging to distinguish the two. Art then plays a crucial role in that perimeter by underlining the subversive value.
The works from MES 56 artists in this exhibition, “On Camera”, produced by BIASA ArtSpace, are comprehend invaluable in the relation of positioning camera as an ideological tool. We began with the question: “Can works such as these be presented without the existence of the technology of camera, since camera now become one of the main tools of image reproducing?” As a result, the statement On Camera, is altogether a reflection about how individuals in this exhibition, whose daily lives are concentrated with activities in producing and reproducing images. This exhibition can then give a breaking moment in order to define their relationship with their own medium.
Alternative Scene as Subversion
MES 56 was established during the time when the underground movement in the art system is considered as the perfect strategy to realize new initiatives. It was almost in the same period of the MES 56 establishment, that groups of initiative artists, fundamentally came from alternative spaces, were beginning to emerge in cities like Jakarta, Bandung, and Yogyakarta.
Since the beginning, MES 56 has produced at least 40 exhibitions, which among others consist of workshop presentation, artist residency presentation. In the initiatives that are being developed, I observe that MES 56 has placed photography as an alternate approach to “way of seeing”. Their concept is composed of acceptance and understanding of visual reality that are reconstructed.
In the present time, MES 56 has positioned itself significantly in the development of the Indonesian contemporary photography. Its vital role is not merely as the only space that has consistently moves perspectives and alternative approaches in photography, but conversely what I believe is essentially to be noted is that the members’ involvement in issues and visual art practices in general. Having to know the group for more than five years, I observed how its members have developed as individual artists with strong conceptual based as their stepping stone. The open and dynamic interaction in the Yogyakarta art scene, give the possibilities to the interaction of local and global ideas that are in the mainstream and underground, the political and personal, the high arts and popular culture. In my view, this environment has stimulated the photography à la MES 56 to transcend beyond approaches that previously have been considered established. The understanding of photography as a media has brought the members to play with variety of possibilities, both in the areas of idea representation and also visuality. This process is actualized with the mindset of not having to be burdened by the clench of ideology that has always been pivotal for the conventional photography. For the group, the ideology of the camera is a necessity, especially because the technological capability to reproduce and influenced the perspective of many people massively.
As it is mostly found in various of fields which infrastructures are still being developed, and as also in the Indonesian contemporary art, alternatives and subversive ideas from MES 56 have now progressively penetrating into the mainstream. Factually, these artists have now been carrying out exhibitions in contemporary art galleries in art center cities in Indonesia, or all the more, represent Indonesia at International art events, particularly the ones which focus on photography. Inevitably, the emergence of these artists in the mainstream discussion does not automatically made them “the popular”, but on the contrary, because of the wide interval laid between their art practices with the understanding from the public in general, their artworks recurrently end up as a meaningless definition in the avant-garde movement. There are not many audiences who can quickly grasp the fresh ideas they introduce, which principally due to the nature of these ideas openly challenge logics (visual) that are common and prone to our acceptance as something to be an “axiomatic truth”.
The exhibition is primarily trying to open gaps and build bridges of understanding between the public and the practices of contemporary photography, which in turn, photography can be utilized as visual tool to view reality with a different lens.
ON CAMERA: ACTION!!!
Stepping from the same ground—which is questions on camera—the artists investigate visual reality and the complexity of its reproduction. Although commencing with a different personal inclination, in the correspondence to the theme we can perceive their similarities in symbols and visual landscape. It can be said that these artists are interested in the today’s actual reality: a space representation of here and now. In our discussion, I found three categories that can be use to read their works, which are based on the chosen visual approach: narration, representation, and reception. Works that ‘speak’ (narrative), typically try to show visual narrative with plot which disrupt the flow of well-established story, which can be achieved because the camera technology allows us to capture and reproduce visual reality from angles which often the eye misses. Through the camera reality is framed so that narration is cut into sequences which are based on the selected frames.
Edwin ‘Dolly’ Roseno and Agung Nugroho Widhi create narratives that attract each other on what is considered to be natural and manufactured. Manufactured objects are placed as part of the landscape on the basis of natural images, which consequently juxtaposed both elements in a unified frame. To place an object in particular and giving it a statement as a created reality, and then capturing it into a photograph, a photographer had the opportunity to create a new reality.
Eko Bhirowo features hidden narration about the practice of commercial photography and art photography. His hidden narration is prompted from the reality where most of art photographers also perform commercial photography such as pre-wedding photos, family pictures and so forth. Another occurrence is that recently, there is also a tendency that these works are practiced with artistic concept, which then causes vague understanding of function between the two practices.
Meanwhile, on the second category, representation, the works displayed by Woto Wibowo, Jim Allen Abel, and Wimo Ambala Bayang show the result of the visual strategy game of reality played by a camera or other image generator devices. Benefiting from technological ability of a camera to present reality from different perspective alters the reality representation arising from their works. Whereas Wimo plays on perspective and angle shot that resulted in questions about the ‘logic’ of landscapes (which one(s) of the objects stands vertically: is it the traffic sign, or the view of the horizon?), inversely for Jim Allen Abel, he plays with the camera technology capturing detail of an object to present it as a disparate visual imagery. As for Woto Wibowo, he captured a very popular image from the cyberspace, an image that is considered as an icon, and present the image as an ‘artwork’ by embedding it into a new form. Through this touch, his artwork raises disturbing questions in our mind about “who is actually the creator, and what is the limit of creating?”
Perception is something that is commonly seen as an axiomatic truth (taken for granted). Preferentially, it is obvious that perception is a form of reality deriving from a long and complex process which also involve past memories. As such when taken for granted, perception becomes easily manipulated and thus presents an illusion. The works from Anang Saptoto, Abdul Wakhid ‘Akiq’, along with Daniel Satyagraha display a dimension of perceptual games that constitute audience to be actively involved in a game of symbol that arises from this visual image.
**** All of the exhibited artworks in “On Camera” deals with layers of reality that now develops beyond their position as representations of what is here and now, what is actual and recent. The relationship between the layers of reality with the context of lens and camera, questions on memories, reconstruction of the past, and visualization of the future became the main ideas that are put forward by the artists. In the development of technology, the artists demonstrate how easy it is to play with reality: re-create, manipulate, control and freeze moments. What is identified as “reality representation” itself has transformed something into a wider scope; starting from daily practical lives, objects and still life, to landscape and architecture. The broad scope of this visual theme shows similarities and differences of each character as a group, especially their expressions in responding the social theme and cultural landscape of contemporary society.
While underlining the political value of a camera as a medium, and how it is put to use in the contemporary art, at the same time, the exhibition also captures, in a unique way, the current reality of the daily lives in the global society. Consequently, in exploring the possibility of breaking the limit and definition of its function, this artist collective is setting its foot as a influential group in the Indonesian contemporary visual art scene.
 | Homesick | Dec 22, '10 9:14 AM for everyone |
Akhirnya, dalam sebuah perjalanan agak panjang, saya homesick. Saya tidak biasanya homesick. Padahal kalau dipikir-pikir, ini cuma Singapore, yang jaraknya cuma dekat saja dari Indonesia. Agak memalukan, dua malam lalu saya sampai sempat nangis gara-gara kangen sekali sama Jogja. Payah deh.
Tapi Singapore memang terkenal membosankan. Kalau kita senang belanja, mungkin sekarang adalah waktu paling tepat mengunjungi singapore. Menjelang natal, di sepanjang orchard, toko-toko berlomba memasang hiasan natal paling memikat, plus tawaran diskon gede-gedean. Sumpah, saya sampai terheran-heran melihat semangat belanja semua orang yang berlipat, seolah tak mau kehabisan barang.
Sayangnya, shopping is not my thing. Kota ini membutuhkan banyak teman untuk membuatmu bisa menikmatinya. Memang sih, saya punya teman untuk sesekali menghabiskan waktu. Mereka membawa saya ke restoran-restoran yang enak dan ngetop, mengajak berbincang tentang banyak hal. Sesekali, saya jalan saja sendirian menyusuri kota, tak punya tujuan jelas mau ke mana. Tapi seluruh makanan dan etalase mengkilap itu tidak sungguh-sungguh menghibur saya. Saya malah belakangan malas makan karena bosan makan di luar, sementara pergi ke supermarket sekarang agak menyulitkan. Meski tiap hari berganti menu, dari malay, india, cina, jepang sampai makanan barat, saya masih terbayang-bayang sate samirono dan soto kadipiro. Ugh, sialan.
Masalahnya, hati saya sedang benar2 di rumah jogja. Saya ingin pulang ke rumah saya sendiri, memberesi dapur dan kamar yang rasanya sudah saya telantarkan setahun ini. Apalagi, keluarga saya sekarang sudah balik lagi ke rumah mereka, jadi pasti rumah perlu saya dekor ulang. Saya sampai browsing-browsing desain perabotan dapur, karena itu adalah resolusi pertama yang akan saya kerjakan di tahun 2011.
Saya tak cuma rindu rumah. Tapi seluruh hari-hari saya di Jogja. Teman-teman seniman, datang ke pameran dan diskusi, bermain sama ponakan, dan, tentu makan di seluruh pelosok Jogja. Maaf, sekali ini, saya mengakui bahwa saya benar-benar ingin pulang.  Perkawinan dan Penjara Emas Kaum Perempuan
Oleh: Alia Swastika
Given tbat singlehood and living together have been largerly destigmatized, why do so many women still bother to get married? Why we do have to justify the reasons we get married?
Amy Richards and Jeniffer Baumgarner
Siapa perempuan kota usia muda yang tidak menggemari serial “Sex and the City” di kisaran tahun 2000an itu? Ketika serial ini pertama kali muncul, para tokohnya masih muda, sekitar awal 30 tahun, dan beberapa mungkin beberapa tahun lebih usianya. Dengan latar belakang kota New York yang gemerlap, dengan cerita romans yang menggoda, serial ini dengan segera menjadi salah satu produk budaya yang populer pada dekade ini. Inilah salah satu serial yang dengan tepat dan jitu memotret gagasan tentang perempuan urban masa kini, sesuatu yang awalnya hanya menjadi gejala sosial yang sulit terbahasakan.
Di awal kisah ini dimulai, dinamika kehidupan empat perempuan lajang merupakan tema utama yang bagi saya, merefleksikan banyak soal yang dihadapi banyak perempuan di seluruh penjuru dunia, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka menghamparkan kisah tentang mimpi dan harapan, tentang kenangan dan perasaan, sehingga bertaut dengan kehidupan nyata banyak perempuan. Seperti sebuah potret yang melawan stereotipe perempuan di generasi selanjutnya: dimana pernikahan dan keluarga adalah sesuatu yang nyaris tak terhindarkan. Empat perempuan ini seperti berseru: hidup lajang adalah kemewahan, sebuah ruang lapang yang menjanjikan beragam pengalaman dan petualangan. Sayangnya, ketika kemudian serial ini diangkat ke layar lebar, saya mendapati kenyataan pahit: ternyata mimpi hidup lajang itu cuma bagian masa lalu, hampir semua tokoh, kecuali Samantha yang memang terbilang paling liberal, pada akhirnya menikah dan terkesan hidup bahagia sempurna dengan anak dan suaminya. Apakah semua kisah hidup perempuan harus berakhir seperti itu? Apakah perkawinan merupakan muara kehidupan perempuan?
Saya sendiri kemudian memikirkan banyak hal berkaitan dengan tema perkawinan ini, terutama dalam konteks kehidupan masyarakat yang agak serba tanggung seperti di Indonesia, antara yang merefleksikan kehidupan modern dan masih berpegang pada nilai tradisional, antara yang abangan dan terkekang aturan agama, dan berbagai ketegangan lain yang menyaran pada situasi-situasi antara.
Barangkali, di luar pembahasan berbagai isu dan persoalan yang terutama berkait dengan pemenuhan hak dan kesetaraan, persoalan-persoalan personal (yang sesungguhnya bersilangan juga dengan pranata sosial) semacam pernikahan ini tetap saja merupakan isu yang krusial dalam kehidupan seorang perempuan. Bagi saya, inilah yang selalu menarik dari isu feminisme: ia selalu merangkak masuk ke dalam ruang personal, dan sekaligus mempertegas samarnya batas-batas antara yang domestik dan politis. Membicarakan pernikahan, misalnya, kita tidak bisa semata-mata menariknya ke dalam wilayah cinta dan romantisme, atau lingkaran seksualitas: apa yang tersembunyi jauh lebih kompleks dari pada itu. Pernikahan adalah tentang bagaimana negara punya kepentingan atas tubuh dan identitas perempuan, tentang bagaimana berbagai perbedaan dijembatani dan diatasi, tentang pertukaran sosial ekonomi yang berlangsung di dalamnya.
Karenanya, apa yang ditampilkan oleh kelompok Simponi ini, dalam pandangan saya adalah sebentuk refleksi tentang bagaimana pernikahan diberi makna pada generasi perempuan masa kini. Seluruh anggota kelompok ini berada dalam rentang usia antara pertengahan 20an dan belum mencapai 30an. Rentang usia yang sekarang mulai dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan dering ‘lonceng biologis’. Ini adalah sebuah pameran yang mendasarkan diri pada cerita-cerita sederhana yang dijumput dari kehidupan sehari-hari dalam lingkup pergaulan yang paling dekat dengan mereka. Ringkasnya, karya-karya dalam pameran ini merupakan refleksi dan pernyataan diri.
*****
Gagasan untuk menggali tema pernikahan diawali ketika kami menyadari bahwa usia kami makin diteror dengan pertanyaan tentang kapan kami akan menikah setiap kali kami pergi ke pertemuan keluarga. Tentu saja, lama kelamaan pertanyaan ini menjelma sebagai teror. Mengapa kami harus menikah? Atau, tepatnya, mengapa kami harus menikah pada waktu-waktu ini? Mengapa perempuan yang menikah kemudian terlihat tidak ‘normal’?
Kami melakukan beberapa kali pertemuan untuk mendiskusikan tema ini dengan mendalam, terutama mengaitkannya dengan metafor visual yang bisa diangkat dalam pameran. Saya merasa saya demikian menikmati diskusi-diskusi yang terjadi di antara kami. Saya merasa bahwa proses mempersiapkan pameran ini menjadi sebuah proses yang dekat dengan kehidupan kami sendiri, yang terasa tidak muluk-muluk, tapi justru membawa kami pada proses pencarian jawaban yang tidak mudah.
Dalam kehidupan di lingkungan sekitar, peristiwa pernikahan justru acap memberi semacam teror dan ketakutan kepada kelompok perempuan muda. Beberapa contoh dengan segera menunjuk bagaimana ambisi menaklukan dunia seringkali hilang ditelan rutinitas dan norma-norma dalam pernikahan itu. Sebagian besar perempuan menukar kebebasan dan kemandiriannya dengan rasa aman. Hal ini menginspirasi lahirnya karya Mahar, yang merupakan instalasi berupa jantung perempuan terbuat dari resin mengkilap. Ketiga jantung ini memiliki penanda teks yang masing-masingnya berbunyi: sex, money, sanity, faith, revenue, immortal, tranquility.
Karya ini seperti memberikan sindiran bagaimana perkawinan acap dilihat sebagai peristiwa ‘ekonomi’, dalam pengertian, ada komoditas yang dipertukarkan, dan ada tujuan-tujuan ekonomi pula yang ingin diraih. Dalam tradisi Jawa, ada yang disebut sebagai seserahan, dimana si pengantin pria memberikan beberapa barang yang melambangkan kebutuhan perempuan (yang biasanya berupa kosmetik, baju dalam, tas, sepatu, serta perlengkapan mandi), yang dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana laki-laki diposisikan untuk mengambil alih tanggung jawab terhadap kehidupan perempuan. Mengganti komoditas sehari-hari dengan sesuatu yang esensial seperti jantung menunjukkan ada sebentuk kritisisme dari para perempuan muda ini terhadap ide tentang pengalihan tanggung jawab tersebut. Kemudian, dari soal lonceng biologis, yang sering menjadi bagian dari perbincangan tentang perkawinan, kami bisa mendedahkan rentang waktu kehidupan perempuan, yang acap kali tak bisa begitu saja dibatasi seenaknya antara petualangan, karir dan pekerjaan, hingga cinta dan pernikahan. Ada rentang usia tertentu ketika perempuan harus membuat keputusan-keputusan personal yang seperti mengejar deadline. Menggambarkan fenomena ini, Simponi dengan jitu membuat sindiran dengan karya berbentuk jam dinding yang akan berbunyi sesuai dengan siklus-siklus biologis perempuan: menstruasi, menikah, punya anak, menyusui, dan pengalaman ketubuhan lain. Itulah mengapa, ketika perempuan menikah dalam usia yang relatif beranjak dewasa, sering muncul sebutan ‘perawan tua’, sesuatu yang tidak dijumpai pada laki-laki.
Pernikahan juga acap dilihat sebagai masa ketika perempuan mulai dihadapkan dengan pilihan hidupnya sendiri, terutama karena kehidupan sosialnya yang mulai terbatasi. Tentu saja, berbeda dengan kehidupan pernikahan pada masa lalu yang lebih tertutup dan berlangsung dengan tata cara patriarkhis, kehidupan perkawinan masa kini masih membuka pintu pada eksistensi perempuan pasca menikah. Perempuan masih bisa memiliki pekerjaan, kehidupan sosial, dan bahkan waktu untuk dirinya sendiri. Meskipun demikian, ada tuntutan yang lebih untuk memasuki ranah-ranah domestik. Barangkali tidak semua perempuan akan merasakan hal ini sebagai ancaman, beberapa mungkin juga merasakan keterlibatan pada ranah domestik ini sebagai sesuatu yang mengasyikkan.
Domestisitas inilah yang kemudian diolah ketiga anggota kelompok Simponi menjadi sesuatu yang estetis. Mereka menggunakan teknik-teknik yang sering dianggap domestik dan terlalu craft menjadi bagian yang penting, sesuatu yang sesungguhnya sejak awal banyak dikerjakan oleh Simponi, yaitu sulam, kruistik, dan jahit tangan. Pada pameran ini, mereka membuat teknik ini beranjak melampaui perannya sebagai teknik, serta membuatnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gagasan karya yang diwujudkan dalam sebuah ranjang yang dihias dengan elemen-elemen sulam di sekitarnya. Dalam wacana seni rupa, teknik-teknik yang macam ini biasanya dirujuk pada craft, tetapi Simponi bisa menunjukkan bahwa justru dengan menunjukkan ketertarikan mereka pada segi kepengrajinan ini, mereka bisa membawa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai esensi dari identitas perempuan menjadi kualitas yang produktif.
Selain berbicara tentang perkawinan itu sendiri sebagai sebuah pranata sosial, karya-karya dalam pameran ini banyak berbicara tentang ritual atau pesta perkawinan itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri, dalam kenyataannya, peristiwa pesta pernikahan ini merupakan sesuatu yang dianggap sebagai ‘puncak’ dalam kehidupan seorang perempuan terutama dengan kepercayaan ‘tradisional’ bahwa perkawinan hanya berlangsung sekali seumur hidup. Dalam seluruh kebudayaan di dunia, tradisi pesta perkawinan merupakan perayaan besar dalam siklus hidup manusia. Para anggota kelompok Simponi mengeksplorasi penampilan perempuan dalam pesta perkawinan dari berbagai budaya, terutama untuk melihat bagaimana perempuan menjadi ‘penampil’ (performer) dalam peristiwa tersebut. Mereka menghiasi tubuh mereka dengan pakaian terbaik, membubuhkan riasan wajah dengan tebal dan penuh cahaya, mengatur rambut dengan berbagai hal yang di luar kebiasaan sehari-hari. Menjadi pengantin selalu dikaitkan dengan mimpi abadi para perempuan, di mana mereka semenjak kecil telah mempunyai imajinasi diri sebagai pengantin perempuan dalam suasana pesta yang terbaik. Dalam karya dua dimensi Simponi, kita bisa melihat bagaimana para performer ini muncul dengan simbol visual pada wajah dan pakaian mereka yang setiap detailnya mempunyai makna tertentu.
Dalam khazanah ilmu antropologi misalnya, ritual perkawinan selalu ditempatkan pada wilayah yang sama pentingnya dengan ritual mendasar lainnya, yaitu kelahiran dan kematian. Selain eksistensinya yang beralih sebagai performer, dalam ritual pesta perempuan juga dengan harapan-harapan yang dikenakan padanya untuk ‘mengabdi pada suami’. Di Jawa, dikenal ritual membasuh kaki suami, yang menunjukkan pelayanan dan kemauan untuk berserah diri seorang istri pada suami. Simponi juga menggambarkan ritual-ritual semacam ini sebagai bagian dari kecemasan mereka atas lembaga perkawinan tersebut.
*****
Dalam dunia seni rupa kontemporer, kecenderungan seniman perempuan untuk mengangkat tema-tema yang personal, dalam pandangan saya merupakan sesuatu yang sesungguhnya merupakan modal dan kekuatan yang signifikan. Karya-karya seniman perempuan dalam ranah performance art, misalnya, menunjukkan betapa isu-isu yang personal ini selalu menghasilkan pencapaian yang patut ditandai. Banyak seniman perempuan yang menjadikan kesenian dan praktik-praktiknya sebagai media untuk mengekspresikan pikiran dan pandangan yang lahir dari refleksi dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang ditempuh oleh Simponi, menjadi isu dan kegelisahan personal tentang perkawinan, dapat dibaca dengan cara yang sama, hanya dengan nada yang berbeda. Jika sebagian besar seniman feminis menyampaikan gagasannya hampir seperti ‘berteriak’ terutama jika menggunakan telinga kaum perempuan muda, maka isu-isu perempuan dalam pameran ini lebih terasa rileks dan reflektif. Mereka tidak punya pretensi untuk marah kepada kaum laki-laki atau pada keseluruhan sistem sosial yang membuat perkawinan menjadi seperti penjara emas. Dengan cara tertentu karya-karya mereka lebih berbicara untuk membagi ketakutan dan kegelisahan, dan menampilkan cara pandang yang segar tentang lembaga pernikahan. Mereka punya harapan bahwa dengan dialektika yang seimbang antara perempuan dan laki-laki, maka ada kemungkinan perkawinan menjadi sebuah lembaga yang lebih adil bagi masing-masing individu.
Ini juga menyiratkan bahwa mereka bukan kelompok yang anti perkawinan, melainkan, mereka ingin menjabarkan problematika yang kompleks dalam institusi ini dalam kaitannya dengan mimpi dan memori puluhan juta perempuan masih hidup dalam ruang-ruang antara seperti di Indonesia. Meskipun terasa memberikan banyak himpitan, tetapi, menghadapi kehidupan yang makin keras dan tak tertebak arahnya, perkawinan masih memberikan ruang bagi manusia untuk menemukan sebuah ruang dimana kebersamaan selalu menyediakan rasa aman.
 Saya mulai senang dengan aktivitas 'magang' saya di singapore. pada minggu-minggu awal memang terasa pelan dan membosankan, terutama selalu memang minggu pertama menjadi masa orientasi dimana kita mengembangkan rencana tentang apa yang ingin kita lakukan. Menyesuaikan diri di kantor baru juga bukan hal yang gampang, apalagi orang di sini memang tidak terlalu ramah dan semua sibuk dengan diri sendiri. hehehe. Tapi memasuki minggu ketiga, saya merasa sudah mulai settled dengan tempat kerja. Saya tidak terlalu peduli apakah mereka akan melibatkan saya dalam program atau aktivitas. Saya menikmati saja menghabiskan waktu di work station saya, dan seskali mengobrol pendek dengan orang2 di sini. Minggu ini saya melakukan presentasi di depan direktur museum dan dewan kurator, lancar dan membangun diskusi yang lumayan menarik dari sana. Saya juga mulai ketemu dengan beberapa rekan kerja atau datang ke diskusi/lecture. Kemarin, mantan bos saya ketika saya magang di Asia Society, New York, Vishaka Desai, datang ke singapore memberi ceramah. Saya senang sekali punya momen nostalgia semacam ini. Meski topik ceramahnya agak terlalu berbau 'cultural diplomacy', yang sebenarnya saya bisa gunakan untuk aktivitas saya belakangan ini, saya menikmati sekali keberadaan saya di sana. Saya kangen dengan ruang-ruang diskusi yang multikultur semacam ini. Tidak saja pengunjungnya datang dari banyak sekali latar belakang budaya, tetapi juga karena perspektif para peserta juga mewakili berbagai kepentingan dan kebudayaan yang berbeda. Tidak saja berkaitan dengan ras atau budaya, tetapi juga ideologi, kelas, dan sebagainya. Selalu, dalam momen-momen semacam ini, saya selalu ditantang untuk melihat kembali dimana posisi saya sendiri dalam praktik kultural sekarang ini. Saya juga bertemu dengan beberapa peneliti dan aktivis budaya di sini. Menyenangkan. Saya dipaksa untuk memeras pikiran karena mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab, yang membuat saya berjarak dengan praktik-praktik kuratorial saya dan menempatkan diri saya sebagai orang luar. Dalam setahun ini, dengan kesibukan membuat dan mengorganisir pameran, juga tulisan untuk konferensi dan jurnal yang tidak ada habisnya, saya merasa tidak banyak menemui momen-momen yang dalam seperti ini. Saya selalu berkejaran dengan waktu dan tenggat2nya. Kalaupun saya menghadiri diskusi, rasanya yang datang juga itu-itu saja, sehingga saya tidak terlalu mendapatkan perspektif yang baru dan menarik. Kadang saya bosan dengan suasana diskusi di Indonesia yang cenderung 'sopan' dan kurang berbasis pada kemampuan untuk melihat gambar besar tentang praktik-praktik yang kami lakukan. Bagi saya, datang ke acara-acara seperti kemarin, dan menenggelamkan diri saya sepenuhnya disana adalah 'me time' saya yang lain. Ada kategori me time lain yang lebih bebas dan rileks, biasanya ketika saya keliling kota dengan bus umum mendengarkan musik dari ipod. Rasanya, tiga bulan di Singapore ini membuat saya akan bisa melakukan keduanya, selain, kadang-kadang berjalan saja sepanjang botanical garden di akhir minggu. Di singapore, saya lebih sering jalan ke mana-mana naik bus ketimbang MRT. Mumpung di sini agak lama, jarang sekali saya ambil taksi. biasanya, kalau ke sini urusan kerja, selalu ada situasi terburu yang memberi apologi atas rasa malas saya berjalan kaki. Jadi biar cepat, selalu naik taksi.
tapi saya banyak menguji diri ketika ada dalam perjalanan di transportasi publik. Pertama, menguji toleransi saya untuk memberikan tempat duduk pada mereka yang memang harus diberi prioritas duduk. Kadang2 rasa lelah mendera dan membuat kita ingin duduk agar bisa sedikit memejamkan mata. Tetapi tidak bisa kalau sekelompok ibu dengan anak2 datang, kamu harus berdiri dan menikmati sisa perjalanan berdesakan.
Saya juga sering memperhatikan diri saya, betapa kadang saya masih diskriminatif memilih siapa yang duduk di sebelah saya. sungguh, perjalanan berkendara umum selalu punya sensasi ini. Kecenderungannya, kita memang memilih sendiri, jadi bisa asyik dengan diri. tapi kadang, semua tempat terisi dan kamu harus membuat keputusan. Jujur, saya sering memilih duduk di sebelah cowok ganteng. hahaha. gimana lagi, sulit menghindar dari citra visual.
Tapi apakah ada teman duduk yang sesungguhnya kamu hindari? bisakah kamu jujur menghadapi perasaan itu? merasa sungguh sejajar dengan yang 'minor'? Saya ingat, teman saya dulu di NY diskriminatif sekali, suka menghindar duduk di dekat orang berkulit hitam. Kadang saya juga merasa begitu di sini, bersalah tetapi itu seperti sesuatu yang terjadi begitu saja. Belakangan, saya memaksa diri saya untuk tidak memilih 'siapa', tapi di mana. jadi saya usahakan dapat tempat duduk di tengah, siapapun teman duduk saya.
Di indonesia, karena terasa semua 'orang sendiri' kita cenderung tidak memilih. duduk saja tanpa preferensi. Tapi di tempat lain, banyak sekali jenis orang yang kamu temui. seluruh bangsa ada. kita selalu bilang semua sama, tetapi bisakah sungguh menerimanya sebagai 'sama'?
Ini terapi untuk meneguhkan keyakinan saya pada keberbedaan. Doakan saya berhasil ya. Judul di atas sebenarnya agak terlalu pretensius untuk tulisan yang sebenarnya akan sangat sehari-hari ini. Sebenarnya ini sedikit keluhan karena hingga hampir tiga minggu saya tinggal di Singapore, saya belum juga merasa settled dengan situasi (rumah). Nanti sore, untuk ketiga kalinya, saya akan pindah ke apartement baru. Sebenarnya, saya paling suka rumah pertama yang kami tempati. Meskipun Novena jauh dari pusat kota Singapura, tapi rumahnya nyaman sekali. Bangunannya modern, dan bukan minimalis. tapi, yang paling menyenangkan, banyak cahaya matahari. Banyak jendela yang bisa dibuka lebar sehingga saya tidak perlu menyalakan AC saat udara sedang sangat panas. Rumah kedua yang kami tempati memang enak lokasinya, di North Bridge Road, tepat di depan perpustakaan nasional. Gampang ke mana-mana, cuma satu blok dari Raffles Mall. Tetapi, setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa sekarang ini saya memilih rumah nyaman ketimbang lokasi. Saya tidak keberatan menempuh 30 atau 40 menit dengan bus ketimbang harus berada dalam rumah penat tanpa jendela. Mungkin saya memang masih romantik dalam hal ini. Tetapi saya nyatanya sekarang makin betah menghabiskan waktu di rumah ketimbang keluyuran ke mall. Rumah nyaman buat saya mengandung tiga esensi: cahaya matahari, kelapangan ruang, dan dapur yang enak. Saya perlu sekali tiga hal ini. itu kenapa, rumah saya di Jogja buat saya sudah cukup nyaman. Beberapa memang bilang rumah itu terlalu besar buat saya sendiri, tapi memang barang saya banyak, jadi tidak bisa punya rumah terlalu kecil juga. Saya suka membuka pintu lebar-lebar membiarkan sinar masuk ketimbang menyalakan lampu neon. Nah, karena saya suka memasak, saya suka dapur yang nyaman. Di apartment Novena, dapurnya enak sekali karena cukup besar dan banyak jendela. Saya suka masak sambil menonton tetangga sebelah gedung berenang, hahahaha. Rumah saya sendiri di Jogja, meski bukan dapur modern ala apartement barat, tetapi menyediakan ruang untuk diri sendiri (begitu saya menyebut aktivitas ini) yang selalu membuat saya rileks. Memang, dapur Indonesia terasa lebih gampang kotor ketimbang dapur apartment barat. Jenis masakannya saja berbeda, sehingga alat yang dipakai juga berbeda. Tapi saya selalu menjaga dapur sebagai area paling bersih di rumah. Dulu, ketika di Jakarta, saya juga memilih mengontrak rumah sehingga saya punya dapur sendiri dan bisa memasak kapanpun saya mau. Meski rumah kontrakan jauh ke kota, saya merasa lebih bahagia. rasanya, sekarang ini saya tidak bisa lagi tinggal di kost. Rumah bagi saya adalah tempat saya berbagi dengan diri sendiri. Saya tidak terlalu peduli lingkungan sosial rumah, semakin tidak perlu sosialisasi semakin baik rasanya. Mungkin terlalu individualis bagi kebanyakan orang. Tapi nyatanya, buat saya sosialisasi sekarang lebih banyak saya dapatkan di lingkungan pekerjaan, dan itu sudah memenuhi kebutuhan sosial saya. Pelahan, saya memang melihat bahwa kebutuhan rumah sebagai bagian dari pernyataan kita dalam sebuah kolektif pelahan makin pudar. Kehidupan ala kampung sekarang tidak terlalu diminati bagi orang-orang yang bekerja penuh waktu. Bahkan cenderung dihindari. Itu kenapa, apartemen jadi makin laku. Kehidupan modern, juga dengan individualismenya, bagi saya menyaran pada situasi dimana situasi-situasi unik setiap orang harus makin dihargai, dan rasanya masyarakat kita kebanyakan memang belum siap untuk itu. Karenanya, menghindari sosialisasi acap diartikan sebagai menghindari konflik yang sulit terdamaikan karena posisi kita yang mayoritas dan pandangan-pandangan yang terlalu berseberangan. Buktinya, sekarang ini memang lebih gampang bagi kita mengawali percakapan di ruang publik seperti mal, museum atau restauran, ketimbang berbicara pada tetangga sendiri. Iya gak sih? Semoga, rumah saya yang baru nanti malam cukup nyaman dan dapurnya bagus. :-) Sejak tahun 2006, hampir setiap tahun saya rutin melewatinya dengan program magang atau residensi, kecuali tahun 2008 dan 2009. Sebagian besar, saya cuma traveling dalam rangka kerja untuk waktu yang sebentar. Itu kenapa, ketika mendapatkan tawaran magang di Singapore untuk akhir tahun 2010 ini, saya akhirnya memutuskan menerima. Saya kangen juga berjarak dari praktik kerja di Indonesia, dan belajar mendalami kebudayaan baru di tempat orang dalam waktu cukup lama. Sudah seminggu ini saya ngantor di the National Art Gallery, Singapore. Rencananya, saya akan ada 3 bulan di sini. Waktu yang cukup lama untuk saya yang sudah keseringan bolak balik ke Singapore. Tapi berkunjung dengan tinggal dan bekerja adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Misalnya, soal rutinitas. Magang itu bukan aktivitas yang gampang. Pertama-tama, selalu ada posisi serba nanggung. Karena di satu sisi kita bukan bagian langsung dari kantor yang kita kunjungi, tetapi bagaimanapun kita juga mesti punya peran dan partisipasi di sana. Pengalaman saya, selama magang, kita harus bersikap pro aktif. Kita minta pekerjaan dari supervisor, meskipun itu hal-hal kecil yang jika kita ada di kantor kita sendiri, rasanya tidak akan mungkin kita kerjakan. Misalnya kerja fotokopi, kerja membuat inventaris barang, pokoknya serba administratif. Kedua, kita selalu merasa punya jarak dengan orang-orang yang bekerja di sana. terutama karena beda budaya, termasuk budaya kerja. Beberapa kali magang kerja di museum, saya menemukan bahwa sebagian besar mereka sangat birokratis karena mereka adalah organisasi publik yang mendapat dana dari pemerintah. ini berbeda dengan model kerja di galeri yang lebih langsung dan kita lebih terlibat. Bagi saya yang terbiasa kerja dalam sebuah tim kecil, pengalaman magang di institusi besar selalu menarik untuk membuat saya bisa mengobservasi soal-soal birokrasi dan sistem seni yang lebih besar. Apalagi tempat saya kerja magang sekarang memang bagian langsung dari departemen seni pemerintah Singapore. Sebagian besar merasakan bahwa kerja magang memang tidak banyak gunanya, terutama berkaitan dengan aktivitas kantor itu sendiri. Tapi saya sendiri merasakan bahwa keuntungan magang akan berlangsung di masa depan, ketika network yang kita bangun pelahan akan membawa kita pada kemungkinan kerja sama. Kadang butuh waktu 3 atau 4 tahun untuk memulai kerja sama itu. Kerja magang, kadang-kadang kita menemukan banyak saat di mana sering nganggur. Kalau di rumah, pada saat nganggur ini kita tergoda untuk buka facebook atau chatting. Tapi banyak kantor yang memblok facebook juga. Nah, pada saat inilah, saya selalu tertantang untuk membuat waktu saya menjadi lebih produktif. Misalnya, dalam waktu seminggu ini, saya sudah menyelesaikan satu laporan riset dan mengedit satu artikel. Lumayan kan? Dan sekarang, saya punya sedikit waktu untuk update blog. Walaupun isinya gak penting begini. hehehe.
| |