 | Welcome | |
Sometimes you wanna share what you are thinking of to other people, even though you don't know them personally. you just wanna make sure that someone is listening. Hmm... maybe, that's what blogs are for! Welcome!! Barangkali ini masih sambungan dari tulisan saya sebelumnya tentang Black Berry. Berminggu setelah saya menulis posting tersebut, ternyata teman-teman dekat saya masih saja bersemangat untuk memprovokasi saya menggunakan alat komunikasi sejuta umat tersebut. saya hanya bilang, "Akan saya pikirkan!" setiap kali saya menerima saran semacam itu. Teman saya yang paling terpercaya bilang bahwa alat itu sangat membantu saya, terutama karena saya butuh menjadi lebih cepat dan lebih efisien. saya bisa cepat dihubungi, saya bisa cepat memberi respons, sehingga masalah-masalah menjadi lebih cepat teratasi.
di luar alasan-alasan yang sudah saya tuliskan dalam posting sebelumnya, yang terus mengganggu saya dari percakapan kami adalah bagaimana ia memberi tekanan tentang "kecepatan." tentu saja saya juga mengamini dunia sekarang bergerak begitu cepat, sebuah mobilitas peradaban yang barangkali tak pernah terbayangkan oleh keluarga Flinstone di masa lalu. pada beberapa hal, saya tergerak untuk larut dalam ritme serba cepat itu, dan terperangah oleh hasil yang ditimbulkannya. itu kenapa saya suka kota besar, seperti New York. Saya suka memandangi orang yang berjalan bergegas dengan sangat cepat, sembari menerima telpon, membaca koran atau menyeduh starbucks.
Saya juga merasa adalah sesuatu yang masuk akal jika pialang saham sangat tergantung pada blackberry sehingga ia bisa dihubungi setiap waktu dan melihat perkembangan harga saham dari waktu ke waktu. Atau politikus yang ingin update pada isu-isu atau meletakkan diri dalam satu konflik politik tertentu. Bagaimanapun, kemajuan teknologi membuat manusia mengontruksi dirinya untuk merasa butuh pada informasi dan berkomunikasi saat itu juga, tak bisa ditunda.
Bagaimana saya memobilitas diri belakangan ini, saya kira, di satu sisi juga menunjukkan saya tak keberatan ide tentang kecepatan. dalam seminggu saya bisa berada di tiga atau empat kota berbeda, bergegas dengan aktivitas packing, menuju bandara, menulis email sambil menunggu waktu boarding, lalu meeting dan persiapan pameran yang berurutan. Saya senang menjadi 'sibuk', meski saya sadar, seringkali kesibukan lebih jadi eskapisme emosional saya.
Tetapi, saya kira, saya hidup dalam satu dunia yang sedikit berbeda dengan sebagian besar. dunia seni dan gagasan. Apakah saya dituntut berada dalam kecepatan yang sedemikian? Apakah telat membalas email sehari membuat semua pameran berantakan, pertunjukan jadi batal, atau harga lukisan jadi turun? Saya merasa ada ukuran yang wajar untuk semua hal yang berbeda satu sama lain.
Saya mencintai kesenian karena saya tergerak dan hanyut dalam dinamika gagasan yang sedemikian kuat, di mana fantasi dan kreativitas dihargai karena membawa kita keluar dari rutin dan hal yang itu-itu saja. Saya percaya, justru hal-hal tersebut membutuhkan sesuatu yang ditunjuk sebagai kedalaman, satu proses kontemplatif, yang membutuhkan ruang jeda. saya butuh waktu lama untuk mendapatkan ide kuratorial pameran. saya butuh berpikir ketika saya datang ke studio seniman dan melihat karya mereka, berpikir bagaimana karya-karya itu bisa berkomunikasi dengan publik dan tampak bagus di ruang pamer. Pada saat berpikir semacam itulah, saya butuh asyik dengan diri dan pikiran saya sendiri. itulah mengapa, saya menikmati saat naik taksi dan cuma melambungkan imajinasi, sejauh yang saya bisa. tak mau saya terus diganggu email-email yang sesungguhnya, dengan cara tertentu, membuat saya ingin membalas dengan segera.
Saya mempercayai kecepatan pada kadar tertentu untuk membantu saya bertahan pada peradaban yang macam sekarang ini. Tapi saya belum menempatkannya sebagai ideologi, atau agama. Pak Paul Vilirio, tolong saya... :-) Cerita dari Dua Kota: Generasi Baru Seniman Jogja dan Bandung
Dalam ranah seni rupa Indonesia pasca kemerdekaan, peran signifikan dari dua kota yaitu Bandung dan Yogyakarta, menjadi sesuatu yang acap dipertentangkan. Ada banyak terma-terma yang mengitari pertentangan atau pengoposisian seniman dari dua kota ini, yang tentu saja tak bisa dilepaskan dari konteks sosial politik serta sejarah di masing-masing kota tersebut. Dalam sejarah seni rupa sendiri, pada beberapa periode krusial, penghadap-hadapan atas kubu Jogja dan kubu Bandung merupakan sesuatu yang menjadi penanda dinamika wacana. Di luar perdebatan mengenai ciri khas kekaryaan (yang tentu saja merepresentasikan narasi-narasi lain yang lebih besar berkait dengan gagasan estetik, penyikapan yang politis atas medium, dan sebagainya), diskusi terutama memapar pula persoalan lanskap budaya dua kota tersebut.
Perdebatan terakhir berkaitan dengan mahzab “Bandung” dan “Jogja” ini muncul awal tahun 2009 yang lalu, ketika Adi Wicaksono menulis sebuah artikel kontroversial yang mencoba membandingkan kecenderungan terbaru seniman muda dari dua kota tersebut (terutama dengan mengungkapkan ciri khas seniman muda dari masing-masing kota). Di luar kontroversi yang menyebut juga minimnya data yang dimiliki oleh Adi Wicaksono, artikel tersebut membuat banyak orang mempertanyakan kembali relevansi dari perbandingan semacam itu. Apalagi topik yang ditawarkan cenderung mengulang apa yang sudah diperdebatkan selama berpuluh tahun dalam sejarah seni rupa modern Indonesia.
Sayangnya, kebanyakan diskusi dan perdebatan itu lebih hadir secara sporadic dan sesekali, tanpa diakhiri oleh satu upaya pemetaan yang lebih punya arah. Persoalan pemetaan, bisa jadi memang selalu mengarah dan terbaca sebagai upaya pembandingan atau penghadapan-hadapan tadi, tetapi harus dilihat bahwa pada pemetaan ada usaha lebih jauh dalam hal pengumpulan data, serta pembacaan atas data-data tersebut. Berkaitan dengan upaya untuk menandai data entri dalam sejarah seni rupa di Indonesia, sebagai bagian dari narasi besar mengenai posisi Bandung dan Yogyakarta dalam kelumit sejarah tersebut, maka pemetaan-pemetaan kecil semacam yang dilakukan melalui pameran ini, diharapkan bisa menjadi bagian ke arah sana. Dengan peta yang terarah, seharusnya wacana dan perdebatan yang berlangsung di sekitarnya diharapkan bisa berdasar pada argumentasi-argumentasi berbasis data, bukan hanya permainan asumsi dan generalisasi.
***** Di Yogyakarta, sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah seni rupa kontemporer Indonesia, pada 1990an, berdiri Cemeti Contemporary Art Gallery yang menjadi ruang alternatif baru bagi seniman, di mana karya-karya yang non-komersial dan menampilkan gagasan estetika yang baru ditampilkan. Dari sinilah muncul nama seniman-seniman yang dianggap memberikan warna baru bagi dunia seni rupa kontemporer misalnya dari generasi S Teddy D, Ugo Untoro, Agung Kurniawan, Eddie Prabandono, Bunga Jeruk, Kelompok Apotik Komik, dan nama-nama lain. Pada saat itu, bentuk-bentuk karya baru seperti instalasi dan objek tiga dimensi, bahkan seni performans dan video, menjadi ruang eksperimentasi bagi para seniman muda, keluar dari kelaziman karya yang beredar di pasar seni rupa pada saat itu. persentuhan dengan dunia seni rupa global telah memberikan mereka referensi baru berkaitan dengan jenis dan modus karya. Kelompok seperti Geber Modus Operandi, Performance Factory, The Garden of the Blind, merupakan kelompok seniman muda yang lahir di akhir tahun 1990an yang mencoba untuk menunjukkan lintasan antar disiplin di ranah seni rupa.
Selain melahirkan karya baru dengan gagasan yang inovatif, karya-karya seniman Yogya pada generasi ini juga lekat dengan idiom-idiom yang mengkritisi situasi politik aktual. Mereka menjadi bagian dari perlawanan terhadap musuh bersama, menciptakan metafor visual yang subversif terhadap rezim penguasa. Bahkan pada pertengahan 1990an, berdiri Lembaga Kebudayaan Taring Padi yang secara jelas menyatakan ideologi kesenian yang berpihak kepada rakyat kecil.
Generasi yang sama di Bandung misalnya bisa dirujuk pada nama-nama seperti RE Hartanto, Gustaff Hariman Iskandar, Gusbarlian Lubis, dan Irwan Bagja. Sebagaimana seniman-seniman muda Yogya, generasi muda seniman Bandung juga banyak melakukan eksperimen dengan media-media baru. Yang sedikit berbeda, pada saat itu tampaknya seniman Bandung cenderung kurang tertarik pada isu-isu berbau politis, dan lebih banyak mengeksplorasi kemungkinan estetik. Dengan cara berbeda, mereka juga menautkan diri dengan gerakan seni rupa global terutama melalui sekolah seni dan proyek-proyek residensi yang baru dimulai. Pada paruh kedua tahun 1990an, di Bandung muncul kelompok-kelompok yang mengeksplorasi media baru seperti Bandung Center for New Media Arts, Biosampler, dan sebagainya. Seniman media baru yang terkemuka di Indonesia, Khrisna Murti, juga berasal dari Bandung. Seni performans juga berkembang dengan cukup cepat, meskipun dengan kecenderungan yang berbeda dengan seniman Yogya. Alih-alih mengadopsi bentuk teatrikal yang mengintegrasikan banyak aspek pertunjukan, sebagian besar seni performans di Bandung mengandalkan konsep-konsep interaktif untuk melibatkan pengunjung. Boleh dikatakan, pada saat itu, jarang sekali ada seniman muda Bandung yang membuat karya lukis. Jika pun ada, justru kebanyakan dari mereka tidak melakukan pameran di tempat-tempat yang pada waktu itu dianggap sebagai pusat seni.
Dibandingkan dengan Yogyakarta, karya-karya seniman Bandung pada saat itu mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari ranah desain, terutama yang menyangkut desain aplikatif, misalnya desain grafis, fashion, termasuk musik, dan sebagainya. Isu-isu politis muncul secara sporadis dalam karya beberapa orang seniman, tetapi lebih banyak para seniman berkutat pada isu-isu personal atau melingkupi hal yang berada dalam lingkungan hidup para seniman itu sendiri. Nuansa humor dan satire menjadi sesuatu yang mudah ditemui pada karya-karya seniman di waktu itu.
Berkaitan dengan ruang pamer, di Bandung sempat muncul beberapa ruang pamer alternatif, seperti Rumah Proses, Galeri Padi, Galeri Fabriek, hingga satu yang cukup mapan hingga sekarang, Selasar Seni Soenaryo Art Space.
Seperti sudah disinggung di awal, sebagian seniman, terutama yang berprofesi sebagai pengajar, kemudian mengambil peran pula sebagai kurator dan kritikus seni seperti Rizki Zaelani, Asmudjo Jono Irianto, Rifky Effendy, dan beberapa nama lainnya. Mereka berperan secara aktif dalam program-program pelatihan kurator terutama di tingkat regional Asia. *****
Dalam ranah seni rupa, tiga tahun belakangan juga merupakan masa tumbuhnya seniman-seniman muda yang menunjukkan idiom visual yang segar di Bandung. Dapat dikatakan, jumlah seniman Bandung yang berpameran secara aktif meningkat secara cukup signifikan dibandingkan tahun 1990an. Sempat pula timbul trend pameran yang secara jelas menyebut Bandung sebagai judul pameran untuk menegaskan “politik identitas” dalam ranah seni rupa Indonesia, misalnya “Bandung Art Now”, “Petisi Bandung”, “Bandung New Emergence”, dan beberapa judul pameran serupa. Pameran-pameran kelompok yang berlangsung di galeri-galeri di Jakarta banyak pula yang didominasi oleh seniman-seniman muda Bandung.
Berbeda dengan generasi tahun 1990an, seniman muda Bandung dari generasi terbaru ini banyak yang kembali berkarya dengan medium lukisan. Bahkan, Agung Kurniawan, menyebut adanya satu gaya khas yang berkembang di kalangan pelukis bandung, yang diberi istilah “realisme Baru”, yang diilhami dari perkembangan medium lukisan di Eropa. Satu gaya yang memakai realitas kedua yang terekam lewat foto, video, dan alat perekam lainnya sebagai kenyataan baru. Dalam pameran ini, kita melihat bahwa gaya macam itu bukanlah sesuatu yang sangat dominan sebagaimana yang dibesarkan oleh media massa. Nama-nama yang disebut sebagai bintang baru seperti J. Ariadhitya Pramuhendra, Willy Himawan, atau yang lebih senior, Dikdik Sayadikumullah, memang cenderung mengedepankan gaya semacam itu. Tommy Aditama Putra, dengan cara tertentu juga menunjukkan kecenderungan visual yang semacam itu, meski dengan pendekatan realisme yang lebih kental, terutama melalui strategi potret diri yang merujuk pada figur lain yang lebih ikonik. Sementara Guntur Timur mendekati realisme dengan cara baru, dimana Akan tetapi, di luar mereka, harus dicatat bahwa di Bandung berkembang pula gaya baru semacam komik atau kartun—meskipun tidak sebanyak seniman Jogja—seperti Radi Arwinda atau Tinton Satrio.
Kecenderungan untuk mencipta terobosan dalam karya instalasi dan objek tiga dimensi yang sudah ditengarai sejak 1990an (misalnya dengan inovasi-inovasi yang menarik dari Gusbarlian Lubis), merupakan gejala yang tampaknya lebih dominan di kalangan seniman muda Bandung. Wiyoga Muhardanto, Faisal Habibi, Tisa Granisia, Octora Veronica, dalam kesertaannya di beberapa pameran menampilkan karya-karya tiga dimensi yang cenderung mempermainkan fungsi dan bentuk visual dari benda sehari-hari (misalnya motor, tas, pisau, gunting, boneka, dan sebagainya). Inspirasi mereka memang cenderung diambil dari interaksi mereka dengan benda yang bisa ditemui dari hidup sehari-hari, lalu bermain dengan imaji visual atas bentuk dan fungsi, sehingga menghasilkan kemungkinan karya yang tak terduga. Kita pun masih bisa melacak jejak dari gagasan dasar bentuk yang mereka kembangkan. Dari karya-karya mereka, bisa dilihat adanya tingkat keterampilan tangan yang tinggi terutama untuk penyelesaian akhir, dengan bentuk yang umumnya bersih, rapi, terkontrol (dalam bahasa Adi Wicaksono: terkendali), nyaris sempurna. Tisa Granisia dan Octora, menunjukkan eksperimentasi-eksperimentasi menarik yang menjelajahi kemungkinan baru dalam membaca kode-kode yang sifatnya feminin, tanpa harus terbebani dengan isu-isu tentang gender.
Sementara, dalam ranah seni media baru, kelompok Tromarama berhasil mencuri perhatian dengan karyanya yang penuh humor dan imaji visual yang segar. Berbeda dengan kelompok-kelompok media baru dari generasi sebelumnya di Bandung yang cenderung berbasis pada musik, Tromarama mengintegrasikan elemen-elemen yang berbeda dalam visual seperti grafis, teks, gerak dari benda sehari-hari ke dalam satu citra gambar bergerak. Dengan keunikan dalam modus penciptaan dan citra visual, Tromarama berhasil menembus lanskap seni rupa internasional dengan keikutsertaannya di Singapore Biennale dan beberapa pameran lain berskala internasional. Erik Pauhrizi mengolah fotografi sebagai salah satu medium utamanya bersama dengan medium lain seperti lukis atau, dengan potret-diri sebagai kecenderungannya. Selain Erik, seniman Bandung lain yang tertarik mengolah fotografi adalah Prilla Tania atau Herra Pahalasari.
Berkaitan dengan tema, sebagaimana sumber dari gagasan bentuk yang cenderung mengadopsi dari keseharian mereka, cerita tentang apa yang berlangsung di sekitaran juga menjadi tema utama bagi mereka. Dari kesenangan mengolah benda-benda fungsional, sebagian seniman menggarap tema-tema tentang konsumtivisme, modernitas, serta perubahan-perubahan sosial yang terjadi berkait dengan kemajuan teknologi. Beberapa yang lain tertarik mengolah tema lokalitas (seperti penggunaan bahasa Sunda), identitas dan invidualitas, politik hidup sehari-hari, gender dan femininitas, globalisasi, dan wacana-wacana lain yang belakangan semakin populer dalam ranah kajian budaya.
Pada seniman-seniman Bandung, ada modus penggunaan ikon dan simbol yang terbaca dan dapat menjadi semacam petunjuk untuk menelusuri ide penciptaan mereka. Hal ini, saya kira didapatkan dari tradisi pengajaran tertentu, di mana mereka diwajibkan untuk bisa mempresentasikan ide dibalik karya yang mereka buat. Kenyataan bahwa sebagian besar dosen mereka sekarang dikenal sebagai kurator (papan atas), atau kritikus dengan lidah tajam, juga pengalaman mencecap pergaulan seni rupa internasional, membuat para mahasiswa ini didorong untuk mengembangkan konsep-konsep yang kuat dalam membuat karya. Membaca literature sosiologi, atau sedikit filsafat adalah bumbu di tengah aktivitas membuat karya seni (yang disebut sebagai aktivitas yang cool dalam tulisan Adi Wicaksono).
***** Mencari ke mana seniman-seniman muda di Yogyakarta beredar bukanlah hal yang terlalu sulit; cari saja tempat hingar bingar musik, dan di sanalah kita bisa menemukan mereka. Ini memang fenomena yang sangat menonjol di Yogya: bagaimana seni rupa merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari musik. Bukan saja dilihat dari banyaknya karya-karya yang menggali dan mendapatkan spirit dari musik, melainkan juga karena sebagian besar dari seniman muda ini juga merupakan pelaku dari ranah musik independen. Dan belakangan, tak jarang pula, musik itu sendiri menjadi karya yang dipresentasikan oleh seniman rupa.
Dari tautan yang erat dengan musik indie ini, wajar kiranya jika dibandingkan dengan seniman Bandung karya seniman muda di Jogja menunjukkan pengaruh yang lebih besar dari budaya pop, terutama dari segi yang di luar aras utama. Komik underground, sebagaimana diketahui, merupakan salah satu ranah yang dikerjakan oleh banyak seniman visual. Gaya-gaya komik underground ini kemudian diangkat ke kanvas, beramai-ramai sehingga dianggap sebagai ciri umum dari seniman Jogja, yang, lagi-lagi mengutip Agung Kurniawan, disebut sebagai juxtaposism.
Para seniman muda bergaya “Juxtapoze” ini sebagian besar merupakan pengikut proyek-proyek yang diadakan oleh kelompok Apotik Komik dan proyek komik Daging Tumbuh. Mereka bersama-sama dalam periode awal gerakan mural di Yogyakarta, Ketika pasar mulai menerima karya dari kelompok komik yang lebih senior, karya-karya dari para seniman muda ini juga mulai masuk dalam pasar seni rupa aras utama, bahkan cenderung menempati posisi yang dominan. Nama-nama seperti Wedhar Riyadi, Uji Handoko, Gede Krisna, Terra Bajraghosa, Indieguerrilas atau Farid Stevyasta, mulai rutin mendapatkan kesempatan pameran di galeri-galeri yang cukup mapan. Karena mendapatkan referensi dari sumber yang cenderung sama, maka banyak yang menyatakan bahwa karya-karya seniman muda berbasis komik ini cenderung terlalu sama satu sama lain, kurang menunjukkan identitas personal. Meski mendapat dorongan besar untuk melukis, tetapi seniman-seniman muda ini mencoba berkarya juga dengan instalasi, objek tiga dimensi, juga sesekali animasi.
Objek-objek tiga dimensi yang dibuat pun tak jauh dari citra visual toys (yang memang juga sedang trend ketika mereka tumbuh) yang dalam konteks seni rupa global ini mewakili kecenderungan animamix, yang menggabungkan citra animasi dan desain produk. Yang berbeda adalah objek yang dikerjakan oleh Made Lampung Diputra, yang merepresentasikan generasi baru pematung Yogyakarta. Ia punya kecenderungan yang sama dengan pematung Bandung yang mengolah fantasi atas benda keseharian, tetapi pada saat yang sama menunjukkan pula kemampuan yang tinggi untuk mencipta dan mereka bentuk baru yang dibuat dari bahan-bahan yang tak lazim seperti kerikil, kaca, dan batu.
Kelompok yang lain, sebagaimana di Bandung, mencoba terus mencari pendekatan yang berbeda (belum tentu baru) atas realisme. Yang disebut sebagai realisme ini, berbeda dengan Bandung, bukanlah memindahkan realitas yang terekam ke atas kanvas, melainkan, mencari detail yang tersembunyi dari sebuah realitas untuk direka bentuk, dikomposisikan ulang, dan menjadi citra realitas yang baru. Karenanya, mereka tertarik untuk mengolah benda-benda kecil seperti kabel atau tiang listrik sebagaimana yang dilakukan Tommy Wondra, misalnya. Utin Rini, mencoba untuk mendekati kenyataan dengan pijakan pada teknik yang sudah pernah dilakukan oleh seniman pop-art pada tahun 1960an.
Jika pada pertengahan tahun 1990an di Yogya berkembang satu gaya yang dominan yang disebut sebagai “realisme Yogya”, maka pada generasi baru ini surealisme telah berkembang dengan mengambil imaji-imaji pop satir yang mengombinasikan sedikit citra gothic yang kekanakan. Ayu Arista Murti, misalnya menunjukkan satu tawaran menarik atas surealisme yang bernuansa kontemporer, melukiskan citra masa kini dengan imaji ala dongeng.
Seni grafis, meskipun acap disebut sedikit terpinggirkan ketimbang bentuk dua dimensi lainnya, tetapi menunjukkan perkembangan menarik di Yogyakarta. Pada mulanya, grafis acap dikaitkan dengan seni propaganda, tetapi kemudian ia mendapatkan pengaruh cukup kuat pula dari imaji komik. Theresia Agustina, seniman multimedia yang belajar seni grafis secara formal, juga aktif dalam Rumah Grafis Minggiran, menunjukkan bagaimana grafis bisa menjadi pijakan, yang diolah bersama kemungkinan medium yang lain.
Karena mendapatkan pengaruh besar dari musik, sebagian besar seniman memang menggali musik sebagai inspirasi tema, yang berkait dengan kehidupan sehari-hari kelompok muda di ranah subkultur. Sebagian lagi berbicara tentang politik identitas yang personal seperti identitas keperempuan/peribuan, atau persoalan tubuh. sementara, ada pula yang tertarik menyinggung isu-isu aktual seperti lingkungan, situasi politik lokal, atau berbicara tentang hobi yang mereka tekuni dalam lingkungan pergaulannya. Tidak semua seniman di Yogya hobi membaca buku. Barangkali sebagian besar tidak melakukannya, ini memang berbeda dengan tradisi membaca yang kuat dari seniman generasi sebelumnya. Referensi karya mereka gali dari buku katalog yang dipinjam dan dibaca di perpustakaan, atau tentu melalui internet yang menyediakan berbagai ragam ide untuk mereka. Pertanyaan-pertanyaan tentang keaslian, juga konsep yang kuat, tidak terlalu mengganggu mereka. Mereka menciptakan karya untuk “kesenangan diri”, dan juga dengan sedikit ambisi, meletakkan diri dalam peta. Di kampus, ketimbang berkutat dengan teori dan konsep, mereka habis-habisan mengasah disiplin dan ketrampilan, melalui tugas yang tiada henti atau batasan-batasan dalam penciptaan yang mereka hadapi dengan beragam strategi.
*****
Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam puluhan katalog dalam tiga tahun terakhir yang membahas tentang generasi seniman muda ini, mimpi tentang adanya narasi besar dalam karya-karya mereka tampaknya sulit jadi kenyataan. Generasi ini tumbuh dalam masa di mana personalitas dan individualitas dirayakan di tengah kehidupan yang makin plural, meski dimana-mana kita bisa melihat bagaimana selera coba diseragamkan melalui bombardir sebuah trend (entah fashion, entah pemikiran, atau cara memandang dunia). Dari sebuah masyarakat yang baru saja lepas dari tirani, dan masih sebebas-bebasnya merayakan kemampuan berekspresi, generasi ini memang masih asyik-asyiknya membangun jalan mereka sendiri untuk menggapai sesuatu.
Fenomena ini memang masih banyak berupa tanda-tanda. Belum akan ada peta yang selesai, entah dari pameran ini atau upaya pemetaan hingga tiga atau lima tahun ke depan. Tetapi, kita sekarang bisa meletakkan sedikit demi sedikit, catatan atas kontribusi generasi ini dalam peta baru seni rupa kita, yang tentu, memungkinkan perpindahan di masa depan. Perpindahan dan pergeseran itu sendiri tampak sebagai sesuatu yang niscaya, sebagaimana kecenderungan global masa kini yang menuntut kita untuk terus mengubah posisi dalam ranah yang tak berpeta.
Alia Swastika  PATUNG AGUNG EMPU AGENG
Sejarah patung publik di Indonesia memang belum terbentang dalam jangka waktu yang panjang, bisa dikatakan hampir sama dengan sejarah republik kita. Dalam rentang yang pendek itu, belum banyak memang perubahan signifikan dalam hal bentuk dan interpretasi. Tetapi, menarik untuk menyimak bagaimana sejarah awal dari patung-patung publik itu semua tak bisa dilepaskan dari keinginan untuk mengabadikan spirit revolusi dari sebuah bangsa yang sedemikian belia.
Pada pameran Edhie Soenarso yang berlangsung di Jogja Gallery, 15 hingga 24 Januari 2009, berjudul “Retrospektif”, sedikit banyak kita bisa melihat sejarah tersebut. Edhie Sunarso adalah pematung yang sangat berpengaruh dalam perkembangan patung publik di Indonesia, terutama karena ia telah merealisasikan sekian banyak ide patung yang kini diingat sebagai landmark utama kota, terutama Jakarta. Siapa yang tak kenal patung “Selamat Datang” yang selalu menjadi bagian latar belakang visual untuk peristiwa-peristiwa massal di negeri ini?
Selain patung tersebut, Edhie juga membuat patung di museum dirgantara, patung Pancoran, patung Pembebasan Irian Barat, diorama di Monumen Nasional, dan puluhan karya lain yang berkesan sebagai proyek monumental. Dengan demikian, menjadi jelas bagaimana peran dan posisi Edhie Sunarso dalam sejarah seni patung di Indonesia, berderet bersama nama-nama lain seperti G Sidharta, Rita Widagdo, dan nama-nama lain yang dianggap legendaris. Berkaitan relasinya dengan para pengampu kekuasaan di negeri ini, hampir dikatakan Edhi telah bekerja dengan dua rezim besar, Soekarno dan Soeharto, serta pemimpin negara setelahnya dalam skala yang berbeda-beda.
Mengkaji sejarah pekembangan patung publik secara khusus, dan sejarah seni Indonesia secara umum, menjelang pembukaan pameran ini pada 14 Januari 2010 yang lalu, kepadanya dianugerahkan gelar Empu Ageng oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Gelar empu, mengingat sejarahnya, diberikan terutama kepada orang-orang yang dekat dengan keluarga raja dan karya-karya (terutama seni) yang ia ciptakan memiliki relevansi untuk kehidupan banyak orang. Menikmati pameran ini, sebuah pameran tunggal pertama di Indonesia, dalam karirnya yang sudah berusia lebih dari setengah abad, kita akan memahami bagaimana gelar tersebut layak disematkan untuk Edhie Sunarso.
Sebagian ruang dalam pameran ini digunakan untuk memajang dokumentasi karya Edhie Sunarso di ruang publik, terutama mengetengahkan miniatur, maket, serta foto dokumentasi. Sayangnya, barangkali karena waktu persiapan yang sedemikian terbatas, tidak banyak data-data menarik yang bisa ditampilkan, terutama mengenai gagasan dan cara pengerjaan patung-patung tersebut. Padahal, berkaitan dengan lanskap kota, rasanya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan gambar atau ilustrasi yang menunjukkan bagaimana patung kota ini tetap bertahan di tengah situasi kota yang berubah dari waktu ke waktu. Belum lagi cerita-cerita yang berserakan di balik ide awal pembuatan patung-patung tersebut. Misalnya, akan menarik bagi khalayak luas untuk mengetahui peran penting Presiden pertama, Soekarno dalam proses menggagas patung-patung publik tersebut bersama-sama dengan Edhie sebagai seniman.
Edhie Sunarso menyimpan cerita bagaimana Bung Karno secara penuh semangat menjabarkan rencananya untuk membuat patung-patung untuk membangkitkan kebanggaan dan nasionalisme warga dari bangsa baru ini. Pada saat itu, tutur Edhie, Bung Karno bahkan sempat membuat sendiri desain patung tersebut dengan menirukan gesture manusia yang kemudian gerakan Bung Karno tersebut dijadikan sketsa patung oleh Edhie.
Jika kebanyakan karya Edhie yang dikenal orang merupakan karya monumental (dan sering kali disebut sebagai seni “pesanan”), pada pameran ini, ia menampilkan sejumlah 32 karya yang merupakan karya yang berangkat dari gagasan personalnya. Ia memanfaatkan berbagai medium seperti besi, aluminium, perunggu juga kayu. Selain karena gagasan yang bersumber dari kegelisahannya sendiri, karya-karya ini juga punya nuansa yang lebih personal karena hampir semua dikerjakan sendiri oleh Edhie di studionya di Yogyakarta, mulai dari desain, cetakan, hingga penyelesaian akhirnya. Karya-karya yang non-pesanan ini menunjukkan ditampilkan berdasarkan kecenderungan gaya, mulai dari realisme, formalisme hingga abstrak. Sebagian temanya memang berangkat dari perenungan atas peristiwa keseharian, yang memang banyak dipengaruhi oleh gerakan seni pada generasi di mana ia hidup.
Ketrampilan tangan Edhie bekerja dengan bahan-bahan seperti perunggu memang tidak diragukan. Ialah pematung Indonesia pertama yang bekerja dengan medium ini. Bung Karno secara khusus mengirim Edhie untuk belajar ke India. Ketika pulang, ia mengasah ketrampilannya dengan bekerja di bengkel milik perusahaan jawatan kereta api, hingga ia mulai membuat percobaan patung perunggu pertamanya, sebuah patung paling dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia: patung selamat datang.
Dengan mengambil judul, “Retrospektif”, pameran ini memang kurang digarap matang, baik berkaitan dengan kuratorial maupun publikasinya. Kurang dipikirkan strategi untuk menggarap bahwa ini adalah sebuah pameran tentang sosok penting dalam khazanah patung, dengan segala kiprah dan dimensi karyanya yang kompleks. Karena sosok Edhi Sunarso sendiri belakangan kurang dikenal oleh publik secara luas, tergerus oleh kiprah generasi seniman yang lebih muda, maka perlu upaya yang lebih untuk menyelenggarakan pameran retrospektifnya dengan lebih professional. Pameran retrospektif Agus Suwage, Heri Dono, Putu Sutawijaya, Mella Jaarsma, misalnya, menunjukkan adanya kerja yang sungguh-sungguh untuk mencari karya terbaik dari sang seniman, atau kalau perlu melakukan kerja rekonstruksi karya. Karenanya, pameran model retrospektif begini memang memerlukan jangka waktu persiapan yang lebih panjang dan rencana yang matang.
  Tulisan lama... pulang dari petualangan di New York tahun 2007. sedikit nostalgia karena saya rindu betul kembali ke sana. hehehe... Saya tak tahu apakah definisi saya tentang Mimpi Amerika, sama yang dibayangkan oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia itu. Tapi hidup di sana untuk beberapa bulan, saya menyadari bahwa Amerika sendiri tidak tunggal, ia menawarkan banyak jenis mimpi dan kemungkinan untuk menggapainya. Buat saya, mimpi Amerika saya adalah New York, kota yang dikenal sebagai pusat dunia. Semua dinamika hidup yang saya bayangkan, apalagi jika Anda bekerja di dunia seni seperti saya, New York menawarkan petualangan tanpa henti yang tak pernah habis dijelajahi. Program yang saya jalani di New York adalah pertukaran seniman dan pekerja seni antara Asia dan Amerika. Selama empat bulan, kami mendapat kesempatan untuk melihat dan mengalami secara langsung kehidupan seni di negara itu. Saya sengaja meminta untuk magang di Asia Society Museum, untuk melihat bagaimana seniman Asia direpresentasikan oleh institusi-institusi Barat. Di luar yang saya bayangkan, periode singkat di kota itu, adalah sebuah periode terbaik dalam hidup saya. Kebetulan pula, saya tinggal di sebuah wilayah bernama Chelsea. Dalam sepuluh tahun terakhir, wilayah ini tumbuh sebagai satu pusat seni yang terkemuka di New York. Ratusan galeri, yang kecil maupun besar, menempati satu wilayah yang dekat dengan wilayah pinggiran laut itu. Ini tentu sangat memudahkan untuk saya karena untuk menghabiskan waktu akhir pekan, ketika saya tidak bekerja, saya tinggal jalan kaki beberapa blok saja keluar masuk galeri yang menyuguhkan karya-karya dari hampir semua seniman terkenal yang selama ini namanya hanya bisa saya baca di katalog-katalog pameran. Baru seminggu di sana, dan membuka-buka semua buku panduan, mulai dari Village Voice, Time Out atau the LBeat, saya menemukan tentu saja tak semuanya bisa saya tonton. Waktu empat bulan tidak akan cukup untuk saya menghadiri semua pameran bahkan yang sudah saya pilih, belum lagi menonton pertunjukan tari/teater plus festival-festival film yang rasanya ada saja setiap bulan. Bayangkan saja kalau dalam satu malam bisa berlangsung hampir 200 acara, bahkan lebih, yang tentu saja semua menawarkan daya tarik tersendiri untuk saya yang udik ini. Dan sungguh, dalam hal ini, saya harus mengakui bahwa New York masih pantas dinobatkan sebagai pusat seni dunia. Datang dari sebuah negara di mana museum hanya merupakan tempat menyimpan artifak masa lalu, mengunjungi museum di New York adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tentu saja, museum seni kontemporer adalah sesuatu yang paling utama menarik perhatian saya, mulai dari yang paling legendaries, Museum of Modern Art (MOMA), Museum of Contemporary Art, Whitney Museum, plus museum lain dengan ragam spesialisasi, Museum of Chinese Art, misalnya. Tetapi, saya menikmati pula menghabiskan akhir minggu dengan belajar sejarah dan seni klasik, seperti Museum of Metropolitan, Museum of Natural History, Brooklyn Museum of Art, dan puluhan museum lain yang tersebar di sana. Buat saya, harga tiket untuk masuk tidaklah murah, karena bisa mencapai 25 dollar. Tetapi, untuk orang tak berpunya macam saya ini, ada program TARGET yang memungkinkan kami bisa masuk museum dengan gratis. Dan, bisa ditebak, karena gratis, pada hari-hari macam itu, saya harus datang tiga jam sebelum pintu dibuka untuk bisa dapat giliran masuk. Suasananya hampir mirip dengan pasar malam saking banyaknya orang di dalam. Meski terganggu dengan keramaian itu, saya mengalami suasana yang mengesankan juga; terutama karena saya bisa mendengar komentar orang-orang awam tentang karya masterpiece dari Andy Warhol, Jackson Pollock atau generasi yang lebih muda, semacam Matthew Barney. Di museum, juga galeri itu, saya memahami mengapa praktik seni kadang menjadi sedemikian berjarak ketika konsep-konsep yang memang lahir dari persoalan kemasyarakatan di Barat ini diusung ke Indonesia. Karenanya, saya bersyukur sekali sempat menyaksikan karya pengusung seni kontemporer seperti Marcel Duchamp, karya awal seni video dari Bill Viola, hingga ratu seni performans seperti Marina Abramovich. Tak cuma itu, sebagai pencinta seni pertunjukan saya juga mengasyiki aktivitas nonton pertunjukan dari yang kelas Broadway sampai pertunjukan kecil di bekas gudang di pinggiran Brooklyn yang sedemikian sepi. Saking inginnya nonton pertunjukan, saya kerja jadi sukarelawan di sebuah teater bernama Castillo, berbekal referensi dari seorang teman yang memberi saya sebuah ulasan tentang kelompok ini sejak di Indonesia. Gedung teater Castillo terletak di 42nd street yang memang terkenal sebagai salah satu kompleks seni pertunjukan di New York. Dua malam sekali, menuju tempat kerja, saya melewati gedung itu dan mengintip ke dalam pertunjukan-pertunjukan yang mereka selenggarakan. Penonton menunggu antrian dalam balutan kostum yang menunjukkan selera berpakaian yang baik. Percakapan-percakapan yang menunjukkan mereka adalah kelompok berpendidikan, berbudaya dan (berupaya) memiliki pandangan politik yang moderat. Baiklah, mereka berhasil mengesankan saya, tepatnya, mengingatkan saya betapa penonton pertunjukan di Indonesia memang bukan berasal dari latar belakang seperti itu, dan rasanya itu mempengaruhi pula bagaimana bentuk pertunjukan itu sendiri berkembang dari waktu ke waktu. Karena masyarakat pendukungnya banyak, kita bisa menyaksikan banyak sekali jenis pertunjukan di sana. Saya sampai tak habis pikir melihatnya. Ada kompleks pertunjukan komedi, pertunjukan tari modern klasik (balet), kompleks opera yang megah, hingga tempat-tempat seperti Lincoln Center atau Brooklyn Academy of Music yang menyajikan pertunjukan-pertunjukan kelas satu dari seluruh penjuru dunia. Nonton pertunjukan memang mahal di New York, karenanya, selama di sana, saya rela bekerja lagi sebagai tukang bebersih rumah demi tamasya estetika dan bisa nongkrong setidaknya di lantai tiga gedung pertunjukan utama, tanpa harus pakai alat Bantu teropong. Yang lucu, kadang-kadang para aktor Broadway ini saya temukan sedang jalan-jalan di sekitar Union Square dengan kostum panggung mereka. Saya pernah ngobrol dengan pemeran figuran Phantom of the Opera sembari mencari buku bekas di toko paling terkenal di New York, The Strand. Bajunya yang mencolok ala pangeran dari zaman Victoria itu tentu saja dengan mudah menarik perhatian pengunjung, tetapi, sebenarnya pengunjung itu cuek saja, barangkali sudah biasa. Saya juga sempat berteman dengan seorang aktor muda yang sudah 3 tahun lamanya berpetualang mencari peran di panggung kelas tiga (off off Broadway) tetapi hanya dua kali berhasil manggung karena persaingan sedemikian ketat. Kalau sedang tidak bekerja di Broadway, ia membantu proyek-proyek teater alternatif di ruang terkemuka seperti the Kitchen atau teater di daerah Soho atau Tribeca. Selain bentuk-bentuk seni yang dianggap kelas tinggi, tentu saya mengalami pula dinamika kehidupan budaya pop Amerika. Tinggal tak jauh dari kompleks Madison Square Garden, tentu saya sering membaca poster-poster konser akbar dari grup-grup seperti Pearl Jam, Foo Fighters, dan sebagainya. Sementara, kurang lebih 10 blok dari sana, ada juga tempat konser Radio Cityhall yang waktu itu memajang besar-besar poster untuk pertunjukan Madonna dengan tiket termurah 800 dollar. Oke, lupakan. Pertunjukan itu segera saya coret dari daftar harus tonton. Petualangan singkat di kota sebesar New York ini memang membuat saya terengah-engah. Dengan jurus aji mumpung, saya berusaha sekeras mungkin untuk merengkuh beragam pengalaman berbeda di sana, terutama yang memperkaya keinginan saya untuk menjadi seorang pekerja seni. Hari-hari yang saya lewatkan di sana tidak pernah terasa sia-sia, pun ketika saya cuma menonton shooting film di Central Park. Dibandingkan kota-kota lain tempat saya pernah singgah, kota New York masih saya beri bintang lima berkaitan dengan kehidupan seninya. Harus dicatat kehidupan multicultural yang pekat tentu memberi banyak kontribusi pada ragam bentuk kesenian yang tercipta. Saya mendapat pengalaman menyaksikan pertunjukan tari Kamboja, dari Ghana dan Zimbabwe, balet klasik Rusia, musik Mongolia, dan banyak sekali yang lainnya. Tak hanya menunjukkan keragaman bentuk tentu, tetapi lewat seni ini, masyarakat New York terus menerus diingatkan tentang identitas mereka yang plural, di mana keterbukaan dan toleransi atas sang liyan merupakan sesuatu yang harus diterima sebagai konsekuensi tak terhindarkan. Ah, bukannya Indonesia, atau katakanlah Jakarta, sama multikulturnya dengan si apel raksasa ini?
image: times square, tempat yang selalu saya lewati kalau mau kerja menyobek karcis. :-)  Kanon Baru dari Dinding Jalanan Oleh: Alia Swastika
Beberapa waktu lalu, ketika berkunjung ke Paris, saya menyempatkan diri mengunjungi Foundation Cartier, sebuah pusat seni kontemporer yang berpengaruh di kota tersebut. Biasanya, di foundation la Cartier inilah seniman-seniman terkemuka dari seluruh dunia melakukan pameran tunggal untuk publik Perancis. Tak terhitung, nama-nama seperti Cai Guo Xiang, Ron Mueck, Jeff Koons, Maurisio Cattelaine, semua pernah memamerkan karya pada ruang kontemporer yang didirikan oleh perusahaan arloji terkemuka ini. Jika Louvre merupakan pusat bagi seni klasik, Center de Pampidou untuk seni modern, maka Cartier (sekarang juga the Grand Palace), merupakan pusat untuk seni kontemporer.
Pada kunjungan saya ke Cartier September 2009, bangunan ini terlihat berbeda ketimbang biasa. Di bagian depan, yang biasanya langsung menuju taman, kali ini ditutup dengan kayu yang digambari dengan graffiti penuh warna. Dari jauh, kesan “formal” atau “cantik” yang biasa saya temukan pada pusat-pusat seni kontemporer tidak terlihat di sana. Tetapi saya menikmati bagaimana kesan seni jalanan itu memberi kesan yang kini dan liar untuk pusat seni kontemporer, apalagi di kota yang penuh bangunan tua bersejarah seperti Paris. Pada saat itu, memang tengah berlangsung pameran “Born on the Street”, sebuah pameran yang secara khusus menampilkan seni jalanan sebagai fenomena baru dalam seni rupa kontemporer.
Respons Paris untuk mengangkat seni jalanan ke pusat seni kontemporer ini tentunya bukan yang pertama di dunia. Tahun 2005, saya sempat menonton pameran yang setidaknya mengangkat hal yang sama, meskipun lebih berfokus pada isu-isu tentang ruang publik ketimbang melihatnya sebagai satu fenomena baru dalam seni visual. Saya pernah menonton pula pameran serupa di San Francisco, dalam pameran tunggal seorang seniman di Luggage Store Gallery. Sebagian besar pameran bertema seni jalanan ini memang bertaut dengan isu-isu lain yang memang menjadi aras utama dalam kajian sosial budaya semenjak paruh kedua 1990an, misalnya isu perkotaan, ruang publik, politik identitas, dan budaya yang termarjinalkan. Beberapa pameran lain bahkan secara khusus menyoroti isu kaum marginal dan pembedaan warna kulit atau kelas sosial dalam kehidupan kota, yang kemudian diekspresikan dengan modus visual. Jadi, pameran-pameran tersebut lebih melihat seni jalanan sebagai sebuah ekspresi.
Pameran di Paris ini sungguh-sungguh membuka mata saya tentang dimensi visual yang kuat dan segar dalam seni jalanan. Hampir seluruh karya dalam pameran ini dikerjakan dengan semangat yang sama sebagaimana seniman rupa professional, sehingga bagi saya yang sedang lelah dengan bentuk-bentuk yang nyaris itu-itu saja di Indonesia, pameran ini terasa sangat segar dalam mengolah citra visual. Kompleks bangunan yang cukup luas ini hampir semuanya dihias dengan graffiti, dengan beragam karya. Di salah satu sudut taman, menjulang hingga hampir 6 meter tingginya, saya menemukan karya dari seniman Amerika yang sedang naik daun, Barry McGee.
Kemudian, memasuki ruang pamer utama, saya disambut dengan enam karya instalasi besar, sebagian terbuat dari kayu, sebagian membentang gypsum, yang memanfaatkan gaya graffiti sebagai subjek. Selain memanfaatkan medium seperti cat semprot, acrylic, atau cat tembok, seniman-seniman juga melakukan eksperimentasi dengan melakukan kolase dari bahan kayu, Di ruangan bawah tanah, eksperimentasi ini semakin beragam bentuknya. Tak cuma bentuk-bentuk dua dimensi dan memanfaatkan dinding bangunan, yang telah menjadi esensi dari seni jalanan, saya melihat mereka juga menautkan diri dengan praktik seni kontemporer yang multidisiplin, seperti video instalasi, lukisan di atas kanvas, objek tiga dimensi, instalasi neon, dan sebagainya. Di halaman belakang gedung, kita juga bisa melihat bagaimana seniman ini membangun sebuah kampung kecil terdiri dari kedai, ruang terbuka dan jalanan kecil yang semua dihias khas dengan tampilan graffiti. Cara karya-karya ini dipresentasikan sangat menarik dan menunjukkan bagaimana graffiti dan seni jalanan sudah beranjak dari posisinya sebagai subkultur dan menjadi bagian dari seni rupa aras utama.
Pada paruh kedua dekade ini kita memang melihat munculnya nama-nama baru dalam daftar seniman terkemuka yang mengawali karirnya dari jalanan, misalnya Banksy, Barry McGee, Zev, dan nama-nama lain yang mulai sering diundang dalam perhelatan-perhelatan penting seperti Bienale/Trienale, serta pameran lain di institusi-institusi seni yang dianggap penting, termasuk di foundation la Cartier ini. Selain larut dalam arus seni rupa kontemporer yang berupaya untuk menjadi lebih plural dan terbuka pada bentuk-bentuk baru, seni jalanan ini memang tampak menjanjikan terutama karena spirit kebebasan dari para senimannya yang tampaknya tidak terlalu dipusingkan oleh gonjang-ganjing pasar seni rupa.
Dalam sebuah sudut ruang di Foundation Cartier itu, kita juga bisa melihat sebuah pusat dokumentasi untuk sejarah singkat seni jalanan dari seluruh dunia, tetapi dengan fokus utama pada jazirah Eropa dan Amerika. Ternyata, banyak sekali peneliti yang memberikan perhatian pada genre seni jalanan ini, dan menyumbangkan banyak dokumentasi untuk pameran ini. Tampak di sana foto-foto tentang praktik seni jalanan ini, termasuk di antaranya media-media yang unik dan menarik yang dipakai oleh seniman jalanan; jalanan, atap bangunan, gerbong kereta, halte, bus kota, dan masih banyak lagi lainnya. Bagi saya sendiri, bosan dengan pameran seni jalanan yang acap digarap terlalu seadanya, pameran ini menjadi satu momen pencerahan baru tentang hadirnya seni jalanan sebagai genre yang secara nyata diterima sebagai bagian dari seni rupa aras utama.
Perkembangan Global Seni Jalanan Sebenarnya, sebagaimana yang sudah sempat saya sebut, seni jalanan ini bukan sesuatu yang sama sekali baru dalam ranah seni kontemporer. Nama Basquiat sudah dicatat sebagai figure yang mempunyai kontribusi penting semenjak akhir dasawarsa 1980an, dengan gayanya mengadopsi lukisan dinding ke atas kanvas. New York memang dikenal sebagai pusat dari seni jalanan, dimana seniman graffiti mempunyai otoritas yang sangat besar sebagai bagian dari kehidupan visual kota. Di berbagai sudut kota, hingga ke bangunan yang tinggi menjulang, mereka mengekspresikan identitas mereka melalui tag (semacam signature untuk keberadaan mereka).
Di kota seperti New York, dengan latar belakang perbedaan budaya yang sedemikian pekat, politik identitas memang merupakan isu yang sangat penting. Karenanya, subkultur anak muda, termasuk di antaranya dalam bentuk seni jalanan, menjadi sesuatu yang siginifikan untuk menunjukkan keberadaan kelompok-kelompok marginal. Makin lama, terutama di wilayah-wilayah seperti pinggiran, seperti Brooklyn, Queens atau Bronx, serta di beberapa area di Manhattan, teknik dan ragam visual dari seni jalanan sendiri semakin beragam. Kalau dulunya hanya menggunakan teknik stensil dan cat semprot, belakangan mereka menggunakan medium lain seperti kayu, barang bekas, dan sebagainya. Wilayah kerjanya pun tak hanya tembok. Seorang seniman jalanan asal Perancis, Zevs, misalnya, bahkan membuat aksi-aksi yang menyerang neon box atau penanda toko pada merek-merek terkenal seperti Louis Vuitton, Versace, Starbuck, gerai-gerai cepat saji, dan sebagainya. Hal yang sama bisa ditemui di kota-kota besar lain seperti Paris, London, atau juga Berlin.
Kota-kota di negara berkembang, seperti Meksiko atau Brazil, gerakan ini merupakan bagian dari gerakan politik kelompok marginal, terutama berkaitan dengan gerakan mahasiswa di akhir dekade 1970an dan 1980an. Mereka juga berhutang banyak pada tradisi mural propaganda terutama yang ditunjukkan oleh seniman-seniman semacam Diego Rivera. Sejarah yang macam ini memunculkan satu politik identitas tertentu, di mana mereka mencoba untuk memberikan cirri khas pada karyanya, dan membelok dari tradisi-tradisi graffiti di negara lain, terutama Amerika.
Jepang juga menunjukkan fenomena yang khas pada seni jalanan, terutama karena ia mengembangkan satu teknik baru berkaitan dengan warna dan penggunaan cat semprot, serta, tentu saja, popularisasi figur-figur komik yang naïf di jalanan. Di Tokyo, seni jalanan bergabung dengan seni-seni aras utama anak muda di Harajuku, menghiasi bar dan kafe-kafe di tempat alternatif, tapi disterilkan dari tempat-tempat publik semacam stasiun metro.
Seni Jalanan dalam Konstelasi Pasar Seni Rupa Semenjak lima tahun belakangan, nama Banksy, menjadi salah satu representasi kesuksesan seniman jalanan di kancah seni rupa global. Ia masuk deretan seniman paling sukses di kancah komersial, di mana karyanya bisa mencapai harga milyaran rupiah. Saking fenomenalnya karya Banksy, ia menciptakan kecenderungan baru di mana tembok-tembok di mana ia menorehkan karyanya bisa dihargai dengan uang, dan membuat orang bahkan membeli menjebol tembok-tembok tersebut. Karyanya yang berupa stensil bergambar Marylin Monroe dengan gaya pop-art, misalnya, pada sebuah balai lelang laku hingga harga 960,000 poundsterling. Menariknya, keberadaan Banksy yang misterius dan anonimus, berbeda dengan kecenderungan seniman lain yang dikenal juga karena personifikasinya, juga membuat pasar menjadi semakin penasaran dan memburu karya-karyanya.
Selain Banksy, kita juga mengenal nama-nama semacam Barry McGee atau Keith Hering yang tidak saja diincar oleh kurator-kurator terkemuka untuk peristiwa seni internasional yang penting, melainkan juga mewarnai berbagai art fair dan balai lelang kelas dunia. Karya-karya mereka juga dikoleksi oleh hampir seluruh museum kontemporer di berbagai belahan dunia, terutama untuk merepresentasikan kecenderungan baru atas lukisan dan karya-karya di atas dinding. Di New York, bisa pula disebut nama Shepard Fairey yang dikenal sebagai Obey di jalanan. Tak hanya menjual karya, Obey juga mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari penjualan merchandise-nya di seluruh dunia. Harus dicatat, strategi menjual merchandise ini memang merupakan sesuatu yang cukup penting di kalangan seniman jalanan, terutama ketika kita menautkannya dengan budaya indie dalam ranah yang lebih luas, dimana sprit Do-It-Yourself merupakan sesuatu yang dirayakan oleh anak muda di seluruh dunia.
Seniman-seniman jalanan yang lain, semacam d*Face, yang punya posisi cukup berpengaruh di London, menggemparkan dunia seni di sana ketika pameran tunggalnya di Galeri Black Rat Press London, terjual ludes dengan harga yang cukup tinggi. Salah satu pembelinya adalah kolektor Banksy yang fanatik, Christina Aguilera. Saya kira, sambutan pasar yang cukup tinggi terhadap keberadaan karya-karya seniman graffiti atau secara umum, seni jalanan ini, dipengaruhi oleh keinginan kolektor, terutama dari generasi baru untuk mengonsumsi dan mengapresiasi karya-karya yang bertaut dengan fenomena kekinian dan menunjukkan kesegaran bentuk. Ketika genre komik ataupun pop-art sudah dianggap tidak cukup lagi untuk merepresentasikan apa yang terasa sekarang itu, maka pilihan untuk memasuki ranah-ranah yang dulunya dianggap sebagai subkultur kemudian menjadi bagian dari upaya merepresentasikan spirit pluralisme itu sendiri. Di luar kecenderungan untuk menempatkan seni jalanan sebagai bagian dari kanon dalam seni rupa aras utama, saya kira harus dicatat bahwa spirit subkultur yang melatarbelakangi gerakan ini masih bisa dibuktikan dengan kemampuan seniman-seniman ini untuk menjaring kelompok kolektor-kolektor baru yang berasal dari generasi mereka sendiri. ini seperti menerjemahkan slogan: dari anak muda, untuk anak muda. Dan jangan salah, muda bukan sekadar berkait dengan usia biologis. Iya, kan?
Alia Swastika Visual Arts edisi Februari 2010
 Kisah romantik di film-film itu memang sungguh banyak terjadi di dunia nyata. Saya sendiri selalu berusaha tak terlalu memisahkan apa yang fiksi dan yang nyata, selalu saling tumpuk dan menindih saya. Terkadang, mengingat apa yang saya alami di bandara beberapa waktu lalu, saya membuat sendiri sebuah film di kepala saya, yang tentu saja, HAPPY ENDING!
Selama satu tahun belakangan, saya menyadari bahwa hidup saya dipenuhi dengan perjalanan-perjalanan yang memungkinkan saya singgah di airport hingga berjam-jam lamanya. Dari bandara di pelosok Ende hingga yang megah seperti Charles de gaulle, dari yang penuh joki bus antar kota seperti di Padang, hingga yang nyaman dan aman seperti Changi. dan seperti biasa, saat-saat seperti ini selalu saya manfaatkan buat watching people.
Sekarang saja saya menulis catatan ini di Bandara Soekarno Hatta, terminal 3. gila, pesawat lanjutan saya masih 5 jam lagi. belum bisa chek in pula. Waktu menunggu yang panjang begini saya manfaatkan untuk mengerjakan PR-PR yang belum sempat diselesaikan, dan, tentu, membaca buku sambil mendengarkan musik dari play list yang itu-itu saja. di depan saya, seorang remaja perempuan berambut blonde, senang asyik menikmati donatnya, juga secangkir kopi dengan cream yang kental, sambil membaca buku dengan serius. agak ke depan lagi, sekelompok bapak-bapak, yang saling bicara, tetapi masing-masing asyik juga dengan blackberrynya.
Menunggu di airport bisa jadi sangat berbeda jika kamu sendiri, atau kamu bersama sekelompok orang. Perasaan atas 'situasi sementara' yang terus menerus, keinginan untuk segera beranjak, membuat kita acap bertindak ekstrem atas dua pilihan itu. orang-orang yang, maaf, sudah tua, biasanya rajin memulai percakapan (sementara anak muda biasanya tidak terlalu nyaman diajak ngobrol sama orang tua yang biasanya sering bawel atau sibuk bercerita tentang kejayaan masa lalu). kadang, kita juga berusaha sebisa mungkin menerima perasaan kesendirian itu, lalu asyik dengan internet, buku, musik, telepon genggam (yang sebenarnya bukti bahwa kita tidak bisa menerima kesendirian. hehehe)
Di bandara-bandara yang besar dan megah, fasilitas untuk membuat orang nyaman dalam jangka waktu yang lama adalah sesuatu yang paling diandalkan. tentu saja soal-soal mendasar seperti kebersihan dan kedisiplinan adalah sesuatu yang mutlak, jadi mereka bisa memikirkan hal yang lebih mendasar. transport system adalah elemen paling penting di setiap bandara; bagaimana penumpang datang dari kota, bagaimana layanan dari satu terminal ke terminal lain, juga ketersediaan dalam jangka waktu 24 jam. Lah, kalau soal ini, bisa ditebak kan Jakarta adalah bandara terparah, bahkan dibandingkan dengan bandara padang sekalipun. :-)
Terminal 3 ini didesain dengan model bandara yang umum di seluruh dunia (selain terminal 3, yang mengadopsi desain ini adalah bandara Hasanudin di Makassar yang cukup megah menurut saya). soal bersih dan nyaman, boleh diacungi jempol. yang kurang adalah fasilitas hiburan, tempat orang bisa nonton tivi sambil menunggu waktu check in. Atau ruang kerja dengan fasilitas plug internet tempat kita bisa bekerja dan tetap merasa produktif. Fasilitas kursi pemijat sih tidak terlalu perlu, walau kalau ada tentu asyik juga.
Terlalu sering di Changi memang membuat saya makin nyaman dengan bandara. Apalagi, menurut saya changi adalah bandara istimewa karena tidak punya penerbangan domestik. hihihi. Batas negara seperti luruh di sana, tak seorang pun merasa penting dengan nasionalitasnya. Ini adalah sebuah kumpulan orang-orang yang melompati batas-batas, memasuki sesuatu yang baru, yang sementara.
Bagi saya, dengan cara pandang tertentu, bandara adalah ruang perbatasan, di mana negara meluruh, menjadi sesuatu yang 'global', karenanya ada duty free, ada daerah tak bertuan, di mana ketika melintasi batas imigrasi, kamu sudah bukan di negaramu lagi. Tapi ini adalah tempat yang menggunakan aturan nyaris sama di mana-mana. seragam.
Masih 4 jam 30 menit lagi... beberapa patah kata sudah saya sapakan kepada cewek muda itu. saya teringat berminggu lalu, di sudut yang sama, saya bertemu dengan seorang murid Derrida dan percakapan subuh yang sedemikian melenakan....  WAR by S Teddy D curated by Alia Swastika AKILI ART MUSEUM 23 January to 10 February, 2010y
A Never Ending Effort to Remain Human
An artist might sometimes be incessantly struggling with something that we often consider as cliché (and that is why we tend to view them as a group of romantic people) and stubbornly offer something that they see as new. In our journey to appreciate the works, however, we come to know that sometimes it is not novelty that we are after, and sometimes we are aware that the idea of novelty is akin to the idea of ghosts. In the works by some artists, we seem to be forced into witnessing the same old thing and, without our being fully aware of it, we are disturbed by the terror of something that remain invariably the same.
S Teddy D is an artist who keeps bothering me with never-ending questions, as well as statements, about violence and war. Since I became interested to follow his artistic travails in 2000s, the issue of violence has been consistently appearing in a variety of forms and media. When preparing for this solo exhibition, Teddy told me that the issue of violence is still bothering him, especially during this latest creative period. He still wanted to present a provocative exhibition that can make people talk about this issue again, after the deluge of political issues and a frenzy of environmental jargon overrun it.
Almost fifteen years and he is still talking about the same thing—this, naturally, made me rather worried. During a discussion, however, he said something that convinced me about his choice of theme. “I feel that I’m not yet done with all the questions I have about war and violence. Perhaps others see me as working on the same old thing. But this is not about others. This is about my own questions regarding the curse of violence that we humans have upon us. I still need answers for myself, to help me understand the essence of humanity.”
Teddy’s answer still rang in my ear until a few days afterwards. I reflected on the reasons why an artist creates his or her art works. Of course, to be connected to people, to observe the surroundings, is something that we have always considered, or agreed upon, as the obligation of an artist. Teddy, however, makes me think that the essence of creative idea is ultimately about the self, the individual, and the personal restlessness. It constitutes the freedom of thought that has become so invaluable. This “same old issue” is representative of the terrors that lurk within an artist’s mind—and that of each one of us—that need to reach its final course, to be concluded. And so here we are now, observing how Teddy struggles with his questions about war.
***
The visual images about war that have been reproduced for as long as the history of civilization make us see war from the perspective of the victims. Antiwar campaigns mostly use pictures of the victims as the subject, with the heart-wrenching gazes or faces without any light of hope. Somehow, apart from the critical questions about why wars take place, we have been mostly encouraged merely to sympathize with the victims. Pictures about the First World War, and the films that we watch long after the war, mostly speak for the victims. Every now and then, among hopeless faces, we see a town ravaged, houses razed down, blood spilled, and many more unforgettable images.
Of course, such spread of images is understandable. With such pictures of the victims, we have been encouraged to extend our empathy, to support antiwar campaigns to stop the increasing number of fallen victims and to save civilization. Studies done in relation with visual codes regarding wars, especially over archives such as photography or films (whether fictional or documentary in nature), show the significant role of visual symbols in historical data. In the subsequent periods, it has spurred the emergence of image makers (including artists) that play an important role in supporting the antiwar stance of the oppositions. In the US at the end of the sixties to the seventies, the antiwar movements, especially the one that opposed the American invasion to Vietnam, provided a common ground for the artists to reflect on the role they played in the society especially according the creation and uses of art works to move the people in opposition to the government. Apart from attacking the policy of the American government to enter Vietnam, the artists’ movement also succeeded in defending the rights of the marginalized civilians such as the Blacks, the homosexuals, and the feminists.
Compared to the photographers and documentary makers, the visual artists naturally have a very different approach to view the issue of war, considering how the medium itself necessitated a different logic. In the anti-Vietnam-war of the seventies, along with the beginning of the new art movement in the West, the artists started to use novel strategies to create works that could be reproduced and become a part of the antiwar propaganda, enjoyed by many. Andy Warhol, for example, created posters with screen-printing technique, conveying antiwar and antiracism messages. This proved to be a significant experiment in Warhol’s aesthetic journey. Jasper Johns, meanwhile, created works of collage that show his critical stance toward the policies of the US government in relation with their military deployment.
***
Teddy’s works in this exhibition offer us a different visual approach to observe the phenomenon of war. While previously we have seen Teddy’s works that talk in a more general sense about war (which has also to do with the power relation between the state – the military – the civil society), today Teddy tries to have a sharper focus on the issue of war. War is a rich issue that is no less expansive than violence, and the two issues are undeniably interconnected. Although he has a profound empathy for the war victims, as he watches the loss of hope in the pictures and documentary films that he found in DVD rentals in Yogyakarta, he seems to want to present a distinct visual terror about war.
Since the creation of his attention-grabbing work at the National Museum of Singapore —Teddy himself seems to think that the work exceeds his own expectation—Teddy has been feverishly creating new works. His workshop is increasingly full of people, always busy with never-ending activities. There is always a new work being made, new ideas being executed, or new sketches waiting to be given shape in reality. It is in such a feverish period that the works about war are being made. Passion not only makes the artist reach for form and perfection, but also encourages him or her to keep on seeking answers for the haunting questions.
With all the works that are on display today, Teddy clearly shows that the grand issue in war is that of power. Acts of occupation and expansion are about how power is maintained, although with ways that create many victims. Albeit following many actual political issues rather intently, in his works during the last three to four years Teddy has mostly been showing the confrontations between anonymous parties. One cannot directly pinpoint who is the party in power or the one conquered. Perhaps the map of power that has become too complicated is too difficult to disentangle, so much so that we prefer to bring forward the more common phenomena.
Teddy also shows his belief that the biggest loss that our civilization suffers in the event of war is the loss of individual freedom. Teddy believes that human beings are creatures of thoughts and feelings. The event of war, which create fear and threats of loss, makes people lose the capacity to think and create. The many symbols of human heads, which are indeed characteristic of him, can be seen as his way to talk about the forced loss of freedom and human rights in war.
Teddy generally views the military (or militarism) as a legalized tool to inflict violence and justify wars. There is a slogan that says: “militarism is the theory, while militarization and war are the act in practice.” Military symbols are therefore dominant in Teddy’s works—the most prominent being the work The Butcher, a series of Ronald McDonald sculptures colored in military patterns (of the US forces), holding guns. The work cleverly illustrates the relationship between militarism and capitalism; how the military is the extension of the capitalists that are supported by the government.
Apart from the military pattern that has long been an idiom in his works, Teddy now explores army figures with uniforms that point at the levels of the different officers. Such idiom has been used in his previous works, in the form of a line of army officer figurines made of metal in the height of 25 centimeters. Today, Teddy reuses these figures, turning them into something that is entirely different visually. In the work of trident, titled Thought, Lied, Action, Teddy puts the figurine on a head, resembling hair decoration of the punk community, while in another head he puts them in such a way as to resemble Mickey Mouse ears, and yet in another work it is installed in the mouth to resemble a cigarette. This seems to be a fun play of arrangements of forms, in which the military figures and the shape of the head are in dialogues, and every time the army figurine changes place, it creates a different meaning, showing the strength of its semiotic power.
The same head shape is also applied in another work, to give shape to another idea, especially one related with the loss of individual freedom in the event of war. The metal box in which the head is stored can indeed be read as a prison, as implied by the title (The Prisoner of War). Apart from taking lives (the right to live), wars also seize the freedom of living, in which other rights—the right to education, health, and a happy life—are being detained by the power struggle. Another work that uses a box is The Truth Ways, with visual images that offer a form of cynical humor.
While other works present several visual elements that have been used in previous works, in Humankind Make Their Own Disaster, Teddy introduces a new element. Apparently, he wants to talk about the issue of nuclear war in this work, as he connects nuclear atoms (or balls) with one another, creating a galaxy of sorts. Interestingly, this galaxy-like connection of balls might remind us of the shape of human brain, so much so that, in relation with Teddy’s choice of title, we can understand Teddy’s idea that it is humans themselves, with their minds, that move our desires for all kinds of creations that lead to destruction.
Apart from creating three-dimensional metal works, Teddy also explores intriguing ideas by making use of replicas of ruins made of resin. Each fragment of the ruins is incised with the text that reads “war for whom”. The work Tragical Script also shows a distinct approach with graffiti in its simple definition of text on walls. The fragments of the ruins are then arranged on a bed that looks like hospital beds. Out of all the works on display today, it is in this work, through the use of a hospital bed, ruins, and the text, we encounter the perspective that represents the victims.
Teddy’s paintings that are presented in this exhibition show his tendency to return to the old pattern that he has once left for quite a while. In his “successful” paintings, the obvious pattern shows that he can distill his universe of ideas and convey it in minimal visual symbols, with adept mastery over color and form compositions. His huge creative energy encourages Teddy for the last few years to create numerous experiments in his style of painting. As normal for experiments, not all of them result in interesting works. As an artist, however, Teddy keeps on searching for new ways to define and create paintings.
We can see the results of the painting experiments in this exhibition today. In some of the paintings, we can see how Teddy still has a penchant for experimenting with dark and intense colors, combined with bright hues such as flame-like blend of red and yellow (that he then links with the issue he is exploring: war). His tendency to become an expressionist painter is evident in his sharp and strong charcoal lines. In the works that are based on portraits, the charcoal lines appear as a strong element of identity for his works, especially when he wishes to convey a certain expression. The faces in Teddy’s paintings might on the one hand seem terrible, but on the other hand they look as if they are crying for help. There are gaping mouths. The fear to enter the womb . Such models are certainly very much different from the usual images of war victims. Apart from the expressions of fear and loss, which are generally the basic impression created by images of war victims, Teddy also offers a distinctive perspective in which the humans appear as strong subjects that have the willingness to take a stand in relation to the war itself.
*** In general, the exhibition of “War” that opens Teddy’s career in 2010 today constitutes a path of return after his previous solo exhibitions in the last few years fail to show his great potentials as an artist. We see how as he has gained an increasingly stronger position in the Indonesian art map (and probably also that of the Southeast Asia), Teddy presents his creative ideas in progressively higher quality, with richer visual symbols that show a vast knowledge in a variety of disciplines. The art community has known Teddy as an artist who likes to read and knows a lot of things, especially because he is interested in the political issues that are related to issues of human rights.
Teddy’s works show the genuine quality of his artistic practices, in which he tries to reach something that has been haunting him precisely because he wants to find the answer that he has been seeking, without worrying about how the issues might affect his career as an artist. It is this answer, or to be precise the truth, that he wants to attain through the practice of art; perhaps not to contribute more to the myriad ideas that have been recorded previously in this world, but simply to affirm what has been there and spread it further and turns it into a source of inspiration for many.
 The back yard of the building Erasmus Huis, Jakarta, since January 14, 2009 was different from the usual, particularly when we find of new objects in the whole surrounding area. In the front of the building, visitors can immediately see several sculptures with a variety of styles and materials.
One of the sculpture is the work created by senior artist, Anusapati, Shelter for the Goodhearted, which appears as an object of non-figurative sculptures that look different from other sculptures which been displayed in the same space.
Anusapati created an object about one meter height, made of wood that resembles a house with a certain gradient, so that represents the idea about illusion and reflection on the concept of equilibrium (balance). This is an interesting work because it can get out of the convention statues that had been accepted in history of Indonesian art since modern period, both in terms of media or form.
And in fact, throughout the development of contemporary art in Indonesia, not many sculptors who could produce works of sculpture beyond the conventions, such as this kind of Anusapati's work. And this is one of the reflection resulted from the exhibition titled "The Spirit of Interaction" which lasted until February 14, 2009.
Curatorial concept of this exhibition was done by senior sculptor, Dolorosa Sinaga. The basic idea, she took every sculptor who was involved in this exhibition to respond to the gallery space and rear yard building and garden Erasmus Huis. In this way, sculptors are encouraged to interact, both with a space or a medium that they used to work.
In the gallery space in Erasmus Huis, displayed some works are quite fresh and interesting. Abdi Setiawan, a graduate majoring in sculpture artists Faculty of Fine Arts Indonesian Arts Institute (ISI) Yogyakarta, for example, became one of the work that can bring visitors into laughed for his humorous style.
At the other end of the room, visitors can see the work Titarubi, Vagina Brocade, which had become part of the film Opera Java Garin Nugroho. This work is in the form of a large cone-like netting made from brocade, surrounded by a half-body statue. The statues were covered with colorful brocade.
Beside her, we can see a work with the same material, is a form of appropriation of the legendary work of Michael Angelo, David. The work entitled Surrounding David Titarubi This is the interpretation of the construction of masculinity and femininity are represented in the history of modern art. The original version of this work, to reach nine feet high, on display at the National Museum of Singapore from May to September 2008 last.
The works displayed in the backyard of this building actually has a great potential to "hit" conventions of modern sculpture. Awan Simatupang works, Vertical, for example, shows an interesting approach is far from the monumental impression that we usually feel when confronted with the statue. The work was composed of nine small boxes, about 40x40 inches, is installed through the garden path. Uniquely, each resembling a box in the urban area, surrounded by grass around. Buildings symbolized with thin wooden rod attached rose.
Then, Hardiman Radjab, as usual, still too late to process old suitcases. He put some suitcases that "breathe" on park benches. The work titled Long Journey reflects a pause that always we need in a way, let alone a long journey. Suitcase that has always been a friend in the adventure and included the stories become part of the memorabilia.
Compared with other works in this exhibition, Hardiman succeeded in creating an atmosphere of quiet and poetic, which makes the statue was talking to the visitors. Hardiman the other works seem more contain humor: he made some old suitcases to be similar to the bread sponge. A simple idea but talented.
Several other works are still using the old approach is common in modern statues. They treat heavy materials such as bronze or metal with a conventional manner so as not to show an effort to exceed the bronze as a strong specific medium.
The forms are processed was likely taken for granted: human figures or bodies distorted, new realism model, and the alike model of objects.
The basic curatorial idea which is about interaction, then brought the artists produce a variety of works. This diversity is, on the one hand, show some different approaches in the development of arts in Indonesia. But on the other hand, because space for artists interpretation is too large, then the works on display were "disconnected" from each other.
Or, in other words, a capability gap from one artist to another is too visible.
Alia swastika Belakangan, saya menyadari, kalau sedang kumpul bareng teman-teman di luar pekerja seni, termasuk para kolektor atau seniman, apalagi teman-teman yang sudah punya jabatan keren di kartu nama di perusahaan besar di Jakarta, handphone saya memang paling jelek. hehehe... :-) terus terang, sekarang saya pake HP LG yang harga barunya hanya 350 ribu rupiah. Sudah tentu, fiturnya sangat terbatas. warna cuma di wallpaper, no camera, gak 3G, gak bisa untuk facebook, dan, apalagi, gak qwerty. Saya memang membutuhkannya hanya untuk sms dan telepon, jadi untuk apa pake fitur macam2?
Dulu, once upon a time, ketika saya masih sedemikian ceroboh (masih sekarang sih cerobohnya), saya sempat juga senang beli hp mahal yang punya fasilitas canggih. Tapi, sebagaimana yang bisa ditebak teman-teman saya, dalam waktu bulan saja, hp itu sudah raib entah ke mana. hehehe... sejak itu, saya bilang ke diri saya sendiri, saya tidak akan lagi membeli handphone mahal yang membuat saya merasa rugi besar kalau akhirnya cuma hilang. Pertimbangan saya jadi demikian sederhana: desainnya menarik dan tuts keypadnya empuk jadi gampang untuk sms.
Sekarang, hampir 60 persen teman saya memakai blackberry. termasuk mereka yang dulu menyikapinya dengan sedemikian sinis. Toh, ujung2nya, dipaksa lingkungan sosial, mereka memakai juga. Hehehe, memang, selain facebook, rasanya ini adalah ancaman sosial paling mengerikan sepanjang 2009.
Saya sih, pertama-tama agak enggan memakai Blackberry, karena: desainnya jelek. Nggak catchy. Kalau harus pilih, jelas saya pilih iphone. saya juga gak terlalu suka ide qwerti yang tombolnya menonjol begitu. Kalau touch screen, oke lah. Kedua, harganya mahal. Kembali ke kisah pertama, misalnya saya membeli blackberry dan pada akhirnya jatuh atau ketinggalan di taksi, kok rasanya saya sulit memaafkan diri saya.
Tapi teman-teman saya juga sudah sering protes karena kadang saya susah dihubungi katanya. Yah, bagaimana ya, kan saya naik motor dan mobile, masa harus sms-an di motor? Lalu, saya suka lama buka email. waaaah, bagaimana ya, ini yang menurut saya butuh ditelaah lebih jauh. Saya tidak merasa bahwa saya harus terhubung dengan sambungan internet 24 jam. Ketika menunggu di bandara, ketika terjebak macet di jakarta, ketika antri untuk dapat taksi saat hujan tiba, saya bukan tipe orang yang merasa harus membuat waktunya produktif dengan membaca atau membalas email. Kadang-kadang, ketika menerima telepon yang mengonfirmasi apakah saya sudah terima email, saya masih menikmati menjawab: "bentar ya mbak/mas, saya belum dapat sambungan internet nih, jadi belum bisa membaca dan membalas."
mungkin saya memang rada kuno dalam hal ini. tapi yaaah, ini soal kapan saya betul2 merasa tak bisa lagi menguasai diri saya untuk terhindar dari ancaman ini. Ketika saat itu tiba, bisa jadi saya menyerah. Tetapi, sepanjang pilihan saya terhadap Hp butut ini masih tidak punya gangguan yang relevan atas hidup dan aktivitas kerja saya, sepertinya saya masih malas untuk memakai blackberry. saya tidak mau disapa orang dengan pertanyaan, "PIN BBM?'
Dan, saya juga sangaaaaat menikmati membaca novel ketika menunggu di bandara, ketika berada di taksi, ketika kencan kita belum datang. Dengan pilihan hidup macam itu, saya berhasil membaca novel setidaknya dua dalam dua bulan. Bagi saya, sebagaimana blackberry dan hp-hp yang selalu terhubung dengan internet itu, buku adalah saya cara terhubung dengan dunia.
Terdengar romantik ya? Media Massa Islam Indonesia Oleh Alia Swastika
SEIRING dengan dibukanya kran kebebasan pers pada 1999, pers Islam semakin menampakkan dirinya sebagai salah satu kelompok pers yang memiliki posisi cukup kuat dalam masyarakat. Salah satu fenomena yang menandai penguatan ini adalah jumlah pers Islam yang semakin meningkat, dengan segmen-segmen pembaca yang semakin khusus, baik dengan parameter usia, gender, kelompok sosial, maupun aliran pemikiran. Tapi pers seperti apakah yang dirujuk ketika berbicara tentang pers Islam? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Litbang Republika dan The Asia Foundation tentang Islam and Civil Society, dengan tema khusus "Pers Islam dan Negara Orde Baru", mendefinisikan pers Islam sebagai: "Pers yang dalam kegiatan jurnalistiknya melayani kepentingan umat Islam, baik yang berupa materi (misalnya kepentingan politik) maupun nilai-nilai". Kemunculan pers Islam dimulai pada awal abad ke-20, bersamaan dengan lahir dan menyebarnya ide-ide reformasi yang berkembang di Timur Tengah, terutama dari Mesir. Ide-ide tentang reformasi itu setidaknya menyebar melalui dua majalah terkemuka Mesir, Urwatul Wutsqo dan Al Manar. Penyebaran ide ini begitu luas, hingga ke Jawa, dan melahirkan gerakan Jami'at Khair. Para anggota organisasi ini kemudian menyebar dan mendirikan organisasinya sendiri, seperti KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah. Selain Muhammadiyah, berdiri pula beberapa perkumpulan lain seperti Sarekat Dagang Islam, Persatuan Islam, atau Jong Islamienten Bond (Joenaidi, 1997). Organisasi-organisasi ini membangun iklim diskusi bagi pemikiran Islam mutakhir. Dalam skala yang lebih luas, ini memunculkan kebutuhan akan pers Islam Pers Islam, sebagai bagian dari pers pribumi yang bertujuan menyebarkan semangat kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan, awalnya tampak sebagai media "partisan", karena kecenderungan untuk menyebarkan ideologi kelompok penerbitnya. Media yang tercatat sebagai pers Islam pertama adalah majalah Al Munir (1911), terbit di Padang, dan dikelola oleh para ulama muda Sumatra Barat. Setelahnya, kebanyakan pers Islam muncul sebagai bagian dari organisasi Islam, misalnya Sarekat Islam (SI) Surakarta menerbitkan Sarotama, SI Semarang menerbitkan Sinar Hindia, SI Banjarmasin menerbitkan Persatoean, SI Surabaya menerbitkan Al Djihad, Persatuan Islam menerbitkan Pembela Islam. Selain mewartakan ajaran Islam Pembela Islam bersama Medan Moeslimin bersikap keras menentang Pemerintah Kolonial. Biasanya, mereka menggunakan dalil-dalil Islam sebagai dasar untuk menunjuk kejahatan yang dilakukan Pemerintah Kolonial. Namun pada saat yang sama, penulis seperti Haji Misbach, menggunakan media yang sama untuk memperkenalkan gagasan nasionalisme yang lebih sosialistis, bahkan komunis. Ini menunjukkan bahwa wacana dari kelompok lain yang pada saat itu merupakan bagian dari perdebatan dalam rangka mencari "bentuk nasionalisme" mulai menjadi bagian dari wacana Islam pula. Meski kebanyakan merupakan pers partisan, sejak awal masa perkembangannya, seperti halnya majalah-majalah lain pada saat itu, majalah Islam sudah menopang kelangsungan terbitnya dengan menerima pemasangan iklan dari perusahaan besar. Majalah Adil, yang terbit untuk menyuarakan aspirasi Muhammadiyah misalnya, menerima iklan dari sebuah perusahaan rokok. Setelah proklamasi kemerdekaan, jumlah pers Islam mulai surut. Selain karena banyak di antara terbitan-terbitan tersebut diberangus Jepang, banyak terbitan yang terpaksa gulung tikar karena kesulitan keuangan. Berbeda dengan yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan, terbitan-terbitan yang dapat bertahan hidup pada masa ini mulai lebih banyak menggali lagi persoalan syari'at Islam. Beberapa majalah yang masih terbit pada masa itu adalah Adil, Kiblat, Al Muslimun, dan Suara Muhammadiyah. Pada 1959, di saat pers Islam masih menjadi pers partisan, Hamka bersama beberapa tokoh Islam lainnya menerbitkan sebuah majalah Islam yang tidak bernaung di bawah organisasi Islam tertentu, Panji Masyarakat (Panjimas). Senada dengan situasi sosial-politik yang riuh pada masa-masa itu, kebanyakan artikel yang diterbitkan oleh Panjimas bernada tajam dan kritis terhadap penguasa. (Djunaidi, 1995). Tahun-tahun awal Orde Baru merupakan masa ketika pers Islam mulai berhadapan dengan pasar. Panjimas misalnya, yang diterbitkan lagi pada 1966, mulai mengubah penampilan dan membenahi tata artistiknya demi pembaca yang lebih luas. Kurniawan Junaidie juga mencatat, selain perubahan pada sisi artistik dan kemasan, Panjimas pada saat itu mulai berbicara tentang soal-soal yang lebih praktis dan "pop", bukan lagi banyak berisi artikel renungan. Penelitian yang dilakukan Republika mencatat bahwa isu populer wacana Islam pada masa Orde Baru adalah modernisasi, yang secara khusus dihubungkan dengan developmentalisme. Pada satu sisi, respon-respon yang muncul pada media-media Islam sempat memunculkan kekhawatiran bahwa umat Islam akan digiring pada perjuangan untuk meletakkan Islam sebagai dasar negara, dan pada saat bersamaan, ketegangan penafsiran atas pembangunan dapat memunculkan anggapan bahwa Islam anti-modernisasi. Munculnya perdebatan ini akhirnya justru menjadi tonggak yang penting bagi berkembangnya kembali iklim intelektual bagi generasi muda Islam. Diskusi dan tulisan-tulisan yang dihasilkan generasi muda Islam inilah yang kemudian menjadi embrio bagi maraknya kembali penerbitan Islam di akhir 1980-an.
SEBAGAI bagian dari gerak dinamis sebuah generasi yang tumbuh dalam iklim intelektual yang riuh, pers Islam pada akhir 1980-an, menunjukkan gejala kuatnya artikel-artikel teoritis dan akademis. Perdebatan intelektual muncul di media semacam jurnal Ulumul Qur'an atau Media Dakwah, juga di harian Republika pada awal 1990-an. Selain berpartisipasi dalam pers-pers Islam besar, beberapa kelompok anak muda mulai membangun media mereka sendiri, misalnya Hidayatullah, Sabili, dan Ummi. Sementara saat itu, kelompok penerbit besar juga sudah mulai melihat umat Islam sebagai pasar potensial. Kelompok penerbit majalah Kartini misalnya, pada 1986 menerbitkan majalah Amanah dengan sasaran pembaca keluarga Islam. Amanah mengawali era pers Islam yang ringan, populer dan meriah, dengan orientasi bisnis yang kuat. Hanya sepertiga dari isi majalah Amanah yang menurunkan artikel ajaran Islam, sementara sisanya merupakah artikel populer. Tiga tahun setelah terbitnya Amanah, terbit Ummi yang bersegmen wanita muslim. Majalah ini cukup populer di kalangan wanita muslim dewasa, karena para pengelolanya menyapa pembaca tidak dengan "bentakan yang tajam", melainkan dengan "bisikan yang bersahabat". Untuk segmen remaja, kelompok Ummi juga menerbitkan Annida. Awalnya Annida juga memuat artikel-artikel dakwah, namun terbukti strategi semacam ini tidak bisa merangkul remaja. Selanjutnya, kebijakan keredaksian diubah dan diputuskan memuat kisah-kisah Islami. Selain dimaksudkan sebagai bentuk lain dari dakwah, kisah-kisah Islami juga dipandang mampu menyuguhkan kepada remaja realitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Strategi ini justru mencuatkan nama Annida di kalangan remaja Islam, meskipun popularitas majalah remaja seperti Hai dan Gadis masih tak tergoyahkan. Seperti halnya majalah remaja lain, Annida juga tampil khas remaja: ceria, semarak dan bahasanya ringan. Selain tiras penjualannya yang tinggi, pendapatan Annida juga banyak ditopang oleh iklan-iklan dari perusahaan-perusahaan yang segmentasinya remaja muslim seperti iklan kosmetik, butik busana muslim, kaset kelompok nasyid, dan sebagainya. Pada sisi lain, kemunculan Annida dengan porsinya besar pada pemuatan cerita islami telah melahirkan generasi-generasi muda Islam yang dekat dengan kebiasaan menulis. Para penulisnya bahkan kemudian membentuk kelompok Forum Lingkar Pena (FLP) yang hingga tahun 2000 telah memiliki anggota lebih dari 6 ribu orang di seluruh Indonesia. Novel-novel islami yang ditulis anggota FLP ini termasuk laris manis di kalangan buku-buku remaja. Formula "menyuguhkan Islam dengan senyum" kemudian menginspirasi banyak kelompok lain buat menerbitkan majalah bernuansa senada. Semakin mudahnya izin untuk mendirikan penerbitan setelah 1998 juga menjadi faktor penting yang menyebabkan muncul semakin banyak majalah islami. Sebagian besar dari majalah Islam populer membidik perempuan dan remaja. Sebut saja majalah Nikah, Noor, Karima, El-Fata, Puteri, Muslimah, Permata, dan beberapa lainnya. Selain menggunakan formula Ummi dan Annida, majalah-majalah islami yang baru muncul juga mulai menjadikan para selebris sebagai salah satu sumber berita, terutama dalam kaitannya dengan pengalaman spiritual mereka sebagai seorang muslim. Salah satu selebritis yang banyak menjadi narasumber adalah Inneke Koesherawati. Tulisan dan hasil wawancara tentang keputusan Inneke untuk mengenakan jilbab sembari tetap bertahan di dunia hiburan menghiasi beberapa majalah. Banyak pula yang menceritakan kisah nyata tentang petualangan manusia mencari kebenaran dalam Islam. Mulai muncul pula rubrik-rubrik gerai mode (menampilkan aneka macam model busana muslim), konsultasi mode atau konsultasi kecantikan. Meskipun tampak menonjolkan sisi "pop", sebagian pers Islam generasi baru ini tetap berusaha untuk memberikan alternatif lain bagi remaja dalam berhadapan dengan industri hiburan dalam lingkup yang lebih luas. Annida bahkan terang-terangan dimaksudkan sebagai media yang berusaha mengajak remaja untuk melawan penyebaran hedonisme dan konsumerisme. Selain memberikan nuansa islami pada budaya pop (misalnya dengan menampilkan profil kelompok nasyid), pemilihan remaja Islam berprestasi, dan sebagainya, media-media ini juga mulai memasukkan isu-isu politik. Di media-media remaja lainnya, perbincangan tentang politik dan hal-hal yang terlalu serius cenderung dihindari. Selain pada pilihan isi dan bahasanya, perbedaan yang cukup tajam dengan media Islam pada era-era sebelumnya adalah sistem manajemen yang lebih tertata dan orientasi bisnis yang lebih kuat. Pada masa lalu, kebanyakan pers Islam dikelola dengan manajemen kekeluargaan. Belum banyak pengelola pers Islam yang mempraktekkan konsep-konsep manajemen dan pemasaran modern. Ketika pers Islam memutuskan untuk memperluas pasar dan menggunakan strategi-strategi seperti yang dipakai oleh media massa lainnya, dengan sendirinya ada kebutuhan untuk menerapkan konsep manajemen dan pemasaran modern. Label ideologi sebagai pers Islam yang pada masa lalu menimbulkan kesulitan untuk berangkulan dengan pemilik modal, pada majalah generasi baru ini justru diolah dan dinegosiasikan dengan budaya-budaya populer dalam masyarakat. Mereka menciptakan dan memberikan bentuk sendiri pada "budaya populer yang islami".
Yogyakarta, 2004 Mau membuat list-list tentang hal yang saya lalui sepanjang 2009. tentu saja, ada banyak keinginan yang belum tercapai, tapi banyak hal-hal yang tak terduga tiba di tengah perjalanan saya sepanjang tahun ini. Saya merasa tahun ini secara umum merupakan tahun yang bagus, yang mempertemukan saya dengan banyak kesempatan baru, dengan perspektif dan situasi-situasi yang membuat saya melihat dunia dan apa yang saya lakukan, dengan cara pandang yang berbeda. berikut, sebagaimana tahun yang lalu, saya ingin menyarikan beberapa peristiwa tersebut.
Best books I've read: 1. The Brief Wondrous Life of Oscar Wao by Junot Diaz 2. Winds Up Bird Chronicle by Haruki Murakami
Best performances I've seen: 1. Three Sister by Pappa Tarahumara 2. dance by Xavier Le Roy
Best Movies: 1. Inglorious Bastard 2. District 9
Best Journeys: 1. Flores and Ende 2. France
Best achievements: 1. Shortlist for D Apple Institute (I didnt make it, finally, but its not the end of the world, anyway) 2. Finished writing a book about S Teddy D (wait to publish in 2010)
Best exhibitions: 1. Female Artists in Pompidou 2. Lyon Biennale
Best shopping: 1. My leather pink jaket by ZARA 2. Red dress by Banana Republic
Banyak juga hal buruk terjadi, tapi rasanya, catatan tentang yang buruk ini rasanya harus menjadi sesuatu yang lebih personal untuk saya sendiri. Nanti kalau saya sudah menemukan hal-hal yang lebih general atasnya, saya akan tulis juga di sini. Sekarang, sembari menonton liputan tivi tentang Gus Dur, saya mau menyelesaikan beberapa deadline lagi.
:-)
CATATAN SENI RUPA 2009
KEMBALI KE PUBLIK
Mencermati dunia seni rupa tahun 2009, meski terasa ada sesuatu yang mulai menjadi rutin dan itu-itu saja, setidaknya kita mencatat bagaimana pasar seni rupa Indonesia bertahan kuat di tengah krisis ekonomi hebat yang melanda dunia. Meski boom tidak lagi terjadi sebagaimana di tahun sebelumnya, tetapi seni rupa tetap menjadi sebuah lahan bisnis yang memikat banyak orang. Ini bisa dilihat dari tetap adanya galeri-galeri baru yang dibuka baik di Jakarta maupun di kota-kota lain, serta tetap tingginya frekuensi pameran di kota-kota tersebut. Meski demikian, tulisan ini tidak akan secara khusus membincangkan perihal pasar, karena saya lebih tertarik mengamati praktik-praktik pameran yang berlangsung di sepanjang tahun ini.
Di luar pembicaran soal pasar yang cenderung tidak mengejutkan, hal lain yang paling menarik sepanjang tahun 2009 ini adalah kita melihat bagaimana seni rupa makin dianggap, atau setidaknya diusahakan, untuk mewarnai dinamika kehidupan sehari-hari orang banyak. Tahun ini setidaknya kita menyaksikan beberapa peristiwa seni yang mencoba untuk melibatkan lebih banyak publik, dengan tujuan mendekatkan seni dengan publik, yang lebih jauh, dalam pandangan saya, adalah memenuhi hak warga atas keindahan.
Di Jakarta, 2009 dibuka dengan perhelatan besar Jakarta Biennale 2009: ARENA yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Biennale kali ini dikuratori oleh Agung Hujatnika Jennong, secara tegas menunjukkan sebuah pameran berskala internasional dengan kualitas yang di atas standar penyelenggaraan pameran di Indonesia. Selain mengambil tempat di Galeri Nasional, biennale kali ini juga mencoba untuk mendekatkan diri dengan publik dengan mengambil tempat di sebuah pusat perbelanjaan, Grand Indonesia. Sebelum biennale itu sendiri diselenggarakan, DKJ telah membuat serangkaian peristiwa seni yang mencakup beragam disiplin (sastra, tari, dan seni rupa) di beberapa situs publik, yang secara langsung melibatkan publik itu sendiri. Gairah publik untuk menyaksikan peristiwa ini memang cukup besar, dan mereka terpuaskan oleh karya-karya dengan konsep yang kuat dan bentuk yang menarik, apalagi hampir sebagian besar seniman peserta masih berusia muda sehingga menampilkan perspektif yang segar. Dari Indonesia misalnya tercatat nama seperti Eko Nugroho, Handiwirman Saputra, Jompet Kuswidananto, Tintin Wulia, Wimo Ambala Bayang, dan beberapa nama lain. Sementara, seniman internasional yang turut berpartisipasi adalah Craig Walsh (Australia), Donna Ong (Singapura), Sara Nuytemans (Belanda), dan seniman lain yang pernah terlibat program residensi di kawasan Asia Tenggara.
Kemudian, di pertengahan tahun, bulan Juli 2009, di Yogyakarta diselenggarakan Jogja Art Fair #2, bertema Spacing the Contemporary. Lagi-lagi berfokus pada seniman muda, ajang ini menjadi tempat belanja baru bagi para kolektor dan pemilik galeri untuk berburu nama-nama baru dengan harga yang masih terjangkau. Tidak berhenti di situ, pada Agustus, di Jakarta diselenggarakan Bazaar Art Fair bertempat di Pacific Place. Selama 4 hari penyelenggaraan, mereka mencatat total 7000 pengunjung, sebuah jumlah yang melegakan hati. Selain memamerkan karya seniman yang diusung oleh galeri-galeri terkemuka di Jakarta, Art Fair ini juga menyelenggarakan acara sampingan seperti kuliah dan diskusi yang terutama mencoba memberikan edukasi bagi kolektor baru.
Pada November 2009, Institut Seni Indonesia Yogyakarta menyelenggarakan pameran akbar “Exposigns” yang diikuti oleh 500an orang seniman yang semuanya merupakan alumni ISI. Pameran ini mengklaim diri sebagai yang terbesar sepanjang sejarah seni rupa kontemporer di Indonesia, yang justru mendapat banyak kritikan karena dianggap terlalu berfokus pada kuantitas, bukannya menimbang kualitas sebagai ukuran utama. Perhelatan besar 2009 ditutup di Yogyakarta dengan penyelenggaraan Biennale Jogjakarta X: Jogja Jamming. Dengan gagasan menelusuri arsip seni rupa kota Yogyakarta, sebuah pesta bersama digelar besar-besaran, melibatkan lebih dari 200 orang seniman termasuk mereka yang berpartisipasi dalam acara-acara seni di ruang publik. Dibandingkan penyelenggaraan biennale sebelumnya, BJX ini memang terasa sebagai peristiwa yang punya gema lebih besar ke masyarakat umum. Sayangnya, sebagai pameran seni rupa, tidak semua karya mempunyai kualitas bagus, selain bahwa display terasa tidak maksimal.
Fenomena kedua yang menarik untuk dicermati, di tengah perayaan terhadap bakat-bakat muda, sepanjang tahun 2009 ini kita menyaksikan pameran-pameran menarik serupa retrospektif yang digelar oleh seniman yang lebih senior. Pertengahan tahun, memperingati usianya ke 50, Agus Suwage membuat pameran restrospektif di Yogyakarta (Jogja Nasional Museum) dan Bandung (Selasar Seni Soenaryo) berjudul “Still Crazy after All these Years” dengan kurator Enin Supriyanto. Lebih dari 150 karya terkumpul, untuk masa berkarya hampir dua puluh tahun, dengan kualitas yang menunjukkan kontribusi Suwage yang besar dalam perkembangan seni kontemporer di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
Meskipun bukan retrospektif, pameran yang digelar oleh FX Harsono pada Oktober 2009 lalu di Galeri Nasional, “The Erased Time” juga menunjukkan sebuah kerja riset yang serius atas tema yang digeluti. Persoalan identitas sebagai keturunan Cina dengan kompleksitas politik yang melingkupinya telah menjadi acuan tema Harsono semenjak satu dekade terakhir. Terakhir, Mella Jaarsma, perupa asal Belanda yang telah berkiprah di Indonesia selama seperempat abad juga menggelar pameran semi-retrospektif, “The Fitting Room, yang diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta dan Selasar Seni Soenaryo Bandung. Dari kedua pameran ini, kita bisa melihat bagaimana persoalan identitas dan keterasingan tetap menjadi tema menarik untuk melihat fenomena dunia yang berubah terutama karena kemampuan seniman untuk memberikan sudut pandang yang berbeda, meski isunya sendiri sudah berulang kali dimunculkan.
Pameran tunggal lain yang menunjukkan pencapaian menarik adalah “I love….” Oleh Yuli Prayitno di Nadi Gallery (Juli), Microcosmos oleh Prilla Tania di MD Art Space (September), Strategic Presentation: Sculpture, Luz and Illusion oleh Eddie Prabandono di Sigi Art Space (Agustus), serta Things: The Order of Handiwirman oleh Handiwirman Saputra di Cemeti Art House (Juni).
Dalam skala internasional, sepanjang 2009 seniman-seniman Indonesia ini menunjukkan keterlibatan yang cukup aktif dalam pameran di luar negeri, baik yang berupa pameran bersama, maupun pameran tunggal di beberapa galeri di New York, Seattle, Zurich, Amsterdam, Melbourne, dan, tentu saja, yang paling sering adalah di kota tetangga Singapura dan Kuala Lumpur. Beberapa galeri, meskipun masih merasakan dampak krisis, tetap aktif mengikuti art fair yang tampaknya menjadi standard baru untuk mendongkrak karir seorang seniman. Art fair yang rutin diikuti galeri Indonesia misalnya adalah Hongkong Art Fair, Singapore Art Fair, Art Taipei, China International Gallery Exposition, Sh Contemporary, dan beberapa peristiwa lain yang sejenis. Dari kancah Biennale/Triennale, tahun ini Eko Nugroho dan Agustinus Kuswidananto mengikuti Lyon Biennale yang dikuratori oleh Hou Hanru, Melati Suryodarmo dan Mella Jaarsma terlibat dalam Women Biennale di Korea, sementara Entang Wiharso diundang dalam ajang Asian Art Biennale di Taipei. Selain itu, S Teddy D juga menampilkan karyanya yang monumental, “Love Tank”, di National Museum of Singapore selama April hingga September.
Harus dicatat pula, salah satu peristiwa internasional besar yang melibatkan seniman Indonesia adalah pameran “Beyond the Dutch” di Centraal Museum Utrecht Oktober hingga Desember 2009. Pameran yang dikuratori oleh Meta Knol dengan co-kurator Enin Supriyanto ini merupakan pameran terbesar yang melibatkan seniman Indonesia, mulai dari Raden Saleh hingga seniman muda generasi Patricia (Bandung).
Di luar itu, kritisisme atas boom lukisan yang terjadi semenjak dua tahun lalu memunculkan pula inisiatif atas proyek-proyek skala kecil yang mendorong seniman untuk mengembangkan modus riset sebagai basis penciptaan. Proyek residensi Landing Soon, pertukaran seniman Indonesia – Belanda, berakhir pada pertengahan tahun 2009 setelah berjalan 3 tahun lamanya. Pada akhir tahun, KUNCI Cultural Studies Center berkolaborasi dengan beberapa seniman rupa dan pertunjukan, menggelar proyek “Alun-alun: Cerita Ruang Bersama” untuk menyelidiki bagaimana alun-alun, sebagai sebuah situs publik beroperasi dalam ranah sosial-politik-budaya.
Secara umum, dinamika seni rupa Indonesia tahun ini belum menunjukkan perubahan signifikan, terutama berkaitan dengan terciptanya peristiwa-peristiwa seni yang terkonsep dengan baik, kecuali Jakarta Biennale 2009. Soal manajemen tampaknya menjadi satu pekerjaan rumah penting yang di masa depan harus dipikirkan dengan lebih serius, apalagi membaca situasi pasar yang makin berkembang, dan makin terbukanya seni rupa tumbuh sebagai sebuah “industri”.
Alia Swastika
|  | Pulang lagi ke jogja, saya mencoba membuat strategi baru dalam hidup. Daripada pindah terus kontrak rumah, saya beranikan untuk ambil cicilan di bank. Wah, what a step for my life. Males menunggu membangun, saya memutuskan beli rumah yang sudah jadi. Memang yang saya dapatkan bukan selera saya, tapi toh soal itu bisa diatasi nanti dengan renovasi. tapi tempat ini nyatanya bisa jadi tempat sembunyi yang sangat nyaman buat saya. silahkan maiiin, boleh membaca buku! |
 Dua Pertunjukan, Dua Sikap oleh: Alia Swastika
Saya selalu percaya bahwa seni adalah sesuatu yang bertaut dengan masyarakat, betapa pun tidak langsung dan menempuh jalan yang berliku. Karenanya, semua proses penciptaan seni adalah juga menyangkut bagaimana gagasan dikomunikasikan kepada penonton dan menumbuhkan interaksi dengan penontonnya. Dua pertunjukan yang saya saksikan dalam satu minggu kemarin memberikan saya pertanyaan-pertanyaan baru berkaitan dengan relasi pencipta dan penonton, di luar kemungkinan-kemungkinan estetik yang muncul dari dua pertunjukan tersebut.
Dua pertunjukan tersebut bukan kebetulan disutradarai seniman perempuan. Mereka merupakan bagian dari program pemberdayaan Seniman Perempuan (Empowering Women Artists) yang diinisiasi oleh Yayasan Kelola sepanjang 2007-2009. Ide awal dari program ini adalah menumbuhkan seniman-seniman perempuan yang tangguh dan penuh kreativitas, dan memberi inspirasi bagi seniman perempuan lain. Selama melaksanakan program hibah seni dalam kurun waktu delapan tahun, Yayasan Kelola melihat bahwa jumlah seniman perempuan, baik dalam sektor teater, tari, maupun musik, sangat minimal. Selama program ini diselenggarakan, para seniman peraih hibah mendapatkan kesempatan untuk menciptakan karya selama tiga tahun berturut-turut, Selain karya, mereka juga mendapatkan dukungan untuk program tambahan seperti residensi maupun pendampingan.
Di Makassar, tanggal 5 dan 6 Desember lalu, Shinta Febriany—salah seorang peraih hibah EWA—mementaskan karya ketiganya dalam program ini: “Stanza diri yang pecah”. Sebagaimana kecenderungan yang telah ditunjukkannya dalam lima tahun terakhir, Shinta selalu tertarik untuk mengolah tubuh sebagai bahasa ungkap yang utama. Pertunjukannya minim teks, tidak kaya musik, dan tidak juga didominasi oleh elemen visual. Dalam karya terakhir SDP ini, elemen visualnya bahkan menjadi semakin minimal, karena panggung terasa sepi; nyaris kosong, hanya ada tiga bingkai kayu—rangka yang tipis, tidak massif dan besar—serta sebuah meja. Tidak ada sidewings, sementara panggung tingginya nyaris sejajar dengan lantai, di mana para penonton duduk bersila.
Adegan pembuka sebenarnya cukup mengesankan: tiga aktor—Syahrini Fati, Salmiah dan Indra Bayu—memasuki ruangan dengan langkah berdentam yang membangun irama sendiri. Mereka memakai tutup kepala yang sekilas terlihat bergambar sebuah wajah yang dikaburkan. Setelah bergerak dengan beberapa komposisi, mereka kemudian mengucapkan teks-teks yang menyerupai puisi: “Ini Aku”, Kamu?”, atau sebuah teks yang sedikit banyak menjelaskan gagasan sutradara yang sekaligus penulis naskah: “Sejak pagi aku menghasikan teks-teks palsu dari bibirku yang palsu,ke telepon genggammu yang terus memanggilku.Tapi aku tak kemana-mana,bahkan tak menuju padamu”
Setelah itu, ketiga aktor membuat gestur-gestur seperti berpose untuk foto, sesuatu yang sekarang menjadi sangat familiar sebagai adegan keseharian dalam kehidupan kita, terutama setelah penemuan kamera digital dan penggunaan facebook yang makin populer. Hingga bagian ini, kita masih bisa menangkap dengan jelas apa yang ingin disampaikan para aktor. Gagasan karya yang berangkat dari amatan Shinta tentang kecenderungan manusia modern untuk membuat selubung kepalsuan diri, citra diri yang tidak jujur, sedikit banyak tersampaikan dengan jelas dan komunikatif. Ide tentang diri yang lain, diwujudkan melalui banyaknya citra wajah yang kita gunakan sebagai topeng, juga kebohongan-kebohongan kecil yang kita buat dalam relasi sosial sehari-hari.
Adegan-adegan di atas panggung setelah itu kurang menggigit dibandingkan pembuka ini. Simbol-simbol visual makin jarang menjembatani komunikasi aktor dengan penonton, sehingga penonton harus bersusah payah mengartikan gestur-gestur aktor dalam susunan dramaturgi yang kurang rapi. Beberapa adegan memiliki potensi untuk diolah menjadi satu komposisi panggung yang menarik, tetapi lebih banyak potensi itu tidak dieksekusi dengan baik. Sebagaimana dua pertunjukan Shinta sebelumnya, pada SDP banyak adegan di mana para aktor membanting atau melakukan “kekerasan” pada tubuhnya sendiri. Selama kurang lebih 50 menit pertunjukan, penonton melihat bagaimana kesakitan menjadi bagian yang cukup dominan dari gagasan tentang kepalsuan tersebut.
Sebenarnya dengan ruang yang digunakan Shinta, yaitu aula Benteng Fort Rotterdam yang tidak terlalu luas, menjadi menarik untuk membuka sebuah pertunjukan yang lebih interaktif karena jarak penampil dan penonton memang saangat dekat. Sayangnya, kemungkinan inipun tidak diolah oleh sutradara dan aktor.
*****
Seminggu berselang, Tya Setyawati—peraih hibah EWA yang lain—menggelar pertunjukannya di auditorium Boestanul Arifin Adam di kompleks kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Padang Panjang, Sumatera Barat. Kali ini Tya menggubah naskah “Ibunda” yang ditulis Teguh Karya untuk media film, dan dialihbentuk sebagai pertunjukan teater. Meski sebagai pertunjukan, karya pertunjukan “Ibunda” ini tidaklah terlalu istimewa, tetapi saya mendapati beberapa fenomena menarik berkaitan dengan interaksi antara penonton dan para aktor.
Tya Setyawati adalah sutradara perempuan yang mulai mendapat perhatian kritikus dan pengamat teater setelah pementasan karyanya “Dekonstruksi Perawan”. Banyak yang melirik potensinya, meskipun karya itu belum matang benar, dan masih perlu banyak perbaikan di sana-sini. Teksnya yang tidak linear, penggabungan gerak teater dengan kombinasi tari, dianggap menunjukkan pendekatan segar, terutama untuk teater di Sumatera (Barat). Nah, setelah itu, Tya memang cenderung tertarik untuk mengerjakan teater dengan gaya penggarapan yang macam ini, agak berbelok dari kecenderungan sebelumnya yang banyak bermain dengan naskah-naskah realis. Karena itu, para pengamat teater di Padang menilai karya “Ibunda” adalah satu titik ketika Tya kembali pada gaya awalnya.
Meski mengubah bentuk teks bukan hal yang mudah, Tya cukup mampu menampilkan satu pertunjukan yang menarik bagi penonton awam. Ada beberapa kali ketika ia mencoba untuk membuat transformasi waktu dengan menegaskan konteks kekinian (misalnya dengan menyebut Manohara, menampilkan tokoh yang memakai telepon genggam), tetapi terkadang hal ini justru merusak logika cerita.
Tya sendiri berperan sebagai sang Ibu, yang dalam versi filmnya diperankan oleh legenda aktris Tuti Indra Malaon. Aktor-aktor selain Tya kelihatan masih terlalu muda dan kurang jam terbangnya, sehingga teks yang mereka ucapkan masih cenderung muncul sebagai sesuatu yang dihapal ketimbang dihayati. Tokoh Fikar (dulunya diperankan Alex Komang), dalam pertunjukan ini dimainkan Anggi Hadi Kusuma, tampak lemah dalam menghayati dilemma pemuda awal dewasa yang belajar memikul tanggung jawab.
Tata panggung juga agak terlalu statis, sehingga ruang terkesan kurang dinamis. Ini membuat ada kesan monoton, apalagi tata lampu cenderung gelap, menambah kesan muram dari penggunaan kain hitam sebagai set awal.
Di luar catatan-catatan atas kekurangan teknis itu, saya mengamati bahwa dibanding dua pertunjukan Tya sebelumnya, karya inilah yang paling bisa bertaut dengan penonton. Para penonton tampak sangat menikmati pertunjukan ini: mereka tertawa pada adegan yang lucu, menanggapi kalimat-kalimat yang provokatif, juga ikut bertepuk tangan untuk adegan-adegan panggung. Tentu mudah bagi kita mencari tahu mengapa mereka demikian antusias dan terlibat: bukankah isu-isu tentang keluarga, yang intim dan personal, justru merupakan sesuatu yang akrab dengan hidup kita? Saya melihat bahwa sebagian besar penonton itu melihat pantulan dirinya di sana, membagi kisah-kisah yang sama, dan demikian, membuat teater bisa menjadi sebuah peristiwa bersama.
**** Dua pertunjukan yang telah terbahas menunjukkan bagaimana setiap seniman punya strategi sendiri dalam memosisikan penonton sebagai bagian dari pertunjukannya. Shinta tampaknya berusaha memberikan penonton sebuah ruang untuk mengalienasi, di mana pengalaman menonton menjadi sesuatu yang personal, dinikmati sesuai tafsir para invidu. Sayangnya, niat ini kurang didukung oleh ruang yang memadai, dimana tidak ada jarak fisik yang cukup antara aktor dan penonton untuk merasakan keterasingan itu.
Sementara Tya justru mengembalikan memori kolektif atas peristiwa sehari-hari yang cenderung dianggap remeh dan dilupakan. Ia membentang ruang bagi penonton untuk saling menyapa dan berbicara dengan cara tertentu. Panggung, dalam pertunjukan “Ibunda” kemarin, menjadi sebuah ruang keluarga yang lain.
Dan, menariknya, dengan cara tertentu, pertunjukan ini juga menunjukkan bagaimana seniman perempuan tidak sekadar berkutat dengan isu-isu tentang perempuan. Dalam persoalan tentang kepalsuan yang ingin diungkap Shinta, atau dari drama “Ibunda” yang dikerjakan Tya, persoalan perempuan muncul secara alamiah, sebagai bagian dari persoalan sosial. Artinya, lebih dari sekadar isu, gender adalah perspektif, sebuah cara untuk melihat dan menghadapi persoalan-persoalan lain yang lebih umum.
(Koran Tempo, 21 Desember 2009)
 Wah, sekian lama, akhirnya saya bisa juga bertarung melawan rasa takut saya terhadap..... dokter gigi. hehehe. semenjak dua bulan lalu, saya memutuskan pasang kawat gigi, karena saya memang acap merasa terganggu dengan gigi saya yang tidak rapi. saya dengar banyak orang bahwa memasang kawat gigi adalah sesuatu yang paling menyusahkan dalam hidup. Saya sempat juga, untuk rentang waktu yang lama, menimbang apa motif terbesar saya memasang kawat gigi. Apakah untuk tampil lebih cantik? Bullshit juga kalau bilang alasannya adalah kesehatan. hahaha, nggak mungkin. ya, saya mungkin ingin mengatasi rasa kurang PD karena gigi yang kurang rapi itu. Tentu saja, ini bagian dari ketidakmampuan saya menghindari konstruksi atas gigi rapi sebagai penentu kecantikan. Maaf ya, mbak Naomi Wolf.
Tapi oke lah, sepanjang proses memasang kawat gigi ini, saya melakukan sesuatu yang selalu saya hindari sepuluh tahun terakhir: pergi ke dokter gigi. Tentu saja, selain keluar banyak ongkos, proses ini memberi banyak keuntungan juga. Saya jadi tahu betapa gawatnya keadaan gigi saya: banyak keropos, dipenuhi karang gigi, dan rawan patah. Coba deh kalau gak punya motif 'ingin cantik' tadi, mungkin faktor kesehatan yang macam ini justru saya abaikan. Payah memang.
Dulu, ketakutan saya adalah cabut gigi. Baru hari ini, setelah sepuluh tahun itu, saya melakukannya lagi. Tentu, sekarang cara cabutnya sudah makin modern karena dibius dan tidak membekaskan lelehan darah sebagaimana apa yang saya takutkan. imaji dicabut ketika kecil dulu memang agak tidak mengenakkan. karena tidak punya uang, ibu selalu membawa ke puskesmas dengan peralatan seadanya yang kiranya membuat saya jadi trauma.
Entah bagaimana, tadi saya merasa berhasil mengalahkan rasa takut itu. Dan tentu, itu juga tidak seburuk yang saya bayangkan. Ketika nyaris tidur sementara sang dokter asyik bermain dengan gigi saya, saya berpikir lagi tentang rasa takut, dalam skala yang lebih luas. Pada banyak hal, saya mengalami sendiri, rasa takut memang penghalang utama untuk satu langkah lebih maju. Rasa takut--akan kebaruan, akan perubahan, akan kesakitan, akan kesepian--jadi sesuatu yang membuat kita memilih mendekam dalam zona nyaman. Padahal, banyak hal yang mendasari rasa takut kita itu cuma asumsi, sesuatu yang belum tentu sama dengan kenyataan. Saya membuat bayangan-bayangan saya sendiri tentang proses cabut gigi, tanpa mengecek bahwa teknologi sekarang berkembang dan hal itu tidak semenakutkan yang saya bayangkan.
Saya kemudian mendaftar rasa takut saya; takut gemuk, takut gak laku, takut miskin, takut gak disukai orang, takut ngomong English salah di depan umum, takut salah kostum, takut disalahpahami, takut sama anjing, takut sama tokek (singkatnya, takut binatang!), dan buanyaaaak lagi. Saya sedang berpikir, rasa takut yang mana yang paling realistis untuk bisa saya atasi dalam waktu dekat ini ya?
Ketika akhirnya proses cabut berakhir dan dokter menunjukkan gigi belakang yang gedenya ampun itu pada saya, saya lalu mendapat ide: bahwa rasa takut yang harus segera diatasi adalah takut dianggap kurang cantik, yang kemudian membuat saya agak kurang kontrol sama situasi keuangan dan kerumitan2 yang timbul karenanya. Hahaha.
Mau baca lagi Naomi Wolf ah....
:-)
Pertama kali memasuki kehidupan sosial kota New York yang gemerlap itu, yang saya bayangkan adalah situasi-situasi yang tergambar dalam serial televisi favorit saya, Sex and the City. Memang, hampir semua teman yang sempat menghabiskan waktu di kota itu bilang bahwa relasi sosial yang hangat dan akrab di antara para tokoh perempuan di serial itu bisa dibilang palsu dan lebih menggambarkan ilusi ketimbang apa yang akan ditemui dalam kehidupan nyata.
Meski kadang didera kesepian dan tak punya teman-teman yang suka keluar masuk butik-butik mahal sepanjang Soho atau Fifth Avenue, New York memberikan saya banyak pengalaman menarik terutama untuk merefleksi kembali pola-pola hubungan sosial yang membentuk saya sekian lama di Indsonesia dengan apa yang saya alami di salah satu kota terbesar di dunia itu. Sekilas, saya mengamati bahwa orang New York suka basa-basi, tetapi sulit sekali making friends dengan orang baru. Ketika bekerja paruh waktu di sebuah musebum seni di sana, saya sering merasa terasing dan tak diterima. Tapi teman saya bilang, begitulah New Yorker. Mereka selalu merasa lebih aman dengan membangun jarak dengan orang lain. Sampai akhirnya, saya menemukan juga cara lain untuk get connected dengan mereka. Teman saya memperkenalkan saya pada sebuah situs internet dimana New Yorkers bertukar informasi tentang segala hal. Awalnya, saya sering mencari info tentang orang yang menjual buku-buku atau baju bekas. Lumayan juga, dengan cara ini saya tidak harus berputar-putar mengelilingi flea market untuk membongkar tumpukan buku dan baju bekas yang menggunung. Tak saya sangka, dari sanalah saya mendapatkan banyak teman baru yang memberi saya perspektif dan pengalaman yang sangat menarik. Bagi saya, yang datang dari kota udik di Jawa, hal pertama yang cukup membuat saya shock adalah kehidupan seksual mereka yang sedemikian bebas dan terbuka. Beberapa kali terlibat percakapan dengan mereka, serta melihat secara langsung bagaimana kehidupan seksual dalam keseharian beberapa orang yang saya kenal, saya sempat mengambil kesimpulan betapa penting soal seks ini bagi masyarakat kota besar seperti New York. Saya tidak sedang bilang bahwa bagi orang macam saya, atau sebagian besar orang Jawa yang lain, seks itu tidak penting. Tentu saja, saya juga melihat seks sebagai bagian penting dalam eksistensi saya sebagai manusia, utamanya sebagai perempuan. Tapi waktu saya berada di lingkungan teman-teman saya di New York, wah, jadi berasa betapa lugunya saya. Suatu kali, teman saya yang baru saja putus dari partnernya, bercerita bahwa salah satu hal terberat dari situasi barunya adalah penyesuaian dengan metabolisme tubuh berkaitan dengan kehidupan seks. Ia bilang, selama delapan tahun, hampir setiap hari ia melakukan hubungan seks. Di empat tahun pertama hubungan mereka, bahkan bisa sehari tiga kali. Waktu mendengar ceritanya, saya benar-benar hampir tersedak dan menghentikan pizza yang sedang saya santap. Astaga, saya tidak bisa membayangkan deh setiap hari berhubungan sebanyak tiga kali. Jika sedang punya partner, terutama ketika berada dalam relasi jangka panjang, frekuensi saya berhubungan justru menurun. Paling-paling sih tiga atau empat kali seminggu. Itupun jika mood sedang baik dan aktivitas tidak terlalu banyak. Kalau sedang sibuk, wah, bisa-bisa seminggu sekali saja sudah cukup untuk kami. Nah, yang seru lagi, dia cerita bahwa suatu kali, mereka harus menunggui rumah kakak mereka di daerah timur New York. Daerah ini memang termasuk daerah tenang, banyak ditinggali keluarga atau kelompok yang lebih konservatif ketimbang mereka yang tinggal di Harlem atau East Village misalnya. Karena mereka tinggal di sana waktu akhir pekan, jadilah mereka menghabiskan waktu hanya dengan bercinta tanpa henti, kecuali untuk makan dan tidur. Bisa dibayangkan juga kan, mengapa orang New York tergila-gila dengan aktivitas ke gym? Nah, setelah 2 hari percintaan yang heboh (dalam pengertian sesungguhnya, karena si cewek rupanya merupakan tipe noisy), pada hari ketiga, pintu apartemen sang kakak diketok oleh seseorang. Ketika membuka pintu, teman saya agak kaget karena tamunya adalah seorang perempuan tengah baya dengan penampilan yang sangat konservatif. Sang tamu, dengan wajah sedikit malu, pelan-pelan bilang, “Bisakah kalian menghentikan seks kalian untuk malam ini? Sudah dua malam aku tidak bisa tidur, suara kalian mengganggu sekali. Aku sudah bertoleransi untuk tidak mengetuk pintu, jadi kuharap malam ini kalian bisa tenang. Dan lagi, kalian sendiri butuh istirahat kan?” Teman saya tersenyum simpul. Rasa malu tentu memenuhi hatinya. Cerita lain adalah tentang variasi-variasi yang diperlukan dalam kehidupan seksual mereka. Mencermati situs-situs kencan melalui internet, saya agak heran karena banyak juga pasangan suami istri yang mencari partner kencan, entah laki-laki atau perempuan, untuk terlibat dalam kehidupan seksual pasangan tersebut. Teman saya bilang, mungkin 70 persen orang New York pernah melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang pasangan (artinya bisa dua, tiga, atau satu gang). Kadang mereka juga memberikan tawaran-tawaran aneh yang sangat spesifik, misalnya bercinta dengan perempuan hamil, bercinta dengan perempuan yang sedang menyusui, bercinta dengan laki-laki bertato, dan kriteria-kriteria khusus lainnya. Banyak juga tawaran untuk melakukan hubungan seks di tempat umum dan terbuka, seperti di taman, tempat parkir atau restaurant. Kadang mereka juga menuliskan fantasi seks mereka secara jelas dan terbuka, dengan kemungkinan yang membuat saya geleng kepala. Misalnya, mereka menuliskan bahwa mereka (hmm, baca: laki-laki) ingin bercinta dengan perempuan yang berseragam, entah polisi, perawat atau bahkan anak sekolah yang memakai seragam. Pokoknya semua hal yang dalam pandangan saya tergolong sebagai sesuatu yang ekstrem. Kadang-kadang lucu juga sih membaca iklan-iklan yang sangat vulgar itu. Bagian iklan para perempuan tak kalah menariknya. Meski fantasinya tak segila para lelaki, mereka juga dengan terbuka menunjukkan gairah seksual dalam ruang yang saya anggap sebagai ruang publik itu. Saya melihat bahwa para perempuan juga secara aktif berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas seksual yang bagi saya tidak biasa itu. Di sisi yang lain, saya melihat juga bahwa barangkali kebebasan para perempuan itu, selain dipengaruhi oleh keinginan untuk memperjuangkan gairah seksualnya, haknya untuk mendapatkan kepuasan seksual, juga tak terhindarkan, dibentuk oleh fantasi laki-laki yang sudah sedemikian kuat didistribusikan sebagai bagian dari wacana tentang kebebasan itu. Sebagian fantasi perempuan, misalnya, merupakan turunan dari imaji lelaki yang dominan. Misalnya, fantasi diperkosa, fantasi terlibat dalam relasi seksual dengan banyak orang, dan sebagainya. Saya senang membaca iklan-iklan macam itu untuk melihat bagaimana batasan dan tabu dilampaui. Bagi saya, meskipun di lingkungan pergaulan saya sering dianggap sebagai orang yang cukup bebas, situasi-situasi itu tetap saja mengganggu dan meneror saya untuk beberapa waktu. Saya merasa dihadapkan pada situasi yang memaksa saya mempertanyakan kembali apa yang dianggap wajar dan tidak, apa yang normal dan apa yang tidak normal. Apakah perubahan perilaku-perilaku seksual yang berbeda dari tiap latar belakang budaya merupakan respons dari perubahan situasi politik, ekonomi dan budaya dari masyarakatnya? Saya teringat sebuah film berjudul “Shortbus” yang saya tonton beberapa waktu lalu. Film itu berkisah tentang manusia-manusia New York yang punya persoalan dengan relasi personal dan sosial, lalu meluapkannya dalam kehidupan seks yang gila-gilaan, menembus batasan-batasan, baik yang berkaitan dengan norma sosial maupun berkaitan dengan tubuhnya sendiri. Kadang-kadang, dalam ingatan-ingatan saya tentang periode hidup yang menakjubkan itu, saya bertanya-tanya sendiri atas sikap saya dalam hal ini. Seberapa jauh saya jujur terhadap gairah dan hasrat saya sebagai perempuan, dan seberapa sering saya berkompromi serta memadamkan gairah itu atas nama norma sosial? Apakah kita telah bisa menerima perilaku-perilaku macam itu sebagai bagian yang nyata atas “mengada”? In the Darkness of an Empty Space: In the dark room, do we really search for a light? Is there any possibility for us to feel the dark to the fullest and find our own way of seeing things? I found myself asking these questions when I saw an exhibition by Irwan Bagja Darmawan, a self taught painter who studied at Architect Department, Bandung Institute of Technology at a new space in Central Jakarta, Umah Seni. The gallery was a house with empty rooms that encourage the owner to change its function as an exhibition space. As for the opening of this new gallery, Iweng has shown a very interesting way to respond to the unique character of the houses, one of them by changing each room into a small movie theater, with his paintings as the main performance. The exhibition titled “Fantasia: Panorama” to refers to some of the artist’s basic idea about fantasy and imagery. Working intensively during 9 months, Iweng, his nickname, resulted 6 big paintings. Two of them, are very large and show stronger images than the others. One of them is my favorite, “Beyond the Light Principle”. This large painting, size of 2 X 4 meters, has less colors compared to his other paintings that mostly are very colorful. There is something deep that attached me to this painting, especially the very clear idea of the universe. The dark basic color has brought the audience to an adventure to the journey going through the sky, to reach out the feeling of the existence of human being. Somehow, this painting reminds us of a song by David Bowie, “Space Oddity”, or maybe further, to the black hole theory of Stephen Hawkins. By using florescence paint, Iweng tries to play with the idea of lighting and darkness. In each room, they provided a dimmer light that enable us to change the intensity of the light came from neon, so we can trace the different imagery created by that change. While I played, then I realized that the three dimensional of effect that could be found particularly in this painting was created not only by the spacial approach done by the painter, but also become stronger by the light play. This is what I see as the main interesting thing from the exhibition. It has been a while since most of Indonesian painters thinking about the light as the essential element of visual imagery. Except of presenting light by drawing the shadow, could be said that there are no further approaches on lighting. In this sense, Iweng has shown a worthy experiment. Not only working with the light, for this exhibition, the whole area of the gallery was painted fully dark (black). Another dominant painting is “Interstanding Universe”, (4,8 by 2,4 meter). The largest of all, this painting also shown how complicated is the imagery created by Iweng. There are layers of visuality from the scenic view of a panorama, landscape of industrial cities to a fantasy of human civilization. The whole big canvas is very full and he played also with colorful oil paint combined with acrylic and fluorescence. Other paintings seem followed this pattern rather than the first one we discussed (“Beyond the Light Principle”). All full and too much color, in a way. While Beyond the light provides us enough empty space to feel the complicated imagery, the rest of the paintings might need that space for us to get into the wide of the universe that he tries to offer. Another interesting one is “Between Mind and Mainland: The secret District of History”. Based on the idea of the mind of human, Iweng dramatically illustrates the complexity and the delicate quality of human brain. The composition of colors works well in this painting, to underline the conceptual working process While the approach is quite different, the style of Iweng paintings represent combination of many styles including panoramic, abstract, surrealism, even graffiti. No wonder about this since Iweng has been actively working on walls on streets in Bandung. One still can sense the spirit of wild and rebellion in the composition or brushes as what we have seen on most of Wall Street paintings. In case of Iweng’s works, as a graffiti or street-art work, the painting could be too conceptual (even though there is nothing wrong about it too). In mid of 1990s, this kind of style was a big achievement that brought Iweng to the prestigious Havana Biennale in 2000, together with other influential names such as Heri Dono and Khrisna Murti. His big painting, “Rimbaraya Syurganyata” has caught the attention of most of the Western audience, particularly because an inner spirit that could be abstracted from the complexity. Enin Supriyanto writes in the introduction on how Iweng was struck by his childhood memories when he watched one of the most memorable views on the sky. It was a very simple thing: a full moon. But, walking out from his house in one slum area in Bandung, where most of the people lived in a very tiny place, the absolute empty space on the sky had brought him to a longing feeling. Since then, Iweng was obsessed to paint on his fantasy. This exhibition was one of the efforts to share his memories, to bring us into the darkness that eventually is part of our daily life, but we tend to ignore. Alia Swastika  Di antara sekian karya yang saya saksikan di Biennale de Lyon 2009 ini, sebuah karya yang cenderung sederhana dari seniman Malaysia, Wong Cheong Hoy. Karyanya berjudul “Days of Our Lives”, terdiri dari 12 frame karya berukuran kurang lebih 60 X 40 cm, menggabungkan beberapa teknik/media visual yang berbeda: lukisan, fotografi, instalasi dan performans. Dari kejauhan, karya-karya itu seperti karya fotografi yang biasa, tetapi jika kita mendekat, kita bisa melihat bahwa karya dari seniman senior Malaysia yang telah banyak tampil di biennale bergengsi itu mengandung relasi yang sangat kuat antara lukisan dan fotografi. Bagi saya, yang menarik bukan hanya persoalan teknis, dimana Wong menggunakan fotografi sebagai modus penciptaan yang utama, tetapi terlebih lagi pada pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar relasi antara fotografi dan lukisan dalam ranah sejarah seni rupa kontemporer.
Days of Our Lives menampilkan fotografi dengan teknik olahan digital yang dibuat menyerupai lukisan-lukisan Eropa di abad pertengahan, terutama yang dikenal beredar di gereja. Wong mendasarkan lukisan-lukisannya pada koleksi dari Museum of Fine Arts of Lyon. Yang menarik, semua lukisan tersebut dikonstruksi menjadi imaji fotografi dengan model-model dari Malaysia, yang menunjukkan keragaman latar belakang etnis. Beberapa di antara karya tersebut bahkan membuat setting yang nuansanya lebih kontemporer, dengan simbol visual dan sudut pandang yang serupa. Di luar karya ini mendapatkan banyak perhatian karena isunya yang cukup penting dan relevan dengan relasi Eropa-Asia belakangan ini, secara visual bentuk yang ditawarkan oleh Wong meninggalkan ingatan yang kuat di kepala.
Saya sendiri, telah beberapa saat sebelumnya makin tertarik untuk melihat kembali relasi antara fotografi dan lukisan, tetapi pada karya inilah saya menemukan bagaimana relasi keduanya menjadi sesuatu yang sifatnya konseptual dan mengandung banyak kritisisme mengenai posisi masing-masing dalam sejarah panjang seni rupa. Dalam ranah seni rupa kontemporer belakangan, terutama dalam peta lingkup trienal dan biennale, kita melihat bahwa fotografi merupakan medium yang cukup dominan, dibandingkan dengan lukisan. Eksposure media massa pada pameran-pameran internasional ini acap menunjukkan betapa fotografi ditempatkan sebagai medium yang lebih “mengandung wacana” ketimbang lukisan. Ketimbang terlibat dalam perdebatan yang lebih jauh mengenai siapa yang lebih kontemporer di antara keduanya, saya lebih tertarik untuk menelusuri kembali keterkaitan keduanya dalam praktik seni rupa kontemporer di Indonesia. Sudut pandang yang saya gunakan terutama persoalan yang berkait di sekitar bagaimana masing-masing medium mempengaruhi visi estetik seorang seniman, dan bagaimana pengaruh tersebut membangun satu kosa visual yang baru, atau berbeda. Hal ini, tentu saja, bukan merupakan hal yang sama sekali baru kalau tak dapat disebut sebagai salah satu topik bahasan yang telah dimulai sejak munculnya seni kontemporer.
Sebut saja esai-esai yang membahas karya seniman Eropa kenamaan Gerard Richter atau David Hockney. Keduanya memang dikenal sebagai seniman yang mendasarkan gagasan melukisnya pada imaji yang diciptakan melalui teknologi kamera. Salah satu tulisan yang membahas Richter, misalnya, memberi paparan sebagai berikut:
These photographs are weapons in a personal war against forgetting. They are the inspiration behind many of his most memorable paintings, the subject of which is often perception itself, the act of both looking and looking away. Through the distortion of photographic representation, Richter attempts to show how the eye can both illuminate and deceive. The past, he seems to be saying, is endlessly unstable. The image, photographic or otherwise, is always artificial. There is no truth, only interpretations, which applies as much to our own personal narratives as it does to the hauntedness of the German past.’ (‘Measuring the Richter scale’ by Jason Cowley, 6 May 2002, News Statesman, on the occasion of ‘Gerhard Richter: 40 Years of Painting at Museum of Modern Art, New York, 2002).
Foto-foto [dalam pameran ini] adalah senjata dalam perang personal melawan lupa. Mereka adalah inspirasi di balik banyak karya-karya lukisnya yang paling dikenang, subjek yang pada saat yang sama berposisi sebagai persepsi, aksi melihat dan mengacuhkan. Melalui distorsi dari representasi fotografis, Richter berupaya untuk menunjukkan bagaimana mata kita bisa mengiluminasi dan memperdaya. Masa lalu adalah sesuatu yang tak pernah stabil, tampaknya demikianlah yang agaknya sedang ia coba untuk nyatakan. Imaji, baik fotografis maupun dalam bentuk lain, selalu bersifat artifisial. Tidak ada kebenaran. Yang ada hanyalah interpretasi, yang diterapkan melalui narasi personal kita sendiri, sebagaimana ia sejak lama menghantui masa lalu Jerman. (‘Measuring the Richter scale’ by Jason Cowley, 6 May 2002, News Statesman, on the occasion of ‘Gerhard Richter: 40 Years of Painting at Museum of Modern Art, New York, 2002).
Sudut pandang paling umum yang acap muncul dalam pembahasan mengenai karya-karya lukisan yang mendasarkan diri pada imaji fotografis tersebut adalah bagaimana imaji fotografi diolah dalam konsep lukisan, yang kemudian mempertemukan elemen dari masing-masing medium—warna, komposisi, cahaya—untuk direkontekstualisasi dan direkreasi dalam cara lihat yang baru. Salah satu seniman Indonesia yang juga bekerja melintasi batas medium antara lukisan dan fotografi dengan perspektif yang unik adalah RE Hartanto, terutama dalam seri karya-karya “Korean: Post Nuclear” (2008). Secara menarik, Hartanto mengembangkan proses pengambilan imaji fotografinya serupa dengan pijakan gagasan atas self-performance dari orang-orang yang terlibat sebagai modelnya.
*****
Lukisan tentu saja telah memiliki sejarah yang lebih panjang dalam dunia seni rupa ketimbang fotografi. Tetapi, beberapa waktu belakangan, himpitan antara keduanya merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Penemuan kamera sebagai sebuah mesin perekam imaji visual membuat kemungkinan-kemungkinan yang tercipta atas lukisan menjadi semakin kaya. Hampir empat abad yang lalu, para pelukis memindahkan kenyataan ke atas kanvas dengan mengandalkan ketepatan dalam melihat subjek dan mendistorsi atau mempersonalisasi kenyataan itu dengan pandangan personalnya atas dunia. Ketika teknologi fotografi ditemukan, secara tidak langsung, seniman menjadi berjarak dengan kenyataan karena adanya lensa kamera yang memindahkan ingatan dari benak ke atas sesuatu yang tercetak. Sebaliknya, dalam dua dekade belakangan ini, karena himpitan-himpitan yang makin terasa di antara kedua medium dan semakin mapannya posisi fotografi sebagai bagian dari seni rupa kontemporer, maka dapat dilihat pula bagaimana seniman fotografi banyak menimba pijakan visual dari karya-karya lukisan. Terutama sejak berkembangnya genre fotografi seni sebagai satu kategori yang cukup mapan, maka keinginan para fotografer untuk bermain-main dengan logika visual dan representasi kenyataan menunjukkan pengaruh besar dari medium-medium lain di luar dirinya.
Masing-masing seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana keduanya memberikan pandangan yang menarik berkaitan dengan relasi saling pengaruh antara lukisan dan fotografi. Di antara empat seniman, dua orang merupakan seniman dengan fotografi sebagai medium utamanya yaitu Angki Purbandono dan Lovis Ostenrik, sementara dua yang lain merupakan seniman dengan medium lukis, yakni Andy Dewantoro dan Tommy Aditama Putra.
Karya yang diciptakan Angki Purbandono adalah imaji digital yang diciptakan dengan teknik scan. Teknik ini sudah ia kembangkan selama lebih dari 3 tahun belakangan. Gagasan utamanya, bersumber dari identitas kesenimannya sebagai seorang fotografer, ia ingin mempertanyakan kembali relasi antara diri(nya) dengan kamera, antara mata dengan lensa, antara otak dengan alat. Teknologi digital telah membawa banyak perubahan penting dalam perkembangan fotografi, terutama mengenai pembahasan yang beredar di seputar keaslian citra gambar, karena komputer bisa menyempurnakan semua imaji yang dihasilkan oleh seorang fotografer. Gambar juga dapat diciptakan dari banyak sumber, melalui berbagai program yang disediakan oleh komputer.
Dari situ, secara kritis Angki mengajukan pertanyaan, apakah kemudian identitas fotografer selalu merujuk pada kamera sebagai alat? Jika seorang seniman meninggalkan kameranya, apakah ia tetap dirujuk sebagai fotografer? Melalui teknik pemindaian ini, Angki tidak lagi memerlukan kamera. Subjek benda dipindah langsung di atas mesin, lalu arsip digitalnya inilah yang posisinya disamakan dengan hasil jepretan kamera digital. Di luar situasi bahwa seni bisa menjadi apa saja, melampaui definisi dan kategori, apa yang dilakukan Angki menjadi penting untuk dicatat dalam konteks perkembangan fotografi di Indonesia.
Menariknya, menelusuri relasi antara fotografi dan lukisan, karya-karya Angki menunjukkan bagaimana imaji digital dihasilkan layaknya sebuah lukisan. Ia mengambil objek sehari-hari yang telah disusun dan dipermainkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kolase objek dengan makna dan komposisi baru. Sementara ia sendiri tidak mengolah hasil scan itu secara digital. Warna-warna dibiarkan sebagaimana aslinya. Sebagian besar subjek yang dipakai Angki adalah benda sehari-hari yang akrab dengan manusia, mulai makanan, buah-buahan hingga mainan. Dalam seri buah-buahan, misalnya, sebagaimana para pelukis surealis, Angki menjadikan buah itu seolah-olah sebagai lanskap bagi objek yang lain.
Untuk pameran ini, Angki membuat seri kaleng Coca Cola. Objek ini merupakan benda temuan yang biasanya ia bawa dari perjalanan ke beberapa tempat, misalnya dari Indonesia, Korea, atau Malaysia. Ia melihat bahwa ada varian visual yang menarik untuk didokumentasikan dari kaleng coca cola. Secara umum, ketiga imaji yang ditampilkan dalam lukisan nyaris sama, tetapi sebagaimana ditemukan dalam lukisan, dengan sudut gambar yang berbeda, juga dengan rekaan tekstur atau komposisi, maka citra visual sebuah objek menjadi berbeda pula. Diambil langsung dari objek trimatra, penonton dapat melihat jelas (bahkan menjadi sangat ekstrem dengan pembesaran yang dilakukan), tiap lekukan yang membentuk tekstur dari masing-masing kaleng.
Sementara Lovis Ostenrik, berbeda dengan Angki tertarik untuk menjadikan tubuh manusia sebagai subjek gagasannya. Selama setahun belakangan, ia menggeluti proyek citra tubuh para penari dengan gerakan melompat, yang ia beri judul sebagai proyek “momentum”. Dalam seri ini, Lovis ingin menampilkan tubuh manusia yang sedang bergerak sebagai manifestasi dari gravitasi alam. Tubuh adalah simbol fisik dari eksistensi manusia sebelum akhirnya ia diberi makna-makna lain baik dalam perspektif sosial, politik, ekonomi maupun seni. Karena itulah, Lovis menampilkan tubuh-tubuh manusia dalam keadaan yang paling polos, telanjang. Ia juga memberikan penekanan khusus pada efek bayangan, yang menjadi subjek sekunder yang penting dalam karya Lovis.
Berhadapan dengan subjek yang hidup dan bergerak, Lovis menghadapi tantangannya sebagai fotografer karena gerak manusia, sesuatu yang ingin ia tangkap melalui lensa kamera sangat berbeda satu sama lain. Ketika ia mempunyai bayangan tertentu atas imaji visual yang dibentuk oleh tubuh sang model, hasil yang ia dapatkan bisa menjadi sangat berbeda karena interpretasi personal subjek. Di sinilah, fotografi menunjukkan adanya jarak antara seniman dengan subjeknya, antara mata dengan lensa, antara yang nyata dan yang ditampilkan.
Latar karya Lovis yang putih bersih, dengan subjek yang sederhana dan minimal, mengingatkan saya pada kanvas lukisan. Komposisi, cahaya, warna, dan elemen-elemen visual yang mendasar diolah melalui teknologi kamera dan penyesuaian dengan program olah gambar di komputer. Kamera dan program inilah yang menggantikan posisi cat dan kuas dari seorang pelukis. Lovis bekerja dengan perencanaan yang cukup detail ketika ia membuat sesi pemotretan, sehingga prosesnya dapat disamakan dengan pembuatan sketsa para pelukis.
Dari ranah lukisan, sebagaimana dua fotografer di atas, masing-masing merepresentasikan subjek manusia dan subjek benda. Andy Dewantoro sudah melakukan studi penciptaan kembali atas lanskap perkotaan yang sumber citra visualnya sejak tiga tahun terakhir. Belajar di jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung, wajarlah jika Andy tertarik pada isu tentang tata kota dan rancang bangun. Ia juga senang mengambil gambar lanskap kota ketika sedang melakukan perjalanan-perjalanan ke berbagai tempat. Meski demikian, tidak semua citra fotografis yang menjadi basis penciptaannya merupakan hasil dari perburuan dengan kameranya. Sebagian imaji-imaji itu ia temukan melalui internet, majalah, buku perjalanan, dan banyak sumber lain. Kemudian, beberapa ikon dan landmark ia gabung-gabungkan dengan teknik kolase membentuk satu citra baru di atas kanvas.
Ketika dipindahkan ke atas kanvas, gambar-gambar itu menampilkan dengan kuat kesan atas kota industrial yang dingin, sepi, dan seperti tak manusiawi. Andy tidak tertarik untuk menempatkan subjek manusia di dalam citra yang diciptakannya, tetapi, dengan cara tertentu, terutama melalui pilihan warna monokrom, justru lukisan-lukisannya bisa dengan jelas menggambarkan bagaimana situasi manusia yang terasing di tengah gempuran pembangunan gedung-gedung tinggi dan kokoh serta jalanan yang megah dan massif.
Pada karya Andy, imaji fotografis memang ditempatkan sebagai titik pijak, yang jejaknya masih terasakan dengan cukup jelas. Akan tetapi, eksekusinya dalam lukisan menyebabkan suasana ekstrem atas industrialisasi yang mengubah relasi manusia dengan alam dan semesta bisa dieksplorasi dengan lebih maksimal. Gedung dan jalan raya yang menjadi subjek utama lukisan-lukisan Andy, ditautkan dengan ilalang, pepohonan atau langit malam, sehingga bisa dirasakan bagaimana beton-beton itu diciptakan seperti menjadi semesta baru manusia.
Tommy Aditama Putra mengolah tema dan kecenderungan yang belakangan menjadi populer dalam seni kontemporer Indonesia, yaitu potret diri. Sebagaimana beberapa seniman yang sudah melakukan jelajah atas tema yang sama, Tommy mengeksplorasi gagasan personalnya atas dunia dan merepresentasika pandangan itu dengan menghadirkan sosok tubuh dan wajahnya dalam karya, dengan menggabungkan dengan konteks lain yang lebih besar di luar dirinya. Salah satu tema yang sudah dikerjakannya dalam beberapa waktu belakangan ini adalah merefleksikan gagasan keseniannya dengan gagasan kesenian dari seniman-seniman senior seperti Agus Suwage, FX Harsono, dan RE Hartanto, yang juga mengolah imaji tentang potret diri. Pada saat yang lain, ia juga mengolah citra atas tokoh-tokoh lain, seperti yang dipamerkan kali ini, Bung Tomo. Dengan bahasa visual yang penuh humor, ia memplesetkan menjadi identitas dirinya, “Bung Tommy”, sebuah cara yang unik dan personal untuk berdialog dengan sejarah.
Dengan demikian, ada beberapa citra fotografis yang dilampaui Tommy. Pertama-tama, ia mempelajari gambar dari tokoh atau konteks yang sedang ingin ia jelajahi. Kedua, ia membayangkan atau merancang citra dari representasi diri sendiri yang ingin ia tampilkan. Lalu, membuat gabungan dari kedua citra tersebut menjadi satu imaji baru. Barulah kemudian ia memindahkan imaji tersebut ke atas kanvas atau kertas, sebagian besar dengan carkul.
Karena sebagian besar imajinya dibuat dalam warna hitam dan putih, memindahkan gambar foto diri ke atas kanvas dengan latar belakang yang minimal dan cenderung gelap, memunculkan efek dramatis dalam karya Tommy, terutama yang ditampilkan melalui goresan carkulnya.
******
Seluruh proses yang dilalui oleh masing-masing seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana ada banyak lapisan dari proses menyerap persepsi visual dari seorang individu. Mata bekerja dengan banyak penyaring, memilih dan menyeleksi citra visual yang bisa masuk ke dalam kotak ingatan. Karena lahir dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, citra fotografis, selain juga citra-citra dari gambar bergerak seperti dalam layar televisi atau film, menjadi sesuatu yang meneror indera pelihat kita.
Dengan mengolah kembali imaji fotografi, atau, sebaliknya, menimba gagasan visual dari lukisan, para seniman membantu kita untuk berjarak dengan kenyataan sehari-hari, dan melihat subjek dengan satu sudut pandang yang sama sekali lain. Transformasi gagasan dari satu media ke media yang lain, dari teknik tertentu ke teknik lain, membuat sebuah citra visual punya kesan dan makna yang tidak lagi sama. Ada ilusi-ilusi visual yang ditawarkan melalui distorsi kenyataan, baik melalui komposisi, bebayang, warna dan goresan, adalah sebuah cara untuk menggarisbawahi apa yang tidak biasa dari persepsi visual yang kita cerap. Karya-karya seperti dalam pameran ini, sedikit banyak memunculkan pertanyaan tentang sesuatu yang kita anggap sebagai bagian wajar dari keseharian kita (buah, jembatan kota, tubuh, atau wajah diri), karena ia dipresentasikan dengan sudut pandang berbeda, yang kadang membetot emosi karena terasa dramatis, melankolis, liris dan juga ironis.
  In the broad contemporary visual art world of Indonesia, the abstract painting has been somewhat marginalized, treated perhaps as if not relevant in today’s world. Most exhibitions are dominated by pop-art, comic style, realism/neo-realism, or new media arts. Given the above, Sardono Kusumo’s “The Choreography of Colors” is quite distinctive. Secondarily it stands out because the artist is a well-known and legendary Indonesian choreographer.
In late 2005, Sardono W Kusumo started his new artistic phase by painting with oil on canvas. He was not new to the world of painting though. Some readers may remember that Kusumo participated in fine arts exhibitions in the 1970s, presenting sculptures as well painted works. For many years however, Kusumo’s main medium is dance.
About 4 years ago however Kusumo felt a rekindled passion to explore the possibilities of body movement through paint and canvas. He began spending entire days painting in his studio in Kemang, South Jakarta. Nearly 100 paintings were created during this period.
The exhibition is part of a celebration of the opening of a new area of Vivi Yip Artroom in Kuningan, South Jakarta. On the opening night, drawing upon his identity as a choreographer, Sardono created a site specific performance. By watching this performance, the audience feels an integration of dance and painting. Two female dancers, with oil paint all over their bodies move and dance on ten meters of canvas stretched on the floor. On the surrounding walls, ten paintings are displayed, mostly in large scale, 2 by 3 meters or sometimes, larger. The paintings are mostly colored dark, either blue or green, combined with few soft colors such as white, yellow or grey.
It is the idea to integrate body movement on a two dimensional surface that is strongly reflected in his paintings. In the exhibition room, one can see a video showin the process in which Sardono paints. This is a fascinating experience, a definitely interesting to see. Having watched him on the stage as a dancer, I reconnected my memories of this stage imagery when I saw the video. Usually he started the process by pouring the oil paints and water on his canvas, then he moved—both his body and his canvas—to create a spontaneous image yet full of surprises. His body moves intensively while he follows the wave of the paint. As Enin Supriyanto, the curator of the exhibition describes, Sardono now creates a choreography of colors.
Although he did not study painting, Sardono has a broad reference of visual art world, as some of his mates remember how he had been participating in this field in 1970s. Now, while creating his paintings, he is simply doing what his body tells him to do, no longer refers those books. He is using canvas and paint as new medium instead of the stage. To create a variety of style, he dares to try new techniques and he recognized immediately the effect of his movements on the visual image.
Sardono has never use brushes to create a painting. Mostly he applies the paint on canvas directly from his fingers, or sometimes from the tube. As if he dancing, he moves his fingers in variety of possibilities; spattering on the paint in random paths, to put paint on his palm and put on the palm to canvas in order to make up a certain pattern, or even just to paint with fingers circling. “Having used my fingers for years to dance, it is easy for me to predict how big the energy spread out from a movement, then I can imagine to how far the paint will be.”
The above statement is quite unique in the world of painting. We could say that it is truly something that separates Sardono from other visual artists. For more than 30 years, Sardono Kusumo has performed as a choreographer and dancer in many different countries and he studied movement of many indigenous cultures. He learned that body is the center of human creativity. I think, that is the perspective we should take in appreciating his works in this exhibition. Instead of using the formal indicator in visual art world, we need to move beyond the borders and look on how an artist evolved over time and never stopped exploring new ways to manifest his creativity.
We might do not see his painting works as good ones, but however, we have to underline this is part of his experiment in doing something new. It is the curatorial concept that should clarify this context and position, to put on the right place the relevancy of his experiment to our multidisciplinary art scene (Enin has mentioned some of these matters though in his curatorial notes, need more explanation though). But the display of exhibition itself should be less formal than usual painting exhibitions, since it is the spirit of experimenting that needs to be underlined. Instead of put the paintings on the wall tidily, I thought it would be more interesting to display the atmosphere of a studio. Video documentations that compare the process of his painting and his choreography would be also very helpful for the audience so that they can get enough source to see ideas to integrate dance and painting. We could also be part of the experiments rather then seeing something fixed and done.   Petualangan Prajurit Jawa di Singapura Karya-karya tentang Jawa itu tak henti-hentinya bertualang. Saya mengamati bahwa barisan prajurit itu telah pergi menjejakkan kaki di berbagai tempat di dunia; barangkali hanya benua Amerika saja yang belum dipijaknya. Tahun ini, setelah menghabiskan petualangannya di beberapa pameran kelompok di Australia dan Asia, serta mengikuti Biennale di Austria dan Lyon di Eropa, para prajurit itu berlabuh di Singapore. Agustinus Kuswidananto yang kerap disapa sebagai Jompet, seniman pencipta barisan prajurit itu, mengatakan bahwa inilah pameran terakhirnya yang memajang seri karya “Java’s Machine”. Jompet diundang untuk menggelar pameran tunggal di Osage Gallery Singapore, salah satu galeri yang paling mapan di Asia sekarang ini, pada November 2009 hingga Januari 2010 nanti. Kurator galeri ini, Eugene Tan, pertama kali tertarik melihat karya Jompet ketika ia menghadiri Jakarta Biennale 2009. Dan keputusan untuk membawa karya ini ke Singapore ternyata cukup tepat; sambutan publik Singapore cukup bagus, terutama karena sedikit banyak berbagi pengalaman yang sama tentang kolonialisasi dan sinkretisme beragam kebudayaan. Gagasan karya Jompet tentang sinkretisme yang membentuk Jawa, yang pada karya-karyanya yang lalu diwujudkan dengan barisan 15 prajurit berkostum lombok abang, khas keraton Yogyakarta, untuk pameran kali ini dikembangkan terutama menggali lebih dalam sisi spiritualitas. Masuknya agama-agama ke tanah Jawa, selain ditandai dengan berbagai peperangan dan penggulingan kekuasaan, juga diimbangi dengan asimilasi dan akulturasi dari beragam kebudayaan yang dulunya ada, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang dulu belum dikenal sebagai agama, dan juga pengaruh modern dari kolonialisasi. Ruang pamer dibuka dengan karya menarik, “The New Myth for the New Family”, berbentuk pohon tanpa daun yang dipenuhi dengan binatang semacam serangga. Serangga ini tanpa henti mengepakkan sayapnya, dengan dengung suara yang membuat ruang kecil itu jadi terasa mencekam. Jika diperhatikan, setiap serangga itu ternyata memiliki identitas (semacam gantungan nama yang banyak dipasang pada binatang piaraan) masing-masing. Hampir seratus serangga itu dipasang tidak dengan acak. Sesungguhnya Jompet sedang menggambarkan sebuah pohon keluarga (family tree) yang melacak hubungan keturunan dari Nabi Adam hingga Raja Mataram pertama. Dari pelacakan mengenai raja-raja dan sejarah Islam di Jawa, ternyata ditemukan mitos tentang bagaimana sebelum diterima secara luas dan menjadi agama resmi masyarakat, mereka membutuhkan mitos yang dapat menggambarkan relasi Raja, Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya sebagai satu keturunan. Di bawah pohon itu, disebarkan daun-daun kering kecoklatan yang membuat citra visual menjadi lebih puitis. Dengungan serangga sendiri menjadi musik yang kontemplatif bagi karya ini. Di ruang pamer utama, Jompet menggelar karya “Ghost of War” series di mana kelima belas prajurit berdiri dengan posisi yang menyebar. Beberapa dari mereka membawa drum, sementara yang lain memanggul senjata, dengan lampu yang menyala dari tubuh mereka. Instalasi ini dihubungkan dengan dua video, yang pertama menunjukkan seorang pemuda setengah telanjang menari sambil membawa pecut, sementara video yang kedua menggambarkan situasi yang sama, dengan latar belakang di sebuah pabrik gula. Di antara para prajurit itu, tampak “sosok” seorang raja, dengan pakaiannya yang gemerlap, kain batik motif khusus raja dengan kerlip emas, dan mahkota yang tegak. Dihadapannya, Jompet memajang empat pasang sepatu boot berbahan kulit untuk perempuan yang diatasnya terlindung oleh tiruan atap masjid dalam ukuran yang kecil, terbuat dari aluminium. Karya ini berjudul, “Marry Us”. Jompet menggambarkan dengan simbol-simbol yang penuh makna tentang bagaimana perkawinan dua tradisi yang berbeda, antara Jawa dan Islam, melalui pula proses “peminangan”, di mana janji-janji dan harapan baru didengungkan. Kemudian, di sudut yang lain, Jompet memajang karya video tentang orang-orang yang menunggu dan berjaga pada sesuatu yang baru yang akan datang memasuki hidup mereka. Orang-orang itu dimunculkan sebagai bayangan, seperti prajurit yang membawa tonggak sebagai penanda. Langit biru dan bayangan hitam adalah imaji utama dalam karya video ini, tetapi elemen penting lain adalah teks. Melalui alat pendengar, pengunjung bisa mengikuti percakapan antara dua orang, lelaki dan perempuan, tentang orang-orang yang menunggu entah apa. Bisa jadi perang, bisa jadi kebudayaan baru, bisa jadi sistem baru, atau penguasa baru. Dalam pandangan saya, beberapa karya baru yang ditampilkan pada pameran di Singapore ini, beranjak dari pameran Java’s Machine sebelumnya, Jompet memberi penekanan lebih pada aspek negosiasi antara praktik budaya dan politik dengan agama (meskipun secara luas agama sendiri merupakan bagian dari budaya), ketimbang pada isu pertemuan Jawa dengan modernisasi dan gagasan-gagasan Barat sebagaimana karya yang diciptakan setahun lalu. Simbol-simbol tentang Islam yang dimunculkan pun lebih Islam yang dihidupi oleh praktik keseharian masyarakat di kultur pinggiran atau agraris, bukan simbol Islam yang bercitra “murni” atau “modern”, misalnya pada video tentang lagu-lagu shalawatan, atau adaptasi dari nama-nama Arab menjadi nama berbau Jawa yang ditempelkan pada serangga di karya pohon keluarga tadi. Sebagaimana petualangannya di beberapa tempat lain, karya-karya Jompet dalam pameran di Singapura ini mendapat sambutan sangat baik dari pengunjung. Di luar bentuknya yang secara visual yang mudah menarik perhatian, beserta berbagai kejutan yang dimunculkan oleh teknologi sederhana yang menjadi ajang bermain-main senimannya, barangkali mereka sendiri juga diingatkan untuk melacak lagi jejak dari lintasan-lintasan berbagai budaya yang berbeda yang sekarang ini menjadi fondasi mereka sebagai sebuah bangsa. Alia Swastika
| |